KENALKAH JENIS KONSERVASI ?

Rabu, 28 Oktober 2015

Menggali Potensi dari Keterpurukan Pembangunan wilayah Desa Siliwangi Kecamatan Singkut Kabupaten Sarolangun Jambi

           Yuni Ismiyana
          114130177


Sarana prasarana pada suatu wilayah tidak hanya menunjukkan kemajuan atau perkembangan suatu wilayah, namun juga sebagai penunjang perkembangan wilayah itu sendiri. Perkembangan pada suatu wilayah memang tidak hanya dapat diukur dari sektor pembanguanan atau kelengkapan fasilitas yang ada, tapi perekonomian daerah tersebut termasuk p erekonomian masyarakatnya juga menjadi tolak ukurnya.
Taman Air Desa Siliwangi
Desa Siliwangi Kecamatan Singkut Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi merupakan salah satu wilayah yang berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara yang memilki sumber daya yang melimpah, tidak hanya sumber daya alam, namun juga sumber daya manusianya. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berupa negara kepulauan memiliki keberagaman, termasuk dalam hal perkembangan wilayahnya.
Pembangunan fasilitas umum terkadang mencerminkan kondisi perekonomian daerah itu sendiri. Namun opini tersebut tidak berlaku pada Desa siliwangi. Desa yang berkontribusi cukup besar dalam hal perekonomian daerah. Kontribusi tersebut diwujudkan dalam bentuk besarnya pajak daerah maupun peningkatan pendapatan masyarakatnya. Mata pencaharian masyarakat setempat tidak hanya sekedar menjadi petani,seperti pada desa-desa lain pada umumnya, namun sebagian besar juga bergerak dalam bidang industri kerajinana tangan seperti genteng dan batu bata. Hal ini yang menyebabkan daerah tersebut dikenal sebagai sentra industri genteng dan batu bata. Keberlangsungan kegiatan industri tersebut juga tidak terlepas dari peraturan daerah yang mengikatnya, misalnya besarnya pajak yang harus dipenuhi, surat izin usaha, dan lain sebagainya.
Meskipun Desa Siliwangi mematuhi kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat, namun fasilitas penunjang yang menjadi hak masyarakant dan para pengusaha industri sebagian besar masih belum terpenuhi. Selama berpuluh tahun desa tersebut hidup tanpa cahaya lampu pada malam hari, karna tidak ada aliran listrik. Hingga saat mencapai titik jenuh, masyarakat berusaha untuk memperoleh aliran listrik dengan menggalang dana sendiri. Aliran listrik yang resmi dari pemerintah baru di peroleh masyarakat pada tahun 2012. Kondisi tersebut diperparah dengan kondisi jalan, karena sejak tahun 1994 hingga saat ini jalan yang menjadi arteri perekonomian masyarakat tidak kunjung dibangun. Jalan yang saat ini dilewati oleh masyarakat merupakan jalan swadaya masyarakat yang dananya diperoleh dari hasil iuran.
Kondisi Lingkungan Desa siliwangi
Desa Siliwangi memiliki banyak keunikan yang tersimpan, salah satunya karena daerah ini merupakan daerah sentra industri genteng dan batu bata terbesar di Jambi. Bukan hanya hasil industrinya, namun kolam-kolam yang terbentuk dari pengambilan tanah sebagai bahan baku produksi juga menciptakan keunikan tersendiri. Kolam-kolam banyak dijumpai di wilayah ini dan banyak dibiarkan begitu saja hingga tertutup oleh lumpur, mapun sampah-sampah organik dari tumbuhan yang hidup di kolam tersebut.
Revitalisasi pada wilayah ini sangat dibutuhkan, terutama pada fasilitas yang mendukung perkembangan wilayah tersebut. Apabila fasilitas umum tersebut telah terpenuhi maka kawasan ini dapat mengembangkan potensinya berdasarkan kondisi lingkungan yang ada. Kolam yang menjadi kubangan-kubangan air hasil produksi industri genteng dan batu bata dapat digunakan sebagai kolam ikan, yang sekaligus dapat digunakan sebagai kolam pemancingan. Menurut Marimbo (2007), Pemancingan ikan ternyata berkembang pesat dalam kurun waktu lima tahun, omset perhari mereka rata-rata Rp 1-2 juta, sedangkan sabtu dan minggu meningkat Rp 15-25 juta/ hari. Peluang bisnis yang dijanjikan dari pemanfaatan kola mini tentu perlu dipertimbangkan mengingat masih banyaknya kolam yang melum dimanfaatkan secara optimal di kawasan tersebut.
Bentuk dan kedalaman kolam yang beragam sehingga perlu diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok sesuai dengan perancangan pemanfaatan kolam. Hal ini dikarenakan selain dapat ditanami ikan dan untuk pemancingan. kolam-kolam tersebut juga dapat digunakan sebagai arena out bound, yang dilengkapi dengan kolam lumpur di sekitar kawasan tersebut. Kolam yang dijadikan outbound harus di perhatikan pula kondisi keamanannya. Dengan adanya arena outbound diharapkan kolam yang tadinya hanya menjadi kubangan air, dapat bermanfaat untuk edukasi sesuai dengan tujuan utama outbound yang diselenggarakan. Tujuan outbound pada umumnya untuk melatih kerjasama tim, melatih jiwa kepemimpinan, dan lain-lain. Menurut Syaifudin (2013), kebutuhan manusia untuk selalu menikmati hidup dengan melakukan liburan ketempat-tempat natural juga membuat wisata outbound ramai dikunjungi wisatawan. Hal ini juga menjadi pendorong untuk memanfaatkan kolam tersebut sebagai wahana outbound.
Sarpras Pelengkap Desa Siliwangi
Kolam yang tersedia juga dapat digunakan sebagai taman air, sehingga menarik untuk dijadikan sebagai penyegar mata bagi pengunjung pemancingan maupun pengujung yang sedang mengikuti outbound. Menurut Hanum (2013), Tanaman utama yang biasa ada di taman air adalah water lily (teratai) dan deepaquatic lainnya seperti lotus. Dalam perencanaan taman air ini, penggunaan tanaman teratai sebagai tanaman pengisi kolam yang akan menciptakan suasana segar dan indah. Pemandangan bunga teratai akan menimbulkan kesan kenyamanan sehingga menjadi obat dari kepenatan rutinitas sehari-hari. Selan itu, lokasi tersebut juga sebaiknya dilengkapi oleh saung (rumah-rumahan) kecil untuk menambah nuansa asri taman air tersebut. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan fungsi kolam yang sebelumnya kurang bermanfaat. Namun hal ini juga tidak terlepas dari peran serta pemerintah untuk memperbaiki fasilitas umum, terutama jalan. Karena dengan kondisi jalan seperti saat ini keindahan dan potensi yang ada pada desa ini tidak dapat di nikmati oleh masyarakat. Selain jalan, saluran air yang buruk pada daerah ini menyebabkan banjir yang sering terjadi saat musim hujan turun, sehingga memerlukan perhatian pula pada kondisi penyaluran air di kawasan tersebut. Karena dengan terjadinya banjir, banyak aktifitas  warga yang tergenggu, misalnya saja anak sekolah yang terhambat akibat jalan yang akan dilauinya tergenang air.
Revitalisasi semacam ini tidak hanya menguntungkan para pemilik kolam dan lahan outbound saja, tapi masyarakat sekitar juga memperoleh manfaatnya. Masyarakatsekitar dapat membuka lapangan kerja sendiri, dengan menjual makanan, maupun hasil kerajinan tangan lain yang dapat dikembangkan lagi selain genteng dan batubata, misalnya gerabah, patung, dan lain-lain. Kerajinan tangan tersebut justru akan menjadi buah tangan yang khas bagi para pengunjung. Kawasan tersebut juga menjadi kawasan yang mengenalkan adanya sentra industri kerajinantangan yang cukup besar yang dapat dijadikan sebagai area pembelajaran, menambah pengalaman, serta meningkatkan potensi penjualan yang lebih luas. Namun, meningkatnya pembangunan dan taraf hidup masyarakat dapat meningkatkan persaingan penggunaan ruang (lahan), sehingga sering terjadi konflik (Widiatmaka, 2007). Kondisi tersebut yang perlu diantisipasi untuk menghindari konflik-konflik yang akan terjadi seiring dengan rencana pembangunan kawasan tersebut. 

DAFTAR PUSTAKA
Hanum, Meivirina dan Chavela Murod. 2013. ”Desain Taman Air”. Jakarta: Griya Kreasi.
Marimbo, Rizal Calvary. 2007. “100 Peluang UKM Terdahsyat”. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Saifudin, Sahid. 2013. “Peluang Usaha Jasa Outbound”. Jakarta: Gamedia Press.

Minggu, 07 Juni 2015

REVITALISASI TELUK TAMIANG

    
OLEH
M.NIRWAN SURAHMAN
114120055
  
  Potensi besar wilayah kepulauan dan wisata bahari yang dimiliki kabupaten kotabaru tidak begitu berkembang dan belum mampu menjadikan wilayah Kotabaru sebagai tujuan wisata di Kalimantan Selatan. Selain itu potensi wisata bahari tersebut juga belum mampu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.

POTENSI WISATA TELUK TAMIANG
qPantai yang Indah
q Terumbu Karang Yang Masih Alami
q Pemandangan Dari Mercusuar
q Kawasan Budidaya Rumput Laut
q Kearifan Lokal 
q Budaya Masyarakat
q Air Laut yang jernih dan ikan yang beragam .

    Revitalisasi kawasan pantai teluk tamiang menjadi kawasan wisata terpadu diharapkan dapat menjadi salah satu tujuan wisata bagi wisatawan. Selain itu, dengan adanya revitalisasi ini pendapatan masyarakat akan bertambah dan kearifan lokal serta budaya di teluk tamiang dapat dilestarikan.


Reconstructing Heritage Yogyakarta Post Earthquake


Ikaputra


Yogyakarta Special Province Program


1.      Brief about Earthquake's History and Heritage Damage in Yogyakarta

Historically Yogyakarta’s region has experienced a significant seismic event for a period of every 60-75 years.  In the past 200 years, there were 3 vulnerable earthquakes. Those are in 1867, 1943, and 2006. The last vulnerable earthquake, in May 27, 2006, was occurred after 5 non-vulnerable earthquakes in 1981, 1992, 2001, 2004, and 2006. One can learn that the nearest the earthquake to the 2006’s vulnerable earthquake, the shorter the span in between two earthquake. This indicates the more frequent the earth plate was moving and shaking towards the significant seismic event. (see figure 1.) It was reported that in the earthquake 1867, 372 houses were collapsed and 5 persons were dead. However, the city landmarks so called “Pal Poetih” (“wittepaal=white pile) was ruined, the water castle “Taman Sari” was totally damage. Some of Sultan’s residents were also damaged. The resident huis of the Dutch colonial was also suffered from the earthquake. If the city land mark was reconstructed with new design that is nowadays known as “Tugu” (tower), the water castle remains ruins till now. The water was filled by the densely houses of families who used to be Sultan’s abdi dalems (a kind of civil servant in Javanese aristocratic system). The vulnerable earthquake in 1943 caused 2,800 houses damaged and 213 people were dead. No heritage building was reported damage.

Figure 1.  History Earthquake and Heritage Damage in Yogyakarta
(Analyzed & Modified from: http://www.pu.go.id/infopeta/RwnBanjir/bencana2006/3334gempasejarah.htm, in Ikaputra,
2009: 1)

In the Yogyakarta’s earthquake 2006, it was more than 300.000 houses collapsed, and 6,234 people were dead. It was reported more than 200 listed heritage in Yogyakarta special province have been damaged. Those figures were not to include the heritage damage of the Central Java province. The 2006 earthquake was believed to be the most vulnerable disaster in the Yogyakarta’s history.

2.      Yogyakarta’s Heritage Vulnerability in the Earthquake 2006

Yogyakarta has been developed a government program called “KCB” or Kawasan Cagar Budaya (Cultural Heritage District) since 1995. The districts of cultural heritage contain number of architectural heritage and artifacts, intangible cultures such as a place for batik makers (traditional painting clothes), silver craft, and other artworks. All 4 regencies (Kabupatens) and city of Yogyakarta Special province have listed 1,233 heritages. According to a report of Kondisi Umum Kekayaan Budaya DIY: 2007 (A General Condition of Cultural Property of DIY: 2007), around 91 % (1,132) of the cultural properties were in good condition before earthquake. It was decreased after the earthquake. It becomes 74.29 % of listed properties are in good conditions after earthquake. It means the damage cultural properties increased from 9 % to 25.71 %, from 111 damage cultural properties (existing) to 317 damage one post earthquake. The damage heritage increased more than 3 times. The detail data of the five districts and city in the province can be understood from the following graphic (see figure 2):

Figure 2. the Heritage Condition Pre-post Earthquake in DIY
(Analyzed & Modified: Kondisi Umum Kekayaan Budaya DIY: 2007 in Ikaputra, 2009: 2)

There are at least four types of architectural heritage that had damage in the earthquake 2006 even. Those are Temples, Kraton or Sultanate palace and its surrounding, colonial buildings, and the Javanese traditional architecture. They have specific problem concerning “non-surviving” part of their architecture in anticipating the last earthquake.

Temple (candi) is among others heritage which has a high degree of irreplaceable and antiquate. The candi Prambanan’s compound, candi Plaosan compound, candi Sewu, candi Sojiwan were on the list of damage temples by the earthquake. The 1991’s World Heritage Temple, the Prambanan temple’s compound, suffered the worst damage comparing others. In the Yogyakarta Palace (built in 1775), although some of building within the palace were constructed using iron casted structure, most of buildings and houses were built from wooden structure and brick constructions. Most wooden structures of many traditional house and buildings were survived during the earthquake, but the palace's Bangsal Trajumas—the grandeur wooden open pavilion was collapsed on a sacred set of gamelan instruments.
Meanwhile the Colonial architecture which could represent a value of artistic monumentality from the Dutch, structured by the bricks bearing walls type. This type of structure is very critical to resist from lateral forces resulted by earthquake. The thickness of walls and the location towards the active fault gave influence to the type of damage from wall cracks to totally collapsed walls.
The representative Javanese traditional architecture which can be found in rural and urban area is called  “dalem”. Most of dalems has Joglo type of architecture. The Joglo type was built with wooden structure supported by the main four pillars in the middle called “soko guru” and 12 smaller pillars at the periphery. The soko guru and other pillars stood up at upper ground type foundation so called umpak. The four soko guru were connected rigidly at the upper parts by tumpang sari—multi-frame beams constructed one on the top of the other by interlocking and overlapping system. This very rigid tumpang sari supports the upper part of Joglo roof. The integration of umpaks-soko guru-tumpang sari formed a core structure known as “rong-rongan.” (Prihatmaji, 2007: 5) It is believed to be the strongest part of Joglo in stabilizing the effect of ground shaking because of its rong-rongan construction rigidity and weight. (see figure 3. Joglo Structural Parts)
Figure 3.  The Joglo Structural Parts & Joglo damage Typology

Although theoretically, the Joglo has strong system structure to anticipate the earthquake, the critical parts lie on the connection between the umpak and the soko guru or peripheral pillars, between the soko guru and the tumpang sari, and between the peripheral pillars to beams above them. The Javanese connection details are weak to anticipate the lateral forces. (Frick, 1997: 163-164 in Prihatmaji, 2007: 3) Through observation of collapsed and damaged Joglos suffered from the Yogyakarta’s earthquake 2006, we found several cases which can be understood from the following diagrams: (see fig. 3. Joglo)


3.      The Proposed Priority for Heritage Post Earthquake

The Heritage Supports Post Disaster usually becomes in low priority comparing to humanitarian aids. It is recommended that all possible anticipations to safeguard the heritage towards future disaster especially earthquake are to include at long term planning and implementation. The long term disaster preparedness program for heritage has been embedded into the government program of conserving cultural heritage since 2008—two years after the house and public buildings reconstruction post earthquake 2006. The various type of heritage can be managed differently as case by case, but most of privately owned heritage properties are usually in critical situation. The proposed priority consists of:

-     School Retrofitting Program for Colonial Building Heritage
-     Traditional Architecture Heritage Reconstruction for Historic Noble’s Residences

School Retrofitting Program for Colonial Building Heritage
The weakness of Colonial Building Heritage is the main structure—the bricks bearing walls type. This type of structure is very critical to resist from lateral forces resulted by earthquake. The thickness of walls and the location towards the active fault gave influence to the type of damage from wall cracks to totally collapsed walls. There are still many colonial building heritage complexes functioned as public facilities especially schools.  Most of damage heritage schools have been repaired by the institution owner (who can be state or private ownership). However, the existing schools with the colonial building type still have the weak structure to anticipate the future earthquake. Since 2008, the provincial government has promoted “School Retrofitting Program” for Colonial Building Heritage which is aimed to not only safe the cultural assets but also to secure pupils and teachers from damage when the coming earthquake occurred. The undergoing School Retrofitting Program for Colonial Building Heritage in 2009-2010 has selected Margoyasan and Ngupasan Elementary Schools. The propose school currently to be retrofitted is BOPKRI I Yunior High School, SMP Negri IV, SMP Negri 8, SDN Ungaran, SMA Negeri III, SDN Ponjong  Gunung Kidul, etc.

Figure 5. School Retrofitting Program for Colonial Building Heritage 


Traditional Architecture Heritage Reconstruction for Historic Noble’s Residences
The most representative of Javanese traditional architecture is “dalem pangeran” or noble’s residences. The “dalem pangeran” is defined as a primary structure of the Historic Urban Yogyakarta. Javanese Noble's Residences were located throughout historic urban Yogyakarta both inside and outside of the palace fortifications. The growth of those princely residences in Yogyakarta was very much similar to that one of castles in European history. The more aggressively the town asserted claims of self-governance, the wiser it was for the prince to keep his castle at the periphery of the town. (Kostof, 1992; 77) The spread of dalems or noble residences grew toward outside fortifications expanding the king's power and creating a new edge for city defense. (Fig. 1.)

Figure 6. Distribution of Noble’s Residences (red mark) in Yogyakarta
(Source: Ikaputra, 1995;133)

The dalem is representative of Javanese traditional architecture. Its architecture is easily distinguished from that of the less formal structures of the surrounding environment. The need of those noble residences to be reconstructed after the earthquake is not only to preserve the historic architecture and value of dalems as the Yogyakarta’s urban primary unit, but also to sustain them as a community living place in the urban historic Yogyakarta from future Earthquake. Among noble’s residences which suffered from the earthquake is dalem Brontokusuman, dalem Mangkubumen, dalem Kumendaman, dalem Jogonegaran, dalem Nototarunan, dalem Notowinatan, dalem Sindurejan, etc.. The noble’s residence is a complex of combine function as Museum and living place for Aristocratic families and community. The Museum parts have been reconstructed, but the living place of this great traditional residence has not been repaired and retrofitted yet.

Figure 7. Noble’s Residences (dalem Pangeran) Damage

References

Frick, Heinz (1997) Pola Struktural dan Teknik Bangunan di Indonesia. (Building Structural Pattern and Technique in Indonesia). Yogyakarta: Penerbit Kanisius. (In Indonesian)
Ikaputra (1995) A Study on the Contemporary Utilization of the Javanese Urban Heritage and its Effect on Historicity. Doctoral Dissertation, Osaka University Japan.
Ikaputra (2009) Reconstructing Heritage Post Earthquake. The case of Kotagede, Yogyakarta Indonesia. International Symposium on “Urban Risk Management for sustainable development in Historical Cities”, UNCRD-Hyogo  Kobe Japan, October, 14-17, 2009.
Prihatmaji, Yulianto P. (2007) Perilaku Rumah Tradisional Jawa “Joglo” Terhadap Gempa. (Character of Javanese Traditional House “Joglo” against Earthquake). Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 35, No. 1, Juli 2007: 1 – 12. (In Indonesian)
-------------- (2007)  Kondisi Umum Kekayaan Budaya DIY: 2007 (A General Condition of Cultural Property of DIY: 2007)