KENALKAH JENIS KONSERVASI ?

Tampilkan postingan dengan label KALIMANTAN TIMUR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KALIMANTAN TIMUR. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Mei 2017

GEOLOGI KAWASAN KARST UNTUK PENGEMBANGAN GEOWISATA, KABUPATEN KUTAI TIMUR, KALIMANTAN TIMUR

A.Latar Belakang
Topografi karst adalah bentukan rupa bumi yang unik dengan kenampakan atau fenomena khas akibat proses pelarutan dan pengendapan kembali CaCO3 diatas dan dibawah permukaan bumi. Selain itu, bentang alam seperti karst juga dapat terjadi dari proses pelapukan, hasil kerja hidrolik misalnya pengikisan, pergerakan tektonik, pencairan es dan evakuasi dari batuan beku (lava). Karena proses utama pembentukanya bukan pelarutan, maka bentang alam demikian disebut pseudokarst (Milanovic, 1996). Sementara itu karst yang terbentuk oleh pelarutan disebut truekarst. (Sari Bahagiarti, 2004).
Salah satu potensi yang ada di daerah karst adalah air bawah tanah yang tersimpan dlm bentukan morfologi karst, dimana batuan karbonat bertindak sebagai akuifer dengan jumlah penyimpanan air tanah yang melebihi akifer jenis lain. Air tanah merupakan salah satu unsur sumber daya alam (“Natural Resources”) yang sangat penting keberadaanya untuk kehidupan makhluk hidup (manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan) karena menunjang berbagai aktivitas kehidupan.
Maka dari itu pengoptimalan pemanfaatan dan perlindungan karst dengan pembagian daerah karst perlu diperhatikan untuk menunjang kelestarian daerah karst. Kawasan karst Sangkulirang perlu digali potensi yang terkandung di dalamnya dengan tetap memperhatikan kelestariannya, yaitu dengan menggali potensi estetika untuk dikembangkan menjadi aset geowisata.
Kalau kamu memulai perjalanan dari kota Samarinda, waktu tempuh dengan bus atau mobil carteran sekitar 8 – 9 jam dengan melewati jalan bekas perusahaan kayu, tepatnya melewati Sangatta dan Bengalon. Uniknya ekosistem tersebut membuat karst berpotensi terutama sebagai pemasok ketersediaan air tanah/air bersih,

B. Maksud dan Tujuan
Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah “Revitalisasi Kawasan Tambang”.
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengembangkan potensi daerah kars untuk pengembangan kawasan geowisata dan konservasi dalam kawasan Taman Nasional didaerah Sangkulirang, Kalimantan Timur.













A.Tatanan Geologi
          1. Fisiografi, Geomorfologi, dan Permasalahan
Lokasi dari Sangkulirang Mangkalihat ini pun dikelilingi oleh dinding-dinding terjal, gua bawah tanah dengan ukiran alam eksotis, serta perbukitan hijau, Keindahaan kelompok karst berukuran raksasa ini membenteng dari Kabupaten Kutai Timur hingga ke Kabupaten Berau. Kawasan ini punya luas mencapai 1,8 juta hektar,area ini memiliki kawasan ekosisten inti seluas 550.000 hektar, hal ini adalah aset bangsa yang sangat berharga karena memiliki nilai ekonomi, budaya, sosial, dan ilmiah.

Rencana perubahan sudah tertuang dalam RTRW Kaltim, Ada 1,8 juta hektare kawasan karst yang berada di dua kabupaten ini. Dalam draft RTRW Kaltim, hanya disisakan 99.000 hektare saja. Ini tentu akan merusak ekosistem yang ada di daerah itu, maka dari itu rencana untuk menjadikan rencana dijadikan kawasan Geowisata sangatlah dipersiapkan untuk menjaga kelestarian ekosistem dan memanfaatkan fungsi dan kelebihan dari terdapatnya kars Sangkulirang.
B. Rencana Revitalisasi kawasan bekas tambang, dan pengembangan Potensi Geowisata Daerah Sangkulirang
Daerah yang merupakan lahan bekas pertambangan pada daerah kars akan dikembalikan fungsinya karena apabila para kontraktor malah membuat suatu konstruksi bangunan permanen akan mengganggu fungsi wilayah tersebut, pada kasus ini daerah bekas pertambangan hutan akan direncakanakan kegiatan reboisasi hutan untuk mengembalikan lahan terbuka yang semulanya merupakan hutan, dan bukit namun angkat ditingkatkan kegunaannya menjadi lebih berdaya guna dalam minat pariwisata sehingga meningkatkan perekonomian sosial sekitar dan menjadi wisata ilmiah bagi wisatawan berminat khusus.
1. Komponen Abiotik
Komponen abiotik yang ada di kawasan pegunungan selatan merupakan kenampakan karst yang dapat dikembangkan menjadi obyek wisata. Bentukan alam karst berbeda dengan bentuk alam lainnya (non karst), karena kawasan karst memiliki komponen di atas permukaan tanah atau disebut Eksokarst, dan komponen di bawah tanah yang disebut Endokarst.
a. Wisata Pantai Karst
Pantai di kawasan karst mempunyai panorama alam yang sangat indah dibandingkan dengan pantai di kawasan non karst. Pantai ini mempunyai kelebihan pasir putih dan bukit-bukit di pinggir pantai yang sangat indah. Wisata ini dapat juga dikembangkan menjadi wisata minat khusus tentang petualangan, seperti susur pantai saat surut.


b. Wisata Susur Gua/Sungai Bawah Tanah
Gua merupakan kenampakan Endokarst yang dapat dikembangkan menjadi wisata minat khusus, yaitu susur gua bawah tanah. Gua karst mempunyai banyak potensi baik dari segi ornamen gua maupun flora fauna yang terdapat pada gua tersebut. Menurut hasil penelitian, kawasan karst ini memberi informasi tentang jejak manusia purba yang bisa dilihat dari lukisan tangan yang banyak disebut dengan gua lukisan 1000 tangan, gambar perahu, dan lukisan berbagai jenis binatang yang tergambar jelas pada dinding-dinding gua dan konon telah ada sekitar 10.000 tahun SM. Disini juga ditemukan tulang, wadah yang terbuat dari tanah liat, serta alat-alat yang terbuat daribatu.
c. Wisata Panorama Bukit Karst
Bukit karst atau karren merupakan fenomena bentuk lahan yang mempunyai ciri dan karakteristik yang lain dari bukit non karst. Pengembangan wisata bukit karst ini dapat dilakukan dengan membuat gardu pandang pada puncak bukit kars bekas tambang batu kapur  yang dapat melihat kenampakan morfologi karst dan penyediaan bangunan bangunan sementara khusus yg menyediakan makanan dan minuman bagi pengunjung pada puncak bukit .

d. Wisata danau nyandeng
Danau ini dapat ditempuh dengan perjalanan air menggunakan perahu selama 15 menit dan perjalanan darat melalui jalan setapak dengan berjalan kaki selama 15 menit. Danau Nyadeng seperti yang dapat dilihat pada gambar dibawah, memiliki kedalaman air sekitar 35 meter dengan warna air hijau kebiru-biruan.
e. Wisata Lembah Karst
Bentuk lahan karst selain bukit karst adalah lembah karst. Lembah karst dapat juga dikembangkan menjadi obyek wisata. Wisata lembah karst dapat dikembangkan baik dengan wisata umum maupun wisata petualangan.
2. Komponen Biotik
Komponen biotik yang terdapat di kawasan karst dapat dikembangkan sebagai obyek wisata. Komponen biotik yang dapat dikembangkan adalah keanekaragaman biota yang sangat indah, termasuk biota laut di wilayah pesisir laut kalimantan timur.
3. Komponen Culture (Budaya)
Budaya merupakan salah satu ciri yang dapat membedakan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Kawasan Sangkulirang mempunyai budaya yang sangat unik dan langka dan perlu dipertahankan. Kawasan karst Sangkulirang mempunyai berbagai macam peninggalan budaya. Banyak gua-gua bersejarah di kawasan ini. Gua-gua yang terdapat pada kawasan tersebut telah terbukti pernah menjadi pusat kegiatan masa lalu. Gua ini juga ditemukan benda-benda peninggalan masa lalu, gua ini disebut dengan Gua Arkeologi. Gua yang termasuk gua arkeologi adalah Gua Beloyot, Gua Keteban, Gua Kabila, Gua Harto, dan pembuatan bale ajar yang merupakan bangunan non permanen sebagai wadah pembelajaran bagi para pendatang tentang studi fisiografi,morfologi, dan sejarah kawasan sangkulirang, dan penyediaan warung makan yang merupakan bangunan non permanen sebagai media perekonomian bagi masyarakat setempat di puncak bukit yang telah dilakukan pembukaan lahan bekas pertambangan.




 A. Saran
Berdasarkan berbagai deskripsi di atas maka perlu pengembangan Geowisata di kawasan karst, selain akan meningkatkan pendapatan daerah, juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan melestarikan kawasan karst. Dalam pengembangan menjadi kawasan wisata maka perlu penambahan fasilitas umum.
DAFTAR PUSTAKA

Bemmelen, R.W, Van, 1970, The Geology of Indonesia, Vol.I.A, second edition, Martinus Nijhoff, The Hague
Jenings J,N, 1985, Karst Geomophology, Second edition, Brazil Blackwell Inc, New York
Latif, M.A, 2000, Kajian Geomorfologi Karst Mayor Antara Telaga Sanglen dan Kamal Kabupaten Gunungkidul DIY, Skripsi, Sarjana, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta
Purwoarminta, A.,2005, Potensi Akuifer di Sebagaian Cekungan Wonosari Kabupaten Gunungkidul DIY, Skripsi, Sarjana, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta
Riiter, D.F, 1979, Process Geomorphology, southern Illnuois University at Carbondale, Brown Co, Publisher Duque, Iowa
Verstappen, H.Th,. 1983, Applied Geomorphology, Geomorphology Survey for Environtmental Development, Elsivier, Amsterdam

Minggu, 12 Juni 2016

Revitalisasi Pantai Tanah Merah di Tanjung Harapan, Kecamatan Samboja, Kalimantan Timur




  By : Inggrit Karla Putri
114130015






Samboja merupakan sebuah Kecamatan yang terletak di Wilayah Pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Kecamatan Samboja memiliki luas wilayah mencapai 1.045,90 Km2 yang dibagi dalam 19 Kelurahan dan 4 Desa. Salah satu Kelurahan yaitu Tanjung Harapan memiliki pantai yang dikenal dengan nama Pantai Tanah Merah yang letaknya tidak begitu jauh terletak kurang lebih 14 km dari jalan raya Balikpapan - Samarinda.
•Jalan menuju kawasan wisata buruk
•Tidak terdapat fasilitas yang memadai
•Banyak sampah yang ditinggalkan oleh para wisatawan
•Sedikit pengunjung


Pantai Tanah Merah memiliki luas kurang lebih 8 ha. Pantai ini berpasir putih ditumbuhi pohon cemara yang tumbuh lebat memperindah pesisir pantai. Merupakan tempat yang sangat cocok untuk berekreasi atau berkemah sambil berburu kepiting dan memancing ikan. Tempat ini dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat.
Lokasi Pantai Tanah Merah

Namun, kondisi pantai Tanah Merah ini terlihat kurang terawat karena kurangnya perawatan dari pemerintah sehingga perlu dilakukan revitalisasi agar kawasan pantai ini menjadi lebih terpadu dan lebih menarik lagi untuk dikunjungi oleh wisatawan.
Menurut Joyosuharto(2000) bahwa pengembangan pariwisata memiliki tiga fungsi,yaitu :
1.      Menggalakkan ekonomi
2.      Memelihara kepribadian bangsa dan kelestarian fungsi dan mutu lingkungan hidup
3.      Memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa.

Untuk menjalankan ketiga fungsi tersebut diperlukan pengembangan obyek wisata dan daya tarik wisata, meningkatkan dan mengembangkan promosi dan pemasaran, serta meningkatkan pendidikan dan pelatihan kepariwisataan. Karena kawasan pantai ini kurang berkembang yang diakibatkan karena informasi yang sangat minim serta kurangnya tereksplor keindahan dari pantai ini. Selain itu juga disebabkan oleh keterbatasan fasilitas yang disediakan ditempat ini sehingga tidak dapat memenuhi keinginan pengunjung. Menurut (pendit,1999) unsur – unsur yang terlibat dalam pariwisata adalah akomodasi tempat tinggal, jasa boga dan restoran, beserta transportasi dan jasa angkutan, cinderamata, atraksi wisata.
foodcourt

Sementara itu kawasan pantai tanah merah ini belum terlalu diperhatikan oleh pemerintah setempat, sehingga sangat terbatas dari segi akomodasi tempat tinggal dan juga jalan menuju kawasan pantai tersebut masih dalam keadaan yang buruk karen masih berlubang dan cukup sempit, kawasan pantai ini juga cukup kurang dalam hal jasa boga dan restoran, transportasi dan jasa angkutan, atraksi wisata dan, souvenir. Sehingga perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut agar kawasan pantai ini dapat menjadi lebih baik lagi. Beberapa nilai-nilai potensial yang dapat dikembangkan dari Pantai Tanah Merah ini adalah keindahan dari pohon – pohon cemara yang ada disekitar pantai sehingga memberikan keindahan pantai. Sebagai tempat untuk membudidayakan kepiting bakau karena terdapat banyak kepiting bakau pada daerah pantai, dan juga dapat dijadikan tempat refreshing dari para pegawai perusahaan – perusahaan besar yang ada di daerah samboja.

Dalam upaya meningkatkan mutu dan kualitas pantai Tanah Merah untuk meningkatkan perekonomian desa Tanjung Harapan dilakukan beberapa revitalisasi dengan konsep pariwista dan edukasi yaitu dengan tetap mempertahankan keindahan pantai namun dengan perbaikan dan penambahan fasilitas, penerangan yang bagus, membuat dan merapikan tempat parkir agar masyarakat yang datang berkunjung tidak menaruh kendaraan sembarangan sehingga mengganggu pengunjung lain, membuat lahan untuk pedagang secara rapi, perbaikan jalan menuju tempat wisata, dan membuat beberapa area permainan untuk anak-anak. Kemudian untuk konsep edukasi yaitu dengan mengajarkan kepada para pengunjung tentang cara dan bagaimana dalam membudidayakan kepiting bakau dengan cara diternakkan atau ditambak yang lokasinya berada di pesisir pantai Tanah Merah.
Arena Edukasi

Pantai Tanah Merah adalah salah satu objek wisata yang ada di Samboja yang harus dipertahankan dan dilakukan revitalisasi yang kemudian bertujuan untuk dapat meningkatkan perekonomian desa, dan memberikan lapangan pekerjaan pada masyarakat sekitar. Peran masyarakat sekitar dalam proses revitalisasi ini sangat dibutuhkan karena masyarakat yang memiliki pengetahuan lebih tentang keadaan kawasan pantai tanah merah ini. Revitalisasi kawasan ini juga dapat menambah pendapatan daerah di sektor pariwisata, revitalisasi ini juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar baik dibidang ekonomi, sosial, maupun budaya dan masyarakat dapat terlibat langsung dalam pengelolaannya dan tidak menjadi penonton di daerah atau wilayah mereka sendiri.
  
DAFTAR PUSTAKA
Mitchell, Bruce. Setiawan, B. Rahmi, Hadi, Dwita. 2007. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan.Universitas Gajah Mada: Yogyakarta.
Rustiadi, Ernan, dkk. 2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Yayasan Pustaka Obor : Jakarta.


Kamis, 25 Desember 2014

KEGIATAN REVITALISASI KAWASAN PASAR TRADISIONAL TELUK LINGGA SANGATTA UTARA, KALIMANTAN TIMUR

NAMA            : SADAM HUSIN
NIM                : 114110051

Dimensi wilayah itu sangat penting dan merupakan faktor yang harus diperhitungkan dalam menganalisis dan menentukan dimana suatu program atau proyek diletakkan dalam perencanaan pembangunan revitalisasi kawasan. Wilayah dikonotasikan dengan lokasi suatu kegiatan pembangunan atau kegiatan-kegiatan ekonomi seperti industri atau pabrik, perusahaan, dan fasilitas pelayanan, dengan demikian kelangsungan kegiatan-kegiatan tersebut. jika penentuan lokasinya dilakukan dengan tepat, maka diharapkan kegiatan tersebut akan berlangsung secara produktif dan efisien, tetapi dapat pula sebaliknya yaitu pemilihan lokasi yang salah akan mengakibatkan kegiatan tersebut tidak produktif dan efisien, oleh karena itu pemilihan lokasi dari setiap kegiatan usaha harus dipertimbangkan secara cermat dan tepat. Penentuan lokasi suatu industri atau yunit produksi pada umumnya dikaitkan dengan lokasi sumber bahan mentah dan wilayah pasarnya. Kriteria yang digunakan dapat bermacam-macam, minyalnya biaya transportasi yang terendah, tersedianya sumber tenaga kerja dalam jumlah yang relatif banyak dan murah, tersedianya sumberdaya airdan energi yang cukup besar, ataupun daya tarik lainnya berupa penghematan lokasional (locational economies) dan penghematan aglomerasai (agglomaration economies).
Menurut salah satu teori lokasi yang dikemukakan oleh Van Thunen (1826) yaitu berbagai jenis produksi pertanian seperti menghasilkan bahan pangan, susu, kehutanan dan berbagainya ditentukan oleh kaitan antara harga komoditas-komoditas yang dijual dipasar perkotaan dan jarak antara daerah produksi dengan pasar penjual.
Alfred weber (1909) telah mengembangkan analisis penentuan lokasi optimum yaitu lokasi yang mempunyai biaya produksi yang terendah yang berarti orientasi transportasi dan orientasi tenaga kerja dianggap sebagai kekuatan lokasional primer.
Pasar tradisional teluk lingga sangatta utara ini berada pada kabupaten sangatta (Kutim) Kalimantan Timur. Pasar tradisional teluk lingga ini secara posisi kawasannya terlihat tidak bagus karena letak pasar tradisional ini berada dikedua sisi jalan utama kota kab. Sangatta utara tersebut. Pasar tradisional ini juga berada dekat dengan kawasan pemukiman warga kab. Sangatta utara. Kawasan pasar tradisional ini terlihat sangat kumuh dan kotor ditambah lagi dengan parkiran yang ada dipinggir kedua badan jalan utama sangatta utara tersebut, yang menambahkan kesan negatif untuk pasar tradisional ini. Lokasi pasar tradisional yang dekat dengan permukiman warga memberikan beberapa dampak tersebut, seperti bau-bau yang tidak enak dari pasar dan kebisingan yang ditimbulkan pasar tradisional teluk lingga, sangatta utara trsebut.
Secara ekonomi Pasar tradisional ini sejatinya sangat disenangi oleh ibu-ibu yang senang berbelanja bahan pokok makanan untuk keluarganya, karena pasar tradisional ini memiliki beragam kebutuhan dari sembako, beberapa daging ternak yang sehat (sapi dan kambing), ikan laut, ikan rawa, sayuran segar hingga pakaian pun ada. Kelebihan dari pasar ini adalah mudahnya mendapatkan bahan-bahan pokok tersebut karena bahan perkebunan dan perikanan dapat diperoleh karena dekat dengan pesisir dan lagi didalam wilayah kab. Sangatta utara adalah kawasan rawa.
Tetapi pasar tradisional ini apabila dilihat dari perkembangan kota akan ada pengurangan peminat untuk berkunjung karena pasar tradisional ini yang semakin lama terlihat kumuh dengan dimakannya umur dan tidak ada perawatan pasar yang berkelanjutan, dan dengan adanya pasar-pasar modern yang makin bermunculan menambahkan kesan negatif untuk pasar tradisional ini. Selain itu juga banyak permasalahan yang lebih berdampak oleh pengguna jalan utama kab. Sangatta utara tersebut, seperti mengganggu para pejalan kaki yang ingin melintasi pasar tradisional ini karena trotoar (fasilitas para pejalan kaki) yang ada dipinggir jalan digunakan sebagai tempat tambahan lapak dari pasar dan juga seringkali mengakibatkan kemacetan pada jalan utama saat ingin dilewati oleh beberapa kendaraan yang ingin melewati pasar tradisional ini, karena setengah dari badan jalan juga digunakan oleh para juru parkir untuk para pengunjung pasar yang mengakibatkan kemacetan tersebut.


parkir.jpg
Gambar 1. Badan jalan digunakan sebagai area parkir

Bisa dilihat dari gambar diatas (gambar 1) adalah permasalahan utama kondisi dari badan jalan yang digunakan oleh juru parkir pasar karena kurangnya lahan untuk parkir para pengunjung pasar tradisional teluk lingga yang mengakibatkan kemacetan para pengguna jalan tersebut.


lalulintas.jpg
Gambar 2. Polisi lalulintas turun langsung untuk mengatasi kemacetan

Dilihat dari gambar 2. Seringkali adanya polisi lalulintas yang langsung turun untuk mengatasi  kemacetan yang ada dijalan utama kab. Sangatta utara dikarenakan setengah badan jalan yang digunakan sebagai lahan parkir. Pasar tradisional teluk lingga ini sebenarnya seringkali didatangi oleh rajia satpol pp (satuan polisi pamong peraja) karena pasar tradisional melanggar, menyalah gunakan lahan tata kab. Sangatta utara dengan adanya trotoar digunakan untuk menambah lahan lapak pasar. Bukan pemerinta kab. Sangatta utara tidak ada upaya untuk mengatasi hal tersebut, sudah dikenakan biaya pelanggaran bagi penggunaan trotoar tersebut tetapi masih saja tidak ada titik jeranya.
Untuk mengatasi permasalahan pasar tradisional teluk lingga kab. Sangatta Utara ini dengan adanya kegiatan revitalisasi kawasan. Kegiatan revitalisasi kawasan ini bertujuan untuk menambah nilai-nilai pasar tradisional. Kegiatan revitalisasi kawasan juga bisa dikatakan sebagai proses, cara, dan pembuatan menghidupkan atau meningkatkan kembali berbagai program kegiatan apapun. Dapat disimpulakan bahwa kegiatan revitalisasi kawasan pasar tradisional teluk lingga, kab. Sangatta Utara harus dapat menaikan nilai tambah dari pasar itu sendiri, proses kegiatan revitalisasi kawasan mencakup perbaikan aspek fisik, aspek ekonomi, dan aspek social.
Pendekatan kegiatan revitalisasi kawasan harus mampu mengenali dan manfaat potensi lingkungan.  Kegiatan revitalisasi kawasan sendiri bukan suatu yang hanya berorientasi pada penyelesaian keindahan fisik saja, tapi juga harus dilengkapi dengan peningkatan ekonomi masyarakatnya serta pengalaman budaya yang ada. Secara fisik pasar tradisional teluk lingga kab. Sangatta utara harus lebih terarah dalam penataaan bangunan pasar tradisional nantinya, sehingga tidak mengganggu aktifitas lalulintas yang ada. Hal ini dapat dilakukan dengan mengubah keseluruhan bentuk pasar tradisional yang ada menjadi pasar tradisional yang bersih, rapi dan tidak mengganggu jalur transportasi umum yang ada seperti sebelumnya.

Konsep Pasar Tradisional Teluk Lingga kab. Sangatta Utara
            Secara ekonomi para pedagang perlu meningkatkan pemahaman tentang pentingnya kebersihan, berkaitan dengan jumlah konsumen yang datang berbelanja. Karena dengan pasar yang bersih dan nyaman, secara tidak langsung dapat meningkatkan jumlah pengunjung sehingga transaksi jual beli yang terjadi pun meningkat, otomatis omset pedagang pun akan naik. Bukan hanya itu saja, dalam peningkatan aspek ekonomi, pemerintah pun harus mendukung dengan memberikan penyuluhan tentang betapa pentingnya meningkatkan ekonomi dalam perdagangan di pasar tradisional.
            Secara social, pasar tradisional teluk lingga ini harus memberikan nilai tambah bagi hubungan bermasyarakat yang humanis, yaitu dalam hal transaksi jual beli yang tetap memberikan kesan social yang dalam terjadinya proses tawar menawar harga yang tidak dapat ditemui dipasar modern, ini merupakan interaksi social mendasar yang perlu dipertahankan dipasar tradisional teluk lingga kab. Sangatta utara.


sangata-pasar.jpg
Gambar 3. Impian bangunan kegiatan revitasi kawasan

Bisa dilihat pada gambar 3 tersebut adalah gambaran rekonstruksi kegiatan revitalisasi kawasan untuk pasar tradisional teluk lingga, kab. Sangatta utara. Tidak perlu memindah pasar tradisional tersebut untuk membangun bangunan pasar tradisional yang baru, karena pasar tradisional sebelunya lahannya cukup luas hanya saja kurang dikelola dengan baik. Dengan adanya kegiatan revitalisasi kawasan ini diharapkan menjadi pasar tradisional seperti digambar yang mana bentuk bangunan adalah panjang bertingkat dan memiliki lahan parkir yang luas, yang tidak mengganggu para pengguna jalan utama kab. Sangatta yang ingin melintasi pasar tradisional tersebut. Dengan adanya dukungan mekanisme control atau pengendalian rencana kegiatan revitalisai kawasan harus mampu mengangkat isu-isu strategis kawasan, baik dalam bentuk kegiatan atau aktifitas social-ekonomi maupun karakter fisik kota yang harus diperbaharui sesuai dengan perkembangan jaman. Kegiatan revitalisasi kawasan merupakan pengangkat pengarahan dan pengendalian untuk mewujudkan lingkungan binaan yang akomodatif terhadap tuntutan kebutuhan dan fungsi baru.