KENALKAH JENIS KONSERVASI ?

Tampilkan postingan dengan label Revitalisasi Lahan Bekas Tambang Sawahlunto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Revitalisasi Lahan Bekas Tambang Sawahlunto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2016

Tambang Batu Bara Sawahlunto

sawahluntoKota Sawahlunto, Sumatera Barat, dikenal sebagai daerah tambang batu bara sejak zaman Belanda sehingga banyak peninggalan bersejarah di kota ini. Salah satunya Lobang Tambang Mbah Soero, yang terpaksa dihentikan oleh Belanda pada 1930 karena merembes di bawah pemukiman warga. Diperkirakan lubang ini memiliki 40.000 juta ton batu bara dengan panjang 186 meter. Sebelum menjadi objek wisata, Lobang Tambang Mbah Soero merupakan tempat tumbal manusia. Kini, daerah Sawahlunto merupakan lokasi pembukaan Tour de Singkarak yang dibuka pada Senin, 4 Juni 2012, yang tentunya akan menambah geliat wisata di daerah yang masih menyimpan banyak lokasi wisata ini.
Kiplik memandu kami masuk ke terowongan bawah tanah itu. Kami, saya dan seorang teman, mengikuti Kiplik menuruni anak tangga semen yang berair, menukik pada kedalaman 16 meter dari permukaan tanah kota.
Ini adalah Lubang Tambang Batubara Mbak Soero (Mbah Soero Tunnel), sebuah objek wisata andalan di Kota Sawahlunto. Sebuah lubang tambang yang terkenal karena terkait dengan nasib “orang rantai”, para tahanan dari Jawa, Sulawesi, dan Bali yang dipekerjakan dengan kaki terantai di zaman Kolonial Belanda.
Terletak di jantung kota, Lubang Tambang Mbah Soero baru dibuka untuk umum 23 April 2008. Itu setelah digali dan direstorasi lebih setengah tahun. Masuk ke dalamnya mirip Lubang Jepang di Bukittinggi. Bedanya, air merembes di sejumlah titik di dinding dan menetes dari atap. Juga udara yang lembab dan oksigen yang terbatas.
Lubang Tambang Mbah Soero adalah bekas terowongan tambang tua batubara sejak “emas hitam” Sawahlunto ditemukan W. H. Van Greve, seorang geolog Belanda pada 1868 dengan perkiraan deposit 200 juta ton.
Ini bukan lubang pertama sejak lahan Sawahlunto dibebaskan Belanda untuk areal tambang batubara sejak 1886. Lubang pertama di Sungai Durian, kira-kira 7 km dari sini. Lubang Mbah Soero yang dulu juga terkenal dengan nama lubang Lembang Soegar dibuka kira-kira 1898. Namun inilah lubang yang terletak di jantung kota.
Lubang ini terkenal sebagai “Lubang Mbah Soero” karena diawasi mandor dari Jawa bernama Soerono. Ia orang yang disegani dan dipercayai memiliki ilmu kebatinan. Lubang ini ditutup pada 1932, ketika Belanda masih berkuasa. Tak ada catatan sejarah kenapa ditutup, namun diduga karena rembesan air yang tidak terkendali hingga memenuhi lubang.
“Mitos lain, lubang ini konon meminta tumbal nyawa manusia, tujuh orang hitam (pribumi) dan tujuh orang putih (Belanda), orang Belanda tidak mau, makanya mereka tutup,” kata Kiplik.
Seberapa luas lubang ini sesungguhnya adalah sebuah misteri. Menurut Kiplik (nama aslinya Sudarsono), pegawai pemandu Lubang Mbah Soero, karena peta lubang ini tak pernah ditemukan. Ia menduga hilangnya peta bisa karena upaya Belanda merahasiakan deposit batubara yang luar biasa.
Pemerintah Kota Sawahlunto baru membersihkan lubang tua ini sekitar 80 meter, menurun ke perut bumi. Seluruh dinding terdiri dari batu bara berkualitas bagus, hitam legam. Di ujung terlihat genangan air, seperti danau bawah tanah. Tapi bangunan tembok dan beton asli masih terawat.
Aslinya tidak ada tangga, hanya jalan untuk gerobak dorong dari besi dengan rel. Tangga semen dibuat setelah dibuka untuk kemudahan wisatawan.
Tapi terowongan ini tidak hanya satu, mirip jaring yang saling terhubung. Dua jalur masuk sudah dibersihkan dan satu jalur sejajar yang tidak memiliki pintu keluar. Lalu ditambah dua jalur melintang yang datar dengan jarak 30 meter setiap pertemuan.
Beberapa lubang sengaja ditutup dengan semen beton karena ditemukan banyak tengkorak saat penggalian. Tengkorak-tengkorak itu diduga bekas mayat para “orang rantai” dan dikuburkan dipemakaman khusus “Orang Rantai” Sawahlunto di sebuah bukit.
“Pemandu kebatinan (paranormal-red) yang menemani renovasi menyarankan untuk menutupnya agar tidak bermasalah kepada pengunjung,” kata Kiplik.
Kami dibawa menuju ujung lubang mendatar dengan tour sejauh 186 meter. Di sini kami merasakan nikmatnya oksigen yang dihembuskan pipa blower berdiameter 30 cm dari atas. Tanpa blower oksigen di ujung ini hanya tinggal 15 persen.
“Ada informasi lubang ini dulunya tembus ke sentra listrik (central electrice-red) tenaga uap, para pekerja langsung memasok batubara ke sana lewat lubang,” kata Kiplik.
Saya pernah mendengar dari saksi mata, seorang mantan pejuang 45 di kota ini yang menggunakan terowongan bekas sentra listrik tersebut sebagai perakitan granat ketika melawan pendudukan Jepang pada 1940-an dan lubangnya tembus di sekitar Lubang Mbah Soero. Tapi terowongan itu sudah tertutup jika masuk dari ruang bawah tanah sentra listrik.
Jika itu benar, sangat mengagumkan. Jaraknya dari tempat kami sekitar 160 meter dan bersisian dengan sungai Batang Lunto yang membelah kota. Sentra listrik bertenaga uap itu dibangun pada 1894 di lokasi yang jauh lebih tinggi dekat stasiun kereta api. Tapi tutup pada 1924 setelah sentra listrik yang baru dibangun di Salak, sekitar 5 km dari sana.
Kini di atas bekas sentra listrik itu dibangun Mesjid Agung Nurul Islam sejak 1952 dan menaranya yang tinggi dijadikan menara mesjid.
“Ada rencana penggalian Mbah Soero Tunnel akan dilanjutkan,” kata Kiplik.
Di luar pintu lubang, patung seorang Belanda penjaga sedang mengawasi dua pekerja tambang mendorong gerobang besi rel penuh “emas hitam” yang berkilat diterpa sinar matahari. Rantai bekas para pekerja, yang asli, dipajang di gedung “Info Box” di dalam kotak kaca.
Sebelum pergi, penjaga menyerahkan Certificate Mbah Soero Tunnel sembari memberikan kelebihan uang tiket masuk Rp8.000. Saya tercatat sebagai pengunjung wisata menelusuri terowongan Mbah Soero yang ke-11.972.
tempat wisata sawahlunto
Dapur Ribuan Pekerja
Berjarak 190 meter dari Mbah Soero Tunnel, ada Museum Goedang Ransoem. Ini bekas dapur umum yang dibangun Kolonial Belanda pada 1918 untuk menyuplai makanan bagi ribuan buruh tambang, termasuk “orang rantai” dan pasien rumah sakit.
Periuk-periuk,  kuali-kuali raksasa, dan tungku raksasa bermerek “Rohrendampfkesselfabrik” tahun 1894 berbahan bakar batubara membuktikan dapur umum ini sudah menggunakan peralatan memasak missal berteknologi modern pada zamannya.
Di sini Anda bisa menonton film dokumenter wisata tambang Sawahlunto berdurasi 15 menit di Ruang Audio-Visual. Ada tiga judul film yang ditawarkan.
Lebih setengah kilometer dari Museum Goedang Ransoem kita bisa mengunjungi Museum Kereta Api yang terletak di Stasiun Sawahlunto. Di sini bisa disaksikan peninggalan kejayaan perkeretaapian Sumatra Barat yang dibangun akhir abad 19.
Ini museum kereta api kedua di Indonesia setelah Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah. Anda bisa menyaksikan sejumlah peralatan kereta api zaman Kolonial. Juga bisa merasakan suasana kereta api tempo dulu dengan naik kereta api wisata dengan lokouap yang di Sumatra Barat disebut “Mak Itam” (Paman Hitam).
Kereta api lokouap jenis ini adalah transportasi utama ekspor batubara dari Sawahlunto melewati Pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur) di Padang sepanjang 155,5 km sejak dibangun 1894.
Kini untuk tujuan wisata, Mak Itam berbahan bakar batubara ini membawa dua gerbong ala kereta api cowboy setiap Minggu ke daerah sentra tenun di Silungkang pada pukul 11.30 WIB. Dengan tiket Rp15 ribu bisa menikmati perjalanan pergi-pulang.
Jika berombongan, Mak Itam bisa dicarter kapan pun dengan tarif Rp4 juta hingga Rp5 juta. Hanya saja, perlu menunggu sedikitnya 3 jam untuk proses pemanasan mesinnya yang  mengepulkan asap tebal itu.
Saya benar-benar kagum dengan Kota Sawahlunto. Ia menjadi ancaman serius bagi kota wisata Bukittinggi yang sudah lama digelari “kota wisata” di Sumatra Barat. Sawahlunto adalah kota tambang batubara yang mati setelah aktivitas penambangan menurun setelah dieksploitasi lebih satu abad.
Wali Kota Amran Nur bertekad menjadikannya sebagai kota wisata tambang. Ini pilihan terbaik daripada terus mengandalkan batubara yang tinggal untuk tambang dalam yang sulit dieksploitasi.
Saya kagum karena impian Amran menjadikan Sawahlunto sebagai kota wisata terwujud. Tiga lokasi objek wisata sejarah yang baru saya lihat masih direncanakan ketika saya berkunjung dan menulis pada 2005. Kini semuanya terwujud dan dikelola dengan sangat bagus.
Ada selusin bangunan bersejarah peninggalan Kolonial Belanda di kota, semuanya sudah enak dipandang karena terawat. Gedung ruang pertemuan di masa lalu yang dibangun pada 1910 dengan nama “Gluck Auf”, tempat para pejabat Kolonial menari dan menanyi, kini menjadi Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto. Ada kafe di sampingnya yang setiap hari melayani aneka makanan khas setempat.
Setiap tahun pada Desember di gedung ini digelar Festival Kesenian Multicultural Mancanegara. Desember lalu bertajuk “Sawahlunto Internasional Music Festival (Simfes)” tampil musisi dari 7 negara dan 5 benua. Di antaranya Australia, Meksiko, Korea Selatan, Belgia, Uzbekhistan, Kamerun, dan Taiwan.
Di sudut-sudut jalan raya terdapat bangku taman yang cantik mengarah ke panorama objek wisata. Saya tak bisa membayangkan bangku-bangku dari besi ini akan bertahan lama di Kota Padang atau Jakarta. Seseorang pasti sudah menggergaji atau mencurinya. Juga ada toilet umum yang indah di pinggir jalan.
Kini Pemko Sawahlunto sedang memproses usulan agar kota itu masuk World Heritage Cities Programme UNESCO sebagai kota tambang batubara bersejarah. Mereka siap menghadapi proses yang panjang penjurian.
Pembangunan Sawahlunto menjadi kota wisata tak hanya membenahi objek sejarah tambang, tapi juga objek wisata family gathering yang terutama ditujukan untuk lokal. Sebuah kawasan bekas tambang di Kandi, 11,6 km dari kota, dijadikan kebun binatang dengan maskot gajah. Di sana juga ada Taman Kupu-kupu.
Anda juga bisa menikmati paint ball dan naik perahu di danau. Di sini juga ada arena pacuan kuda. Di lokasi lain di Muara Kalaban  ada Water Boom yang selalu ramai pengunjung. Ini water boom pertama di Sumatera Barat.
Sawahlunto juga memiliki objek wisata sejarah lain, makam Mr. Muhammad Yamin di Talawi, 16,6 km dari pusat kota. M. Yamin adalah konseptor Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan pencipta lambang Polisi Militer, wajah Gadjah Mada. (Syofiardi Bachyul Jb/ PadangKini.com)
Sumber: padangkini.com/index.php/index.php?mod=wisata&id=7101

Revitalisasi Lahan Bekas Tambang Sawahlunto




 (Andricko K W).docx4/ 5

Inisiatif
Selamat Datang di Sawahlunto

Namun   di   sisi   lain   Sawahlunto   memiliki   pemandangan   alam   yang   cukup  indah   danbanyak   bangunan   historis   peninggalan   Belanda   sejak   pertambangan   batu   bara   pertama kali dibuka. Potensi ini   dilihat   oleh  Walikota Subari Sukardi pada tahun   2001   dengan   keluarnyaPerda Visi dan Misi nomor 2 tahun 2001 yang berupaya untuk “Mewujudkan Sawahlunto tahun2020 menjadi kota Wisata Tambang yang Berbudaya”. Seiring dengan keluarnya Perda tersebut,dilakukan   penyusunan   

Buku   Rencana   Induk   Pengembangan   Pariwisata   (RIPP)   bekerjasamadengan Lembaga Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPM-ITB) pada tahunyang sama. 

Hasilnya dijabarkan dalam strategi dan agenda 2002-2020 serta program pelaksanaan2002-2006.  Kemudian Walikota terpilih 2003, Amran Nur,  hasil kajian tersebut dikonkritkandalam serangkaian program revitalisasi fasilitas dan gedung-gedung tua peninggalan Belanda.

Kota Sawahlunto memiliki peninggalan sejarah pembangunan Belanda, yang memilikipotensi untuk dikembangkan, oleh karena itu dilakukan pengelolaan lanskap kota, agar dapatmeningkatkan perekonomian penduduk kota Sawahlunto. 

Harris dan Dines (1988) menjelaskanbahwa lanskap sejarah merupakan lanskap yang berasal dari masa lampau,  yang didalamnyaterdapat   bukti   fisik   tentang   keberadaan   manusia   di   dalamnya.   Goodchild   (1990)   jugamenjelaskan bahwa suatu lanskap dikatakan memiliki nilai kesejarahan sejarah jika di dalamnyamemuat satu atau beberapa kondisi lanskap berikut ini:
1. Merupakan contoh yang menarik dari sebuah tipe lanskap sejarah.
2. Memuat bukti yang menarik untuk dipelajari.
3. Memiliki keterkaitan dengan seseorang, masyarakat atau peristiwa penting dalam sejarah.
4. Memiliki nilai-nilai penting dalam sejarah terkait dengan bangunan atau monumen sejarahnya.

Strategi yang DijalankanPada awal pelaksanaan program, Pemerintah kota Sawahlunto membuat sebuah kajianguna mewujudkan revitalisasi bangunan bersejarah kota. Mereka mengundang Peter Van Dun,seorang   ahli     dalam  bidang  perencanaan   konservasi   terpadu   dan   merupakan   pensiunan   dariDepartemen Konservasi Belanda melalui program PUM. 

Kemudian pemerintah kota Sawahluntojuga menjalin kerjasama dengan Badan Warisan Sumatera Barat (BWSB). BWSB merupakanLSM yang mempunyai kepedulian terhadap bangunan dan benda-benda bersejarah di wilayahSumatera Barat. BWSB telah melakukan inventori khusus terhadap bangunan-bangunan tua diKota   Sawahlunto  pada  tahun   2002,  yang  bermanfaat   untuk dipergunakan   sebagai  titik  awalproyek   tersebut.   
Museum Kereta Api

Kedua   pihak tersebut  merupakan  mitra   pemerintah   kota   Sawahlunto dalampembuatan kajian pemetaan dan revitalisasi bangunan cagar budaya. Kemudian   pemerintah   kota   Sawahlunto  membentuk tim revitalisasi bangunan cagarbudaya dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto   yang berperan   sebagaileading sector atau dinas yang bertanggung jawab. Dinas ini dibantu oleh SKPD lain, seperti Dinas PU, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan, Koperasi dan Tenaga Kerja; DinasPendidikan, Pemuda dan Olahraga; Dinas Kesehatan dan Sosial; Dinas Pendapatan, Pengelolaan
Keuangan dan Aset Daerah; Dinas Pertanian dan Kehutanan; Bappeda; BLH; Badan Kesbangpoldan Penanggulangan Bencana; kecamatan dan kelurahan. Segera setelah m tersebut bekerja, Pemerintah Sawahlunto menetapkan beberapa kebijakan terkait seperti :
1. Menetapkan dan memantapkan fungsi kawasan cagar budaya melalui Perwal maupun Perda.
2. Mengkonservasi dan merehabilitasi kawasan cagar budaya.
3. Memberikan insentif pada bangunan tua, bangunan bernilai sejarah dan/atau bernilai tinggi.
4. Meningkatkan fungsi bangunan tua, bangunan bernilai sejarah dan/atau bernilai tinggi, serta potensi sosial budaya masyarakat yang memiliki nilai sejarah sebagai obyek wisata budaya.
Museum Goedang Ransoem

Secara garis besar, beberapa kegiatan yang dilakukan pemerintah kota Swahlunto gunamewujudkan upaya Revitalisasi Cagar Budaya tersebut, antara lain :
1. Melakukan   kajian   tentang   upaya   peningkatan   dan   perbaikan   kawasan   kota   lama.Kegiatan ini bekerjasama dengan BWSB dan PUM Belanda pada tahun 2003, Universityof  Malaka Malaysia pada tahun  2004 sekaligus  mengirimkan   para  tokoh masyarakatuntuk belajar ke University of Malaka, dan Dirjen Cipta Karya Kementerian PekerjaanUmum pada tahun 2004,
2. Melakukan sosialisasi program ke  masyarakat secara terus menerus  melalui  berbagaimedia yang ada di Sawahlunto, 
3. Melakukan   pelatihan,lokakarya   dan   workshop   mengenai   pentingnya   revitalisasi   kotakepada jajaran aparat pemkot.
4. Melakukan   studi  banding  tentang   revitalisasi  bagi   pegawai  pemkot khususnyabidangperencanaan dan teknis ke kota-kota di Indonesia maupun di luar negeri.
5. Berdasarkan   inventaris   yang   telah   dilakukan   sejak   tahun   2001   dan   2002,   maka pemerintah   kota   mulai   melakukan   peningkatan     kawasan   pedestrian,   pembangunan kawasan   bermain   dan   RTH,   mulai   merenovasi   bangunan-bangunan   bersejarah,   sertamembangun tempat-tempat penunjang kegiatan wisata, seperti gedung info box, IPTEKcenter, water boom dan kebun binatang Program-program pelestarian atau revitalisasi yang dapat membantu meningkatkan  danmenjaga karakteristik kota: 
(1) meningkatkan keindahan fisik kawasan dengan  mengembalikanlanskap kota pada bentuk kolonial; 
(2) menerapkan  kegiatan baru dalam  kawasan  yang  terkait
erat dengan keterlibatan masyarakat; dan 
(3) memberikan masukan mengenai arahan kebijakan kepada   Pemerintah   Daerah   untuk   mendukung   perencanaan   serta   mengawasi   kegiatanpelaksanaannya. Rencana lanskap revitalisasi 

Kota Tuo Sawahlunto terdiri dari:rencana ruangyang terbagi menjadi ruang inti (46.48%) yang berupa ruang sejarah dan ruang publik yang berfungsi   untuk   aktivitas  napak  tilas  sejarah  dan bersantai  atau sosialisasi,   ruang  penunjang(2.04%), ruang pengembangan (1.71%), dan ruang penyangga (49.77%). 
Lubang Mbah Soero

Rencana sirkulasinya terdiri dari sirkulasi primer (mobil), sekunder (pejalan kaki dan sepeda), dan kereta tambang. Keindahan Bangunan Sejarah di Sawahlunto: Museum   kereta   api   ini   dulunya   adalah   stasiun kereta   api   yang   dibangun   oleh   pemerintah   Belanda   pada tahun 1918.

Hotel Ombilin
Inilah salah satu saksi bisu kejayaan Sawahlunto di masa lalu, Hotel Ombilin.

DAFTAR PUSTAKA :
Goodchild PH. 1990. Some Principle For the Conservation of Historic Landscapes. University of New York. 58p.

Harris CW, Dines NT. 1988. Time Saver Standard for Landscape Architecture.New York: Mc Graw-Hill Inc