KENALKAH JENIS KONSERVASI ?

Kamis, 28 April 2016

Menggali Potensi dari Keterpurukan Pembangunan wilayah Desa Siliwangi Kecamatan Singkut Kabupaten Sarolangun Jambi

Yuni Ismiyana
     114130177

Sarana prasarana pada suatu wilayah tidak hanya menunjukkan kemajuan atau perkembangan suatu wilayah, namun juga sebagai penunjang perkembangan wilayah itu sendiri. Perkembangan pada suatu wilayah memang tidak hanya dapat diukur dari sektor pembanguanan atau kelengkapan fasilitas yang ada, tapi perekonomian daerah tersebut termasuk perekonomian masyarakatnya juga menjadi tolak ukurnya.
Desa Siliwangi Kecamatan Singkut Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi merupakan salah satu wilayah yang berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara yang memilki sumber daya yang melimpah, tidak hanya sumber daya alam, namun juga sumber daya manusianya. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berupa negara kepulauan memiliki keberagaman, termasuk dalam hal perkembangan wilayahnya.
Pembangunan fasilitas umum terkadang mencerminkan kondisi perekonomian daerah itu sendiri. Namun opini tersebut tidak berlaku pada Desa siliwangi. Desa yang berkontribusi cukup besar dalam hal perekonomian daerah. Kontribusi tersebut diwujudkan dalam bentuk besarnya pajak daerah maupun peningkatan pendapatan masyarakatnya. Mata pencaharian masyarakat setempat tidak hanya sekedar menjadi petani,seperti pada desa-desa lain pada umumnya, namun sebagian besar juga bergerak dalam bidang industri kerajinana tangan seperti genteng dan batu bata. Hal ini yang menyebabkan daerah tersebut dikenal sebagai sentra industri genteng dan batu bata. Keberlangsungan kegiatan industri tersebut juga tidak terlepas dari peraturan daerah yang mengikatnya, misalnya besarnya pajak yang harus dipenuhi, surat izin usaha, dan lain sebagainya.

Meskipun Desa Siliwangi mematuhi kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat, namun fasilitas penunjang yang menjadi hak masyarakant dan para pengusaha industri sebagian besar masih belum terpenuhi. Selama berpuluh tahun desa tersebut hidup tanpa cahaya lampu pada malam hari, karna tidak ada aliran listrik. Hingga saat mencapai titik jenuh, masyarakat berusaha untuk memperoleh aliran listrik dengan menggalang dana sendiri. Aliran listrik yang resmi dari pemerintah baru di peroleh masyarakat pada tahun 2012. Kondisi tersebut diperparah dengan kondisi jalan, karena sejak tahun 1994 hingga saat ini jalan yang menjadi arteri perekonomian masyarakat tidak kunjung dibangun. Jalan yang saat ini dilewati oleh masyarakat merupakan jalan swadaya masyarakat yang dananya diperoleh dari hasil iuran.

Desa Siliwangi memiliki banyak keunikan yang tersimpan, salah satunya karena daerah ini merupakan daerah sentra industri genteng dan batu bata terbesar di Jambi. Bukan hanya hasil industrinya, namun kolam-kolam yang terbentuk dari pengambilan tanah sebagai bahan baku produksi juga menciptakan keunikan tersendiri. Kolam-kolam banyak dijumpai di wilayah ini dan banyak dibiarkan begitu saja hingga tertutup oleh lumpur, mapun sampah-sampah organik dari tumbuhan yang hidup di kolam tersebut.
Revitalisasi pada wilayah ini sangat dibutuhkan, terutama pada fasilitas yang mendukung perkembangan wilayah tersebut. Apabila fasilitas umum tersebut telah terpenuhi maka kawasan ini dapat mengembangkan potensinya berdasarkan kondisi lingkungan yang ada. Kolam yang menjadi kubangan-kubangan air hasil produksi industri genteng dan batu bata dapat digunakan sebagai kolam ikan, yang sekaligus dapat digunakan sebagai kolam pemancingan. Menurut Marimbo (2007), Pemancingan ikan ternyata berkembang pesat dalam kurun waktu lima tahun, omset perhari mereka rata-rata Rp 1-2 juta, sedangkan sabtu dan minggu meningkat Rp 15-25 juta/ hari. Peluang bisnis yang dijanjikan dari pemanfaatan kola mini tentu perlu dipertimbangkan mengingat masih banyaknya kolam yang melum dimanfaatkan secara optimal di kawasan tersebut.

Bentuk dan kedalaman kolam yang beragam sehingga perlu diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok sesuai dengan perancangan pemanfaatan kolam. Hal ini dikarenakan selain dapat ditanami ikan dan untuk pemancingan. kolam-kolam tersebut juga dapat digunakan sebagai arena out bound, yang dilengkapi dengan kolam lumpur di sekitar kawasan tersebut. Kolam yang dijadikan outbound harus di perhatikan pula kondisi keamanannya. Dengan adanya arena outbound diharapkan kolam yang tadinya hanya menjadi kubangan air, dapat bermanfaat untuk edukasi sesuai dengan tujuan utama outbound yang diselenggarakan. Tujuan outbound pada umumnya untuk melatih kerjasama tim, melatih jiwa kepemimpinan, dan lain-lain. Menurut Syaifudin (2013), kebutuhan manusia untuk selalu menikmati hidup dengan melakukan liburan ketempat-tempat natural juga membuat wisata outbound ramai dikunjungi wisatawan. Hal ini juga menjadi pendorong untuk memanfaatkan kolam tersebut sebagai wahana outbound.
Kolam yang tersedia juga dapat digunakan sebagai taman air, sehingga menarik untuk dijadikan sebagai penyegar mata bagi pengunjung pemancingan maupun pengujung yang sedang mengikuti outbound. Menurut Hanum (2013), Tanaman utama yang biasa ada di taman air adalah water lily (teratai) dan deepaquatic lainnya seperti lotus. Dalam perencanaan taman air ini, penggunaan tanaman teratai sebagai tanaman pengisi kolam yang akan menciptakan suasana segar dan indah. Pemandangan bunga teratai akan menimbulkan kesan kenyamanan sehingga menjadi obat dari kepenatan rutinitas sehari-hari. Selan itu, lokasi tersebut juga sebaiknya dilengkapi oleh saung (rumah-rumahan) kecil untuk menambah nuansa asri taman air tersebut. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan fungsi kolam yang sebelumnya kurang bermanfaat. Namun hal ini juga tidak terlepas dari peran serta pemerintah untuk memperbaiki fasilitas umum, terutama jalan. Karena dengan kondisi jalan seperti saat ini keindahan dan potensi yang ada pada desa ini tidak dapat di nikmati oleh masyarakat. Selain jalan, saluran air yang buruk pada daerah ini menyebabkan banjir yang sering terjadi saat musim hujan turun, sehingga memerlukan perhatian pula pada kondisi penyaluran air di kawasan tersebut. Karena dengan terjadinya banjir, banyak aktifitas  warga yang tergenggu, misalnya saja anak sekolah yang terhambat akibat jalan yang akan dilauinya tergenang air.

Revitalisasi semacam ini tidak hanya menguntungkan para pemilik kolam dan lahan outbound saja, tapi masyarakat sekitar juga memperoleh manfaatnya. Masyarakatsekitar dapat membuka lapangan kerja sendiri, dengan menjual makanan, maupun hasil kerajinan tangan lain yang dapat dikembangkan lagi selain genteng dan batubata, misalnya gerabah, patung, dan lain-lain. Kerajinan tangan tersebut justru akan menjadi buah tangan yang khas bagi para pengunjung. Kawasan tersebut juga menjadi kawasan yang mengenalkan adanya sentra industri kerajinantangan yang cukup besar yang dapat dijadikan sebagai area pembelajaran, menambah pengalaman, serta meningkatkan potensi penjualan yang lebih luas. Namun, meningkatnya pembangunan dan taraf hidup masyarakat dapat meningkatkan persaingan penggunaan ruang (lahan), sehingga sering terjadi konflik (Widiatmaka, 2007). Kondisi tersebut yang perlu diantisipasi untuk menghindari konflik-konflik yang akan terjadi seiring dengan rencana pembangunan kawasan tersebut. 

DAFTAR PUSTAKA
Hanum, Meivirina dan Chavela Murod. 2013. ”Desain Taman Air”. Jakarta: Griya Kreasi.
Marimbo, Rizal Calvary. 2007. “100 Peluang UKM Terdahsyat”. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Saifudin, Sahid. 2013. “Peluang Usaha Jasa Outbound”. Jakarta: Gamedia Press.

Rabu, 27 April 2016

PENATAAN REVITALISASI KAWASAN PASAR TRADISIONAL “PASAR BANTINGAN’ DI KOTA TANJUNG ENIM, KECAMATAN LAWANG KIDUL, KABUPATEN MUARA ENIM PROVINSI SUMATRA SELATAN


Nugraha Febri Ramadhan
114120001


Tanjung Enim, bagian dari Kabupaten Muara enim Provinsi Sumatra Selatan dikenal sebagai salah satu tempat pertambangan batubara terbesar di Pulau Sumatra. Di tempat ini terdapat PLTU terbesar di Sumatra Selatan. batu bara yang ditambang disini digunakan untuk ekspor dan pemakaian dalam negeri, antara lain untuk PLTU Suryalaya dan briket. Kota Tanjung Enim memiliki permasalahan mengenai tata ruang khususnya pasar tradisional yang semakin hari semakin memperihatinkan. Sebelumnya dijadikan pasar, area tersebut merupakan tanah lapang yang tidak produktif, kemudian dijadikan sebagai pasar karena tidak mencukupi ruang di pasar yang sebelum untuk dijadikan sebagai lapak dagang. Akan tetapi di lokasi yang baru timbul permasalahan seperti lapak pedagang yang tidak teratur, retribusi yang belum maksimal, adanya konflik perebutan lapak pedagang hingga puncaknya terjadi demo besar-besaran yang dilakukan pedagang meminta agar dapat kembali ke pasar yang sebelumnya mereka tempati untuk dapat berdagang disana. Kemudian masalah yang kembali muncul disana yakni penataan lapak pedagang, pengelolaan sampah yang kurang optimal, fasilitas yang diberikan kurang memadai seperti wc umum yang kurang terawat, kemudian lahan parkir yang kurang memadai sehingga pedagang sulit untuk memasukkan barang dagangan mereka ke lapaknya, lorong antar pedagang yang sempit yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam berbelanja, pengelolaan pasar yang kurang terkoordinasi, sering terjadi pungutan-pungutan liar yang dilakukan oleh orang-orang yang kurang berkompeten di bidangnya, dan tidak adanya terminal bis atau mobil-mobil angkot atau tempat khusus untuk menurunkan barang dagangan pedagang.

Menurut pandangan W. J. Stanton (dalam Sudirmansyah, 2011) pasar adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk berbelanja serta kemauan untuk membelanjakannya. Pasar tradisional adalah sebuah tempat yang terbuka di mana terjadi proses transaksi jual beli yang dimungkinkan proses tawar-menawar (Bromley, dalam Eksistensi Pasar Tradisional Relasi dan Jaringan Pasar Tradisional di Kota Semarang-Jawa Tengah, 2011). Berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat pada satu dasa warsa yang lalu, sebagian masyarakat hanya mengenal pasar tradisional sebagai salah satu tempat perbelanjaan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Keberadaan pasar tradisional sejatinya memiliki keunggulan alamiah dibandingkan dengan pasar modern. Lokasi yang terletak di tempat yang strategis, area penjualan yang luas, keragaman barang yang lengkap, proses tawar-menawar yang terjadi pada saat berbelanja antara penjual dan pembeli sehingga menciptakan keakraban antara penjual dan pembeli menjadi keunggulan utama dari pasar tradisional.

Program revitalisasi pasar tradisional digagas dengan maksud menjawab semua permasalahan yang melekat pada pasar tradisonal. Penyebabnya, pasar tradisional dikelola tanpa inovasi yang berarti yang mengakibatkan pasar menjadi tidak nyaman dan kompetitif (Kasali, 2007). Dalam menjalankan aktivitas ekonomi di pasar tradisional, kondisi fisik memegang peranan yang penting. Rancangan fisik pasar harus mempertimbangkan fungsi pasar sebagai tempat aktivitas ekonomi sosial komunitas penggunanya. Program revitalisasi pasar tradisional juga menyentuh tata kelola (kelembagaan) pasar. Mewujudkan pasar yang profesional haruslah dikelola dengan manajemen yang terpadu dimana seluruh manajemen pasar terintegrasi menjadi satu.

Dalam analisis mengenai revitalisasi kawasan pasar tradisional, kesan pertama yang sering pembeli ungkapkan mengenai pasar tradisional adalah tempat yang kotor, jorok, banyak genangan air pada saat musim hujan dan sampah yang berserakan dimana-mana. Banyak orang yang meninggalkan pasar tradisional dan lebih memilih pasar modern karena alasan-alasan tersebut dan lebih memilih pasar modern karna kenyamanan dalam berbelanja, kemudian harga yang ditawarkan sudah ditetapkan dengan menggunakan perlabelan disetiap barangnya. Hal ini membuat berbelanja menjadi lebih efisien karna dapat mengkalkulasi pengeluaran. Sehingga makin ke era modern, pasar tradisional makin ditinggalkan para pembelinya. Pembenahan pasar tradisional harus segera dilakukan untuk peremajaan dan meningkatkan daya beli dan daya saing pasar tradisional di tengah gempuran pasar modern. Pengelolaan pasar yang buruk seperti kotor, banyak genangan air, lorong yang sempit, penataan lapak dan kios pedagang, lahan parkir yang kurang memadai serta fasilitas-fasilitas yang kurang mendukung memperparah citra pasar tradisional. Pasar tradisional biasanya tidak memiliki bangunan yang tidak permanen. Selain itu juga lantainya masih berlantai tanah sehingga ketika hujan turun maka akan banyak genangan air yang membuat tidak nyaman para pengunjung. Lapak dan kios pedagang yang kurang tertata juga menyebabkan kesan kurang tertata rapinya pasar. Pengelolaan sampah juga menjadi perhatian dalam penataan revitalisasi kawasan pasar tradisional. Sampah yang kurang tertata membuat kesan pasar tradisional kurang enak dipandang.


 Selain itu juga bau yang menyengat sangat mengganggu kenyamanan berbelanja para pengunjung. Hal ini semakin menambah daftar panjang penilaian negatif terhadap pasar tradisional. Tidak adanya Tempat Penampungan Sementara (TPS) di sekitar pasar membuat adanya tumpukkan sampah yang tidak terurus dan dapat menimbulkan penyakit bagi para pedagang maupun pengunjung pasar itu sendiri. Fasilitas penunjang seperti toilet umum yang kurang terawat, tidak adanya penitipan anak, dan klinik kesehetan dan lahan parkir merupakan salah satu alasan pengunjung kurang minatnya berbelanja di pasar tradisional. Adanya terminal bayangan pada pasar membuat semakin semrawutnya kondisi pasar akibat keluar masuknya bis kota dan angkot untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Fasilitas tersebut sangat begitu penting untuk menjadikan pasar tradisional agar dapat bersaing dengan pasar modern. Akan Pasar Bantingan memiliki potensi yang sangat besar apabila dikembangkan. Potensi-potensi tersebut diantara potensi sejarah yakni dahulunya sebelum dijadikan pasar tradisional merupakan tempat bongkar muat batubara hasil dari penambangan yang akan dikirim ke PLTU Bukit Asam yang ada di tidak jauh dari lokasi bongkar muat. Kemudian sebagai pusat makanan khas dari Tanjung Enim. Selain pempek sebagai ikon makanan khas Sumatra Selatan, ada beberapa makanan khas lainnya yang dapat dijadikan sebagai oleh-oleh seperti tekwan, model, laksa, burgo dan lain-lain. Selain itu juga jajanan ala pasar tradisional yang masih dilestarikan seperti cenil, lupis, miso, dan lain-lain. Untuk sumber daya manusianya sendiri masih banyak yang memerlukan lapangan pekerjaan. Dengan dilakukannya revitalisasi kawasan pasar tradisional ini diharapkan akan banyak menyerap tenaga kerja guna mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan serta pengelolaan pasar sendiri diserahkan sepenuhnya kepada para pedagang. Selain itu juga adanya pengunjung pasar dari luar kota membuat pasar harus dibangunnya sebuah terminal bis agar dapat memudahkan bagi para pengguna jasa angkutan umum dapat naik dan turun dari bis sesuai dengan tempat yang telah disediakan.

Dalam analisis mengenai revitalisasi kawasan pasar tradisional, penulis berasumsi bahwa pentingnya keberadaan pasar tradisional di antara gempuran pasar modern. Pasar tradisional masih diminati oleh masyarakat menengah kebawah. Harga barang yang murah dan dapat melakukan tawar-menawar serta terjadi interkasi sosial antar pembeli-penjual, antar sesama pembeli, dan antar sesama penjual. Interaksi sosial ini yang merupakan bagian dari masyarakat yang seiring perkembangan zaman makin pudar akibat laju globalisasi yang tidak dapat di bendung. Harga barang yang ada di pasar tradisional mudah di jangkau oleh semua kalangan, terutama masyarakat menengah ke bawah. Harga barang tersebut dapat dimainkan oleh pedagang itu sendiri. Dengan demikian masyarakat dapat membeli barang sesuai dengan kemampuan. Selain itu barang yang ditawarkan dapat dengan bebas dipilih sesuai dengan selera pembeli. Revitalisasi kawasan pasar dilakukan untuk memberikan kenyaman, keamanan dan kemudahan dalam berbelanja. Pembeli tidak repot-repot untuk berdesak-desakan pada saat berbelanja karena lapak para pedagang telah di sesuaikan dengan blok-blok yang telah diberi petunjuk. Setiap blok menjual satu jenis dagangan. Misalnya blok L adalah tempat untuk para pedagang yang menjual jajanan pasar, dan blok D adalah tempat yang menyediakan ikan segar

 Tempat yang bersih dan bebas dari polusi menjadi salah satu cara menarik minat kembali para pembeli yang hendak berbelanja di pasar tradisional. Pengelolaan sampah yang dihasilkan pun perlu dilakukan untuk mengurangi kesan kotor dan jorok yang sering ditujukan pada pasar tradisional. Pengelompokkan sampah sesuai dengan jenisnya juga sangat penting untuk memudahkan petugas pengelola kebersihan. Selain itu juga pedagang pasar sendiri telah membayar retribusi kebersihan per hari untuk sampah. Penataan lahan parkir juga berpengaruh pada kenyamanan pengunjung yang akan berbelanja sehingga pengunjung tidak perlu mencari kendaraan yang mereka letakkan karena lahan parkir yang tertata memudahkan merekan dalam mencari kendaraan mereka setelah berbelanja atau yang hendak berbelanja. Fasilitas yang diberikan juga penting untuk mendukung kenyamanan berbelanja. Kebersihan toilet, ruangan khusus merokok, ruang penitipan anak, klinik kesehatan, masjid dan lain-lain merupakan salah satu bagian dari fasilitas yang menunjang dalam memberikan kenyamanan berbelanja. Lokasi klinik yang tidak jauh, tempat penitipan anak dan masjid pasar yang berdekatan memudahkan ibu-ibu sekaligus pedagang untuk menitipkan anak mereka saat mereka sibuk berjualan. Fasilitas pembangunan terminal bis juga sangat penting guna mendukung keberadaan pasar. Hal ini tidak dipungkiri pengunjung pasar tidak hanya berasal dari kota Tanjung Enim sendiri namun banyak juga yang berdatangan dari luar kota Tanjung Enim.

Salah satu cara merevitalisasi atau membangun pasar tradisional yang baru adalah menciptakan pasar tradisional dengan berbagai fungsi, seperti tempat bersantai dan rekreasi bersama dengan keluarga. Pendekatan yang lebih penting adalah bagaimana mensinergikan pasar tradisional dan tempat perbelanjaan modern, sebagai kesatuan yang fungsional.  Tahapan dalam merevitalisasi terjadi pada tingkatan mikro maupun makro. Proses revitalisasi melalui beberapa tahapan yakni aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial atau institusional. Pada aspek fisik meliputi pada pembangunan dan peningkatan kualiatas fisik bangunan yang didesain sesuai dengan kebutuhan pasar. Selain itu juga dalam proses pembangunan harus memperhatikan isu lingkungan yang  perlu diperhatikan dengan dilandasi pemikiran jangka panjang. Hal ini sebagai pertimbangan dalam pembangunan pasar yang berkelanjutan dan berkesinambungan dengan lingkungan sekitar pasar. Aspek fisik ini sangat penting bila didukung dengan arsitektur yang sesuai dengan sejarah sebelum terbentuknya pasar tersebut akan lebih menambah nilai tersendiri bagi pasar tersebut.

 Kemudian dari aspek ekonomi, dengan melakukan penataan lapak dan kios maka diharapkan pendapatan bagi pedagang meningkat, Lalu dari penataan tersebut dapat memudahkan pengunjung untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari tanpa harus berkeliling pasar lagi. Selain itu juga tata pasar yang rapi membuat para pengunjung dapat keluar masuk pasar tanpa harus berdesak-desakan lagi. Kemudian keberagaman produk dagangan yang dijual oleh para pedagang akan menambah nilai jual khususnya bagi pedagang sendiri sehingga diharapkan nantinya akan mendapat pelanggan-pelanggan baru yang berdatangan ke lapak dan kios mereka. Aspek sosial atan institusional tidak kalah penting dalam melakukan revitalisasi kawasan pasar tradisional. Hal ini tidak hanya memberikan dampak perubahan secara fisik bangunan, akan tetapi juga memberi dampak positif bagi dinamika pasar itu sendiri. Dalam hal ini unsur budaya juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan revitalisasi sebuah kawasan. Diharapkan nantinya pasar tradisional tidak hanya digunakan sebagai tempat berbelanja, juga sebagai tempat bersantai, rekreasi, dan bahkan sebagai pembelajaran bagi anak-anak akan sejarah dahulunya sebelum terbangunnya pasar tersebut. Selain itu juga pengelolaan pasar yang diserahkan sepenuhnya kepada pasar seperti paguyuban pedagan pasar akan menjadi lebih memudahkan dalam pemplotan lapak dan kios milik pedagang, masalah perijinan, pembayaran retribusi dan lain-lain.

Dengan demikian hasil dari penataan revitalisasi kawasan pasar tradisional “Pasar Bantingan” dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah khususnya kabupaten Muara Enim dalam melakukan penataan pasar tradisional agar dapat bersaing dengan pasar modern yang berkembang saat ini. Selain itu juga keberadaan pasar tradisional masih sangat dibutuhkan oleh masyrakat khususnya tingkat menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kemudian penataan revitalisasi kawasan pasar tradisional diharapkan dapat meningkat kesejahteraan masyarakat baik yang tinggal disekitar pasar maupun yang berdagang didalam pasar agar dapat mengurangi jumlah pengangguran dan kriminalitas serta dapat meningkat pendapatan daerah.


Sumber :

Sudirmansyah, 2011.Pengertian dan Jenis-Jenis Pasar. www.sudirmansyah.com. /artikel ekonomi/pengertian-dan-jenis-jenispasar. html.

Sadilah, Emiliana dkk., Eksistensi Pasar Tradisional Relasi dan Jaringan Pasar Tradisional di  
Kota Semarang-Jawa Tengah, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Yogyakarta, 2011.

Kasali, Renald 2007. Manajemen Perilklanan : Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: Pusaka

Utama Grafiti.