KENALKAH JENIS KONSERVASI ?

Senin, 06 Juni 2016

Revitalisasi Kawasan Bekas Tambang Kaolin, Kec. Tanjung Pandan, Belitung.

By: Rahel Situmorang.




Danau Kaolin terletak di Jalan Murai, Desa Air Raya, Kecamatan Tanjung Pandan, Belitung. Danau Kaolin adalah sebuah kubangan yang terbentuk karena adanya pertambangan kaolin di daerah tersebut, kubangan – kubangan tersebut terisi oleh air hujan, maupun dari sumber mata air di dasar lubang galian, mengingat Belitung merupakan penghasil Kaolin terbesar di Indonesia. Kaolin merupakan masa batuan yang tersusun dari material lempung dengan kandungan besi yang rendah, dan umumnya berwarna putih atau agak keputihan. Meskipun merupakan bekas pertambangan, air di danau ini tetap jernih. Jernihnya air di danau ini disebabkan sifat kaolin yang merupakan mineral tanah liat murni yang tidak berbahaya bagi manusia. Proses mendapatkan Kaolin di hampir semua pertambangan di Belitung juga hanya menggunakan metode tambang semprot (hydraulicking). Proses ini hanya menggunakan air bersih untuk mengupas tanah sedalam 1–2 m dengan air, tanpa menggunakan bahan kimia tambahan dan mesin-mesin canggih lainnya. Hal inilah yang menyebabkan tidak ada perubahan kimia pada kandungan tanah dan air yang mengisi bekas-bekas galian Kaolin di Belitung sehingga air yang dihasilkan tetap jernih.



Kaolin Lake from Google Earth

Konsep : Ecoturism, Wisata berwawasan lingkungan, dimana menurut Danisworo (2002) “Pendekatan revitalisasi harus mampu mengenali dan memanfaatkan potensi lingkungan (sejarah, makna, keunikan lokasi dan citra tempat)”. Sehingga latar belakang revitalisasi lahan bekas tambang ini tidak hanya menjadi kubangan air yang luas saja, namun dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk menunjang perekonomian setempat.
Mengingat bahwa menurut Fandeli dan Mukhlison (2000), pengertian tentang ekowisata mengalami pengertian dari waktu ke waktu. Namun pada hakikatnya “ekowisata dapat diartikan sebagai bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian area yang masih alami, memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat”. Oleh sebab itu yang akan mengelola tempat ini yaitu warga sekitar dengan tetap mengedepankan aspek kelestariannya.
Danau Kaolin dekat dengan Kota, karena dari pusat kota Belitung menuju ke danau kaolin ini hanya membutuhkan waktu 15 menit, dan letak danau kaolin tepat disamping jalan Murai. Namun belum ada angkutan umum yang melayani akomodasi menuju tempat ini, oleh karena itu masyarakat sekitar bisa memanfaatkan kendaraan pribadi mereka sebagai kendaraan yang digunakan untuk para wisatawan yang ingin berkunjung ke Danau Kaolin, sehingga akan menambah perekonomian warga sekitar. Untuk menginap, wisatawan tidak perlu repot mencari, karena bisa didapatkan di Kota Tanjung Pandan. Disana wisatawan bisa mencari dan memilih berbagai jenis penginapan, sebab ketersediaanya sudah cukup lengkap.
Begitu kita datang ke danau Kaolin ini, kita akan disuguhkan pemandangan bukit-bukit kecil berwarna putih yang terlihat seperti salju. Pemandangan ini terlihat semakin cantik ketika berpadu dengan air danau yang begitu jernih dan berwarna biru, hal itulah yang menjadi daya tarik wisatawan, selain itu disebelah danau terdapat timbunan bekas galian kaolin yang menumpuk (lampiran), membentuk gunung lengkap dengan padang pasirnya, jika dilihat menyerupai Bromo akan tetapi berwarna putih, sehingga dapat menjadi spot  indah bagi fotografer, dan bisa digunakan sebagai tempat pre-wedding. Selain itu akan dibangun pula lahan parkir dan gerbang selamat datang (lampiran), serta tempat mendukung lainnya seperti tempat ibadah, toilet, dan tempat sampah.
Danau tersebut terbagi menjadi dua wilayah yaitu sebelah kiri dan kanan (lampiran) berdasarkan kedalamannya. Danau yang di sebelah kiri memiliki kedalaman yang cukup dalam, oleh karena itu akan dijadikan tempat rekreasi air seperti bebek-bebek, bola air, perahu dan sepeda air, semua pengunjung wajib mengenakan baju pelampung untuk keamanan. Danau Kaolin ini sangat aman untuk dijadikan tempat wisata, karena air di danau Kaolin ini aman, karena tidak mengandung Air Asam Tambang seperti di pertambangan lainnya.
Sedangkan danau yang disebelah kanan mempunyai kedalaman yang dangkal, sehingga akan dimanfaatkan sebagai tempat restoran dan “Floating Forest” (Bobbing Forest). Bobbing forest ini hanya ada di Belanda dan merupakan penemuan baru dimana pohon bisa mengapung di air, sehingga bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk memilih Danau Kaolin menjadi tempat wisata mereka karena keunikan dan kelangkaannya. 



Ditengah danau tersebut akan dibuat restoran kaca kemudian dikelilingi oleh bobbing forest yang membentuk seperti bentuk hati, sehingga akan membuat kesan unik yang lebih lagi, karena ketika berada dalam restoran kaca kita akan merasa berada ditengah hutan tetapi juga ditengah danau biru (ada di gambar namun digambar didalamnya tempat tidur, sedangkan nantinya akan dibangun restoran). Mengingat bahwa Wahono (2002) menjelaskan bahwa rehabilitasi lahan merupakan suatu usaha memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kodisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air, maupun sebagai unsur perlindungan alam dan lingkungannya. Sehingga konsep berbasis lingkunganpun di buat di wilayah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Danisworo, Muhammad / Widjaja Martokusumo, 2000. Revitalisasi Kawasan Kota Sebuah Catatan dalam Pengembangan dan Pemanfaatan Kawasan Kota, Jakarta: Urban and Regional Development Institute.
Fandeli, C. dkk. 2000. Pengusahaan Ekowisata. Yogyakarta: Fakulatas
Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Wahono, 2002, Budidaya Tanaman Jati (Tectona grandis L. F), Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kabupaten Kapuas Hulu, Putussibau.

Minggu, 05 Juni 2016

REVITALISASI KAWASAN BEKAS PABRIK KERTAS, BLABAK, MUNgKID, KABUPATEN MAGELANG, JAWA TENGAH


Damar Adi Pamungkas (114130020)

Kecamatan Mungkid berada di Wilayah Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah dengan  mempunyai luas wilayah Kurang lebih 3.741.51 Ha. Kecamatan Mungkid secara administrasi berbatasan dengan Kecamatan Muntilan, Kecamatan Sawangan, Kecamatan Mertoyudan, dan Kecamatan Borobudur.
            Kecamatan  Mungkid, Kabupaten Magelang  merupakan kawasan yang  strategis  yang dapat  dilihat  dari letaknya yaitu di antara jalur Magelang-Yogyakarta sehingga memudahkan aksesibilitas dan juga dapat mendorong perkembangan ekonomi Kabupaten Magelang. Berdasarkan Tata Ruang Kabupaten Magelang, Kecamatan Mungkid sebagai peruntukan kawasan Pengembangan Mertomundur (Mertoyudan, Mungkid, Borobudur) dengan fungsi utama yaitu sebagai pusat pemerintahan kabupaten , pengembangan perdagangan, pertanianan dan aktifitas penunjang pariwisata.
Pabrik kertas Blabak merupakan objek yang akan direvitalisasi yang ada di Kecamatan Mungkid. Pabrik ini didirikan oleh Bank Industri Negara pada tanggal 17 Mei 1955 diatas tanah seluas + 13 Ha. Pada awalnya merupakan Perusahaan Negara (PN),  dan kemudian menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sejak tahun 1993 sebanyak 90 % sahamnya dibeli oleh PT. Kertas Basuki Rachmat  dan 10 % saham dimiliki oleh Negara Republik Indonesia, menjadikan PT. Kertas Blabak perusahaan swasta nasional. Pada awal tahun 2010, kepemilikan saham dibeli oleh PT. Satya Mitra Mandiri, sebelum perusahaan dinyatakan Pailit oleh Pengadilan Negeri/Niaga Semarang pada bulan Nopember 2010.
            Kondisi bangunan pabrik kertas pada saat ini masih cukup bagus, akan tetapi kawasan pabrik ini sangat berpotensi menjadi kawasan mati karena tidak ada pengelolaan yang dilakukan. Revitalisasi merupakan upaya yang dilakukan untuk memvitalkan kawasan yang sebelumnya merupakan kawasan mati untuk ditingkatkan fungsinya menjadi kawasan yang hidup. Tujuan revitalisasi adalah untuk meningkatkan kondisi ekonomi, sosial, fisik, dan lingkungan. Kawasan bekas pabrik akan lebih bernilai ketika dilakukan suatu usaha revitalisasi.
            Potensi yang ada di kawasan bekas pabrik kertas blabak di antaranya dapat dilihat dari segi luas kawasan pabrik yaitu sekitar + 13 ha. Akses menuju kawasan ini sangat mudah karena berada di dekat jalan utama Yogyakarta-Magelang. Ketersediaan air di kawasan ini dapat dipenuhi dari sumber air yang ada di sebelah utara yaitu di Kecamatan Sawangan dengan ketinggian tempat lebih tinggi dari kawasan ini.
Rencana revitalisasi kawasan yang akan dilakukan adalah dengan mengubah konstruksi gedung (rekonstruksi) dan menjadikan kawasan tersebut salah satu pusat olah raga (sport center) di Kabupaten Magelang. Latar belakang ide ini muncul karena Kabupaten Magelang pada saat ini belum memiliki sport center atau gedung olah raga yang memenuhi standard sehingga perlu dibangunnya fasilitas penunjang olah raga. Konsep yang digunakan adalah Green Architecture. Green architecture menjadi suatu mode yang saat ini popular di negara-negara maju. Prinsip-prinsip green architecture adalah :
1.    Hemat energy. Pengoperasian bangunan harus meminimalkan penggunaan bahan bakar atau energy listrik.
2.    Memperhatikan penggunaan sumberdaya (sumberdaya lahan, sumberdaya air dan lainnya).
3.    Pemanfaatan ruang sebagai lahan hijau.
Bangunan atau gedung dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bagian luar ruangnya dapat menjadi kawasan hijau guna memperbaiki iklim mikro di sekitar wilayah ini seperti yang telah dilakukan di California. Green Science Museum Redesign, California karya Renzo Piano, Penghijauan atap selain menurunkan kosentrasi CO2 di udara, kawasan hijau dan atap hijau merupakan langkah menurunkan suhu udara saat musim panas, mengurangi konsumsi energi mesin pendingin bangunan (Tri : 107).
Kebutuhan akan energi dari sport center ini dipenuhi dengan adanya panel surya pada spot spot yang telah ditetapkan. Air bersih untuk menunjang segala kegiatan pada sport center ini dicukupi dengan memanfaatkan beberapa mata air yang berada di Kecamatan Sawangan (sebelah timur laut dari daerah ini). Air dapat didistribusikan dengan sistem gravitasi. Sistem gravitasi merupakan sistem distribusi air tanpa menggunakan pompa. Air dialirkan dengan menggunakan pipa menuju tempat dengan ketinggian tempat yang lebih rendah. Sistem distribusi ini cukup sesuai dengan konsep green architecture karena menekan penggunaan energi untuk distribusi air.
Sport center ini dibangun supaya dapat meningkatkan potensi masyarakat dan meningkatkan pendapatan daerah. Desain seluruh bangunan sport center ini menggunakan konsep green architecture. Rencana penggunaan ruang pada area ini adalah sebagai berikut:
Gambar 1. Pola Penggunaan Lahan Bekas Pabrik Kertas sebagai Sport Center
Area 1 merupakan food court atau pusat makanan yang ada di area sport center. Penempatan food court pada bagian depan atau muka bertujuan untuk menarik perhatian pengguna jalan Magelang-Yogyakarta yang melewati area ini. Penjual makanan yang ada melibatkan peran serta dari masyarakat itu sendiri. Food court ini menjadi area yang disediakan bagi pedagang kaki lima di sekitar mungkid. Makanan yang disajikan merupakan makanan khas di daerah ini seperti Kupat Tahu Blabak, Mangut Beong, Sop Senerek, Sego Godhog, dan Sayur Lesah.
            Area 2 dan area 3 merupakan tempat parkir bagi pengunjung. Area 2 merupakan tempat perkir motor sedangkan area 3 adalah tempat parkir mobil. Tempat parkir mobil dan motor dibuat berbeda dengan tujuan menambah nilai estetika dan mempermudah akses ketika suatu saat terjadi bencana seperti gempabumi.
            Area 4 merupakan sport area 1 dimana area ini terdapat gedung bagi olah raga bulutangkis. Pada kondisi tertentu sport area 1 dapat dijadikan sebagai lapangan bola voli atau lapangan bola basket. Terdapat tribun bagi penonton pada bagian tenggara dan barat laut pada gedung ini.
            Area 5 merupakan sport area 2 yang merupakan kolam renang. Kolam renang dibuat tertutup (in door) dengan atap dari bangunan hijau dengan diberikan panel surya. Panel surya digunakan untuk mengurangi konsumsi energi yang dihasilkan dari bahan bakar fosil. Listrik yang dihasilkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi di sekitar lokasi. Konsep ini merupakan salah satu dari parameter arsitektur hijau. Hemat energi sebagai bagian penting dalam usaha merancang arsitekrut hijau lebih merujuk pada penghematan energi yang tidak terbarukan. Dengan menggunakan panel surya ini maka penghematan dapat dilakukan dengan menekan penggunaan listrik yang bersumber dari energi fosil (Tri : 108)
            Area 6 merupakan fountain jet yaitu air mancur yang menambah estetika dari Sport Area Blabak. Terdapat patung dan air mancur di tengah tengan area ini yang menjadi ciri khas Kabupaten Magelang. Patung yang ada merupakan hasil karya seniman-seniman yang ada di Kecamatan Muntilan yaitu kecamatan yang ada di timur laut Kecamatan Mungkid ini.
            Area 7 merupakan sport area 3 yang digunakan sebagai lapangan sepak bola. Pintu masuk menuju stadion berada di sebelah tenggara, barat daya, dan barat laut. Sekeliling area lapangan sepak bola dapat dimanfaatkan untuk olah raga lari (running). Area 8 adalah sport area 4 (SA 4) yang digunakan untuk olah raga beladiri seperti silat, karate, taekwondo, dan lainnya. Area 9 merupakan sport area 5 (SA 5) yang merupakan lapangan futsal. Area 9 merupakan sport area 6 (SA 6) yang dipergunakan untuk panjat tebing. Bangunan dibuat paling tinggi.
            Lahan di luar 10 area yang telah ditentukan akan dijadikan sebagai taman dan ruang terbuka hijau. Ruang terbuka menurut Plato merupakan wadah yang menampung aktivitas manusia dalam suatu lingkungan yang tidak mempunyai penutup dalam bentuk fisik dan tidak dapat dipisahkan dari manusia baik secara psikologis, emosional ataupun dimensional (Mulyandari, 2011).


Daftar Pustaka
Karyon, Tri Harso. 2014. Green Architecture: Pengantar Pemahaman Arsitektur Hijau di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.

Mulyandari, Hestin. 2011. Pengantar Arsitektur Kota. Penerbit Andi : Yogyakarta

REVITALISASI KAWASAN GOA MANGROVE Dengan KONSEP KONSERVASI MANGROVE MENJADI TEMPAT WISATA-EDUKASI MANGROVE

 Muhammad Fatchi M
NIM : 114130135


Di Dusun Pasir Mendit,Desa Jangkaran,Kecamatan Temon,Kab.Kulon Progo, D.I.Yogyakarta

Indonesia merupakan negara yang mempunyai garis pantai terbesar dengan nilai 81.000 Km atau wilayah pantai 5,8 juta Km² berdasarkan data stasistik nasional Indonesia terkenal dengan keindahan bahari dan perlindungan konservasi bahari, salah satunya adalah hutan mangrove. Semakin datar pantai dan semakin besar pasang surut, maka semakin lebar hutan mangrove dapat tumbuh (Mangrove Information Center, 2004). Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso, 2000). Kehidupannya tanaman mangrove mempunyai banyak manfaat, diantaranya adalah kehidupan fauna yang berada pada ekosistem mangrove.
Tanaman mangrove mempunyai fungsi penting, yaitu mencegah abrasi air laut, remidiasi limbah cair, dan gelombang pantai. Menurut (Spalding et al. 2001) dalam Herny Purnobasuki (2011) mangrove Indonesia mempunyai 45 spesies dan beberapa mangrove mempunyai peranan penting terutama manfaat ekologi, dan beberapa dijadikan pangan dan obat. Garis pantai Indonesia yang besar, maka pertumbuhan tanaman mangrove ini juga besar. Menurut (Ahmad Dwisetiawan, dan Kusomo Winarno. 2011) menyatakan bahwa mangrove Indonesia sangat terluas, hal ini dilihat dari pertumbuhannya pada lahan pasang-surut, dan beberapa garis pantai di Indonesia. Akan tetapi, perawatan dan pemeliharaan mangrove mempunyai banyak kendala terutama SDM (sumber daya manusia) yang belum mengerti manfaat dari tanaman mangrove dan potensi yang dihasilkan.
Apabila potensi yang dihasilkan terutama dapat menyeimbangkan faktor abiotik dan faktor biotik secara ekologi maka mangrove bisa mencapai pertumbuhan ekonomi Nasional. Menurut (Dewanti et al. 1990) dalam Mudian Paena dan Asbar (2001) mangrove secara ekologis mempengaruhi keseimbangan ekosistem kawasan pesisir pantai dan mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Secara ekonomis, mangrove mempunyai potensi adalah sebagai berikut. (1) tempat hidup yang cocok bagi berbagai jenis ikan, udang, maupun kepiting; (2) potensial untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian, pertambakan, dan penggaraman; (3) dapat dikembangkan menjadi daerah wisata (eco-tourism).
Lokasi yang akan direvitalisasi ini berada di Dusun Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kab.Kulon Progo, D.I.Yogyakarta. Lokasi ini berada di barat daya kota Yogyakarta dan berjarak sekitar 50 KM, dapat ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Menurut warga sekitar, pada tahun 1995 awalnya lokasi ini merupakan daerah mangrove. Mangrove yang ada dan tumbuh di daerah ini merupakan mangrove lokal. Kemudian pada tahun 1998 terdapat beberapa perguruan tinggi dan LSM yang mulai menanam ribuan batang pohon mangrove. Kemudian pada tahun 2009 masyarakat sekitar membuat kelompok masyarakat untuk mengelola kawasan mangrove tersebut. Dana anggaran untuk membangun fasilitas menggunakan dana swadaya. Lokasi ini sebenarnya berada di atas tanah sultan (sultan ground) yang di manfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai tambak udang maupun hutan mangrove yang saat ini digencarkan sebagai salah satu upaya konservasi mangrove. Akan tetapi permasalahan yang timbul adalah lahan tambak ditinggalkan karena bangkrut akibat meluapnya anak sungai Bogowonto dan sekarang menyisakan cekungan-cekungan dan plastic-plastik alas kolam sehingga terlihat kotor. Oleh karena itu wisatawan tidak tertarik untuk melihat ke pantai padahal apabila lahan bekas tambak ini diolah dapat menjadi daya tarik lainnya. Kemudian permasalahan lainnya adalah pada keadaan jembatan yang tidak memenuhi keamanan untuk para wisatawan. Akses jalan ke lokasi pun tidak dapat dilalui oleh bus besar, padahal akses jalan dan area parkir yang memadai dapat mendukung berkembangnya suatu tempat wisata. Oleh karenanya lokasi ini akan saya revitalisasi dengan konsep konservasi mangrove menjadi kawasan edukasi dan wisata.  
Sebenarnya lokasi ini cocok dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi mangrove dan juga wisata, karena pada dasarnya pun daerah ini adalah hutan mangrove yang jenis mangrovenya adalah mangrove lokal (bakau). Apabila dapat dimanfaatkan dengan baik maka banyak manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dan juga lingkungan sekitar. Wisata hutan mangrove merupakan suatu bentuk kegiatan berwisata dengan melakukan perjalanan mengelilingi area hutan mangrove serta menikmati segala keunikan yang terdapat di dalamnya (Ambara, 2009). Apalagi hutan mangrove di Indonesia mulai berkurang bahkan dapat menjadi punah apabila tidak ada tindakan lanjutnya. Tanaman mangrove sendiri sangat bermanfaat untuk lingkungan. Manfaat yang dapat dimanfaatkan dari mangrove seperti mencegah intrusi air laut, mencegah erosi dan abrasi pantai, penyaring alami, sebagai tempat hidup, sumber makanan bagi beberapa jenis satwa dan menstabilkan daerah pesisir.  Hutan mangrove mampu meredam energi arus gelombang laut, seperti tergambar dari hasil penelitian Pratikto et al. (2002) dan Instiyanto et al. (2003).
Keadaan saat ini yang merupakan hasil dari swadaya kelompok masyarakat sekitar lokasi. Meskipun telah mendapat perhatian dari dinas terkait, akan tetapi belum ada tindakan yang jelas. Maka revitalisasi yang akan saya lakukan ini untuk mengembangkan area ini menjadi area konservasi mangrove dengan konsep edukasi dan wisata. Tujuannya adalah ada hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan. Bantuan yang telah diberikan dinas terkait adalah sebuah kapal untuk menjadi alat transport untuk wisatawan yang akan melihat dan menyusuri hutan mangrove di anak Sungai Bogowonto ini. Meskipun saat ini kawasan ini banyak mulai dikenal orang dan mendatangkan wisatawan, daya tarik yang saat ini adalah hanya pada jembatan bambunya saja, padahal masih banyak lokasi yang dapat dijadikan daya tarik untuk wisatawan.
Jembatan bambu, 

Tempat yang menjadi daya tarik saat ini adalah jembatan bambu, hutan mangrove dan pantainya. Kemudian fasilitas saat ini adalah lahan parkir, tempat ibadah, warung makan dan toilet. Menurut rencana yang saya ajukan area ini akan dibagi menjadi 8 bagian, yaitu hutan mangrove, tempat parkir, amphitheater, foodcourt, simpul belajar, area outbound, taman mangrove (tepi sungai) dan area ATV. Pembagian area ini bertujuan agar dapat menaikkan 3 unsur (abiotik, biotik dan culture). Area hutan mangrove dapat dijadikan area jalan-jalan sambil menikmati kesejukan dan keindahan hutan mangrove ini. Tempat parkir dibuat agak luas agar dapat menampung kendaraan wisatawan seperti motor, mobil maupun bus. Untuk area pertunjukan kesenian maupun lainnya maka dibuat pelataran amphitheater, sehingga kesenian masyarakat sekitar ataupun daerah Kulonprogo dapat dikenal oleh wisatawan.
Jembatan Bambu
Tempat makan saat ini hanya berupa gubuk-gubuk yang dibuat oleh masyarakat. Rencana saya tempat makan dapat dijadikan satu menjadi foodcourt sehingga mudah dalam mengelola sampah, masyarakat yang ingin berjualan dan wisatawan dapat memiliki area yang luas untuk menikmati jajanan ataupun makanan yang disediakan oleh masyarakat sekitar. Area simpul belajar dimaksudkan dapat dijadikan tempat penyuluhan mangrove dan cara penanamannya untuk wisatawan. Untuk wisatawan anak-anak dapat juga melakukan outbound di area outbound yang telah disediakan sehingga dapat menghibur anak-anak. Kemudian untuk tepi sungai akan dijadikan taman mangrove dengan menanam mangrove di tepi sungai sehingga dapat menjadi tempat tinggal ikan ataupun satwa lain. Disediakan pula kapal maupun sampan untuk dapat menyusuri rimbunnya taman mangrove ditepi sungai ini. Untuk memanfaatkan area di tepi pantai yang merupakan bekas tambak udang yang telah ditinggalkan, dapat dimanfaatkan menjadi area bermain ATV. Lapisan kolam dan sisa-sisa tambak dapat dibersihkan dan dibuat area bermain ATV dengan memanfaatkan cekungan-cekungan bekas tambak untuk menguji adrenalin wisatan. Untuk meningkatkan keamanan bagi wisatawan yang menyusuri jembatan, maka perbaikan jembatan akan dilakukan dengan mengganti bamboo menjadi kayu yang kuat dan memberikan pagar pembatas di tepinya.
Mengkonservasi hutan mangrove di Indonesia dapat melestarikan mangrove yang mulai menipis di Negara ini. Untuk rencana jangka pendek, hanya area seperti pada rencana yang akan dilakukan revitalisasi. Sehingga ketika rencana ini dapat berkembang dengan baik, barulah area sekitarnya dapat di kembangkan seperti ini. Karena banyak konflik sosial yang terjadi di kawasan ini. Dengan rencana revitalisasi kawasan ini diharapkan dapat meningkatkan unsure abiotik, biotic dan culture kawasan sekitarnya. Namun hal yang tidak boleh dilupakan adalah disediakannya tempat sampah di berbagai sudut kawasan ini untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan. Dengan mengajak warga untuk mengelola kawasan ini maka diharapkan kawasan ini akan tetap terus terjaga. Kemudian untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar, mereka dapat berjualan di foodcourt area yang telah disediakan. Untuk menarik minat wisatawan datang dapat juga digelar event-event tertentu seperti pertunjukan kesenian di amphitheater ataupun kegiatan lainnya seperti lomba ATV dan kegiatan menanam pohon mangrove bersama-sama. Selain menjadi kegiatan konservasi mangrove, maka tempat ini dapat dijadikan menjadi area edukasi dan wisata mangrove untuk anak-anak yang kurang mengenal mangrove dan wisatawan yang ingin belajar mengenal mangrove ini. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka akan dibuat jam kunjung yaitu dari jam 6 pagi sampai jam 7 malam. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam memanfaatkan area wisata mangrove ini.
DAFTAR PUSTAKA
PRANATHA, I. M., ARTHANA, I. W., & UTAMI, N. W. (2015). Perencanaan Lansekap Wisata Berbasis Edukasi Mangrove. E-JURNAL ARSITEKTUR LANSEKAP , 30-39 VOL1, NO 1.


JAWABAN SOAL UTS PENATAAN DAN REVITALISASI KAWASAN 2

Nama : Della Neysa Henzalina
NIM    : 114130145


Penataan & Revitalisasi Kawasan

Merevitalisasi Bukit Kapur di Pendukuhan Ngelengkong, Groyokan Sambirejo untuk menjadi Taman Jurasic Park (Dinosaurus) yang terbesar di Asia. Revitalisasi ini memiliki konsep taman hijau yang asri dan tertata sebegai sarana edukasi. Taman yang dapat digunakan sebagai sarana hiburan serta edukasi ini mempunyai fasilitas terlengkap tentang peninggalan zaman purba kala dan konsep revitalisasi ini juga di dukung dengan ditemukannya kajian dari para peneliti bahwa daerah bukit kapur ini memiliki batuan kapur yang ternyata berasal dari endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran dan temuan tersebut semakin mendukung untuk dibangunnya taman edukasi ini yang bertema zaman purba kala.
Tebing breksi ini juga dapat digunakan untuk sarana belajar tentang sejarah geologi dan dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi semua pihak, akan tetapi proses revitalisasi ini harus dilaksanakan dengan bijaksana dan harus mempertimbangkan faktor-faktor teknis, finansial, social dan budaya yang ada. Pengembangan atau revitalisasi kawasan ini juga bekerjasama dengan berbagai investor asing sehingga proses revitalisasi yang akan dilaksanakan dapat mencapai hasil yang diinginkan. Dengan beberapa aspek :
a)    Sosial
Mengajak masysrakat sekitar tebing breksi untuk sadar akan adanya pembangunan cagar geologi yang dapat dimanfaatkan untuk edukasi bagi banyak orang dan pembangunan ini juga dapat menambah dan menaikkan penghasilan masyarakat local, dan wajib untuk melakukan pemantauan serta perlindungan daerah sekitar tebing untuk menjaga agar terhindar dari berbagai bencana.
b)   Lingkungan
Keberadaan tebing breksi yang terdapat di daerah ini akan menambah suasana yang diinginkan yaitu zaman purba kala yang diperkuat dengan adanya bekas galian breksi yang menginggalkan guratan-guratan yang indah pada tebing sehingga terbentuk panorama yang menarik untuk dikunjungi berbagai wisatawan local maupun wisatawan asing.
c)    Teknis
·         Tetap dijalankannya pertunjukan budaya sekitar sehingga para turis dapat mengetahui seni budaya yang terdapat di Groyokan Sambirejo ini.
·         Membuat wisata hewan purba dan cagar geologi
·         Mendatangkan hewan purba kala local seperti komodo dan memberikan tempat yang mirip dengan habitat asli

d)   Finansial
·         Menambahkan dan membuat sarana wisata olahraga seperti outbon.
·         Adanya kerjasama dengan pihak asing untuk membantu dalam mendatangkan replika-replika hewan purba (seperti : Dinosaurus)
·         Membuka paket perjalanan atau tour geowisata taman Jurasic Park dan bekerjasama dengan tempat-tempat wisata terdekat lainnya seperti Candi Prambanan, Situs Candi Ratu Boko, Candi Ijo dan Candi Barong.
·         Mengembangkan ekonomi local dengan menjual berbagai karya seni local dan barang-barang kerajinan tangan serta kuliner khas daerah sekitar yang dibuat oleh masysrakat sekitar atau masyarakat local untuk dijual kepada wisatawan yang akan datang.

·         Membangun penginapan dengan mengajak dan menggunakan daerah sekitar dengan konsep penginapan ala-ala zaman dahulu kala yang bekerjasama dengan penduduk local.

Pengembangan Kawasan Pariwisata Kabupaten Blora “Waduk Tempuran” secara Revitalisasi dan Penataan Lingkungan

Nama: Yulanda Kurnia Pradani
NIM: 114130017




Blora merupakan sebuah kabupaten yang terdapat di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Blora di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Pati, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Tuban dan Bojonegoro Jawa Timur, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Ngawi dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Grobogan.
Di bidang pariwisata sendiri Kabupaten Blora memiliki beberapa tempat wisata yang cukup indah dan menjadi tujuan wisata bagi para wisatawan dari berbagai daerah. Salah satu tempat wisata yang cukup menarik di Kabupaten Blora adalah Waduk Tempuran.

Dusun Duwet Desa Tempuran, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora

Waduk Tempuran dibangun pada awal tahun 2000 dengan luas kurang lebih 4.675  Ha. Waduk Tempuran terletak di Desa Tempuran, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora berjarak 15 km kearah utara dari jantung kota Blora. Waduk ini memiliki pemandangan yang indah dan air yang sangat melimpah pada saat musim hujan. Pemanfaatan air dari Waduk Tempuran salah satunya yaitu sebagai irigasi sawah dan ladang yang ada di sekitar waduk. Kebutuhan air meliputi kebutuhan air untuk domestik dan non domestik, industri, pemeliharaan sungai, peternakan, perikanan, dan irigasi (Bambang Triatmodjo, 2008 : 340).
Hal menarik yang dapat dilihat pada saat mengunjungi Waduk Tempuran adalah terdapat sebuah dusun kecil yang terletak di tengah – tengah Waduk, yaitu Dusun Duwet. Di area Waduk Tempuran terdapat beberapa warung – warung makan yang cukup besar dan area pemancingan, losmen, wisata air, waterbom, dll. Mengembangkan dan memanfaatkan keindahan bentuk fisik kawasan pariwisata Waduk Tempuran merupakan salah satu upaya untuk menarik jumlah pengunjung. Untuk itu, strategi yang digunakan untuk mengembangkan kawasan wisata Waduk Tempuran dapat dilakukan melalui revitalisasi dan penataan ruang atau kawasan. Penataan ruang adalah pengaturan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan bagi kegiatan pembangunan berbagai sektor yang membutuhkan ruang (Djauhari Noor, 2011 : 326).

Gambar Konsep Pembangunan dan Revitalisasi Waduk Tempuran

Konsep pembangunan waduk yang dapat dilakukan antara lain:
1.      Pembangunan Bendungan dan Pusat Oleh – Oleh Khas Blora
Bendungan (dam) dapat didefinisikan sebagai suatu penghalang (barrier) yang dibangun memotong sungai untuk menampung air selama periode tertentu dan melepaskannya kembali apabila dibutuhkan. Dengan memiliki daya tampung tersebut sejumlah besar air sungai yang melebihi kebutuhan dapat disimpan dalam waduk dan baru dapat dilepas mengalir ke dalam sungai lagi di hilirnya sesuai dengan kebutuhan pada waktu yang diperlukan.
Area yang cukup luas tetapi hanya sedikit bangunan membuat Waduk Tempuran terlihat kosong. Sehingga di area- area yang strategis dan kosong akan lebih baik dibangun stand pusat oleh – oleh khas Blora.
2.      Penanaman Pohon di sekitar Waduk
Pohon merupakan salah satu sumber oksigen terbesar di bumi, dengan adanya pohon lingkungan sekitar akan terasa lebih sejuk dan rindang. Dahulu sebelum Waduk Tempuran ramai dengan para wisatawan, masih terdapat banyak pohon beringin dan pohon asam di pinggir jalan di sekitar bendungan. Semakin banyaknya pengunjung, untuk memperluas jalan dan pembangunan beberapa warung makan di area waduk pohon – pohon tersebut ditebang tanpa ada penghijauan ulang. Hal tersebut membuat beberapa jalan di area waduk terlihat gersang pada saat musim kemarau. Sehingga penanaman pohon harus dilakukan untuk mengembalikan suasana Waduk menjadi lebih hidup dan rindang.
3.      Penataan dan Perawatan Wahana Waterbom
Di area Waduk Tempuran terdapat beberapa warung makan yang cukup besar, beberapa losmen, dan area wisata berupa waterbom. Waterbom di area tersebut cukup besar dan cukup ramai oleh para pengunjung setiap minggunya. Tetapi perawatan beberapa wahana kurang baik dan ada beberapa wahana yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal tersebut dapat membahayakan dan menurunkan minat para wisatawan yang berkunjung. Sehingga perawatan dan penataan ulang area waterbom harus dilakukan secara berkala untuk meningkatkan minat pengunjung.
4.      Penataan dan Pembangunan Warung Warung di area Waduk Tempuran
Waduk Tempuran terdiri dari beberapa warung makan lesehan yang cukup besar dengan keunikan warung masing – masing. Tetapi hanya terdapat dua warung lesehan yang cukup besar dan cukup terkenal. Maka dari itu pembangunan warung dipusatkan di dua warung lesehan tersebut agar area di sekitar warung lesehan dapat dilakukan pembangunan untuk wahana yang lain. Warung lesehan masing – masing disediakan area pemancingan untuk meningkatkan minat para pengunjung yang hobi memancing. Menu – menu andalan di warung lesehan tersebut antara lain gurami bakar/goreng, nila bakar/goreng, gurami/nila asam manis, dll.
5.      Penghidupan Kembali Wisata Air dan Wisata Keliling Waduk Menunggangi Kuda
Waduk Tempuran sebagai tempat berlatih atlet - atlet dayung Kabupaten Blora, yang sudah mampu berbicara baik ditingkat Nasional maupun Internasional. Tidak jarang pada sore hari banyak atlet dayung berlatih dan beberapa kali diadakan perlombaan dayung di area tersebut. Para pengunjung yang ingin berlatih mendayung, telah disediakan atlet yang sudah berpengalaman untuk melatih olahraga dayung.
Adanya sarana wisata air berupa Becak Air mengelilingi waduk yang dapat ditumpangi sebanyak empat orang. Namun, beberapa waktu terakhir wisata air tersebut sudah tidak ada lagi dikarenakan rusaknya sepeda air tersebut. Maka dari itu untuk lebih menarik minat para pengunjung khususnya anak – anak, wisata Becak Air harus dihidupkan kembali dan dilakukan perawatan agar pearalatan tidak mudah rusak.
Beberapa warga masyarakat di Dusun Duwet memelihara kuda dan tak jarang para pengunjung menyewa kuda tersebut untuk berkeliling mengitari waduk dengan menunggangi kuda. Tapi sayangnya tidak ada tempat resmi untuk menyewa kuda, sehingga ada beberapa pengunjung yang tidak tahu tentang mengelilingi waduk dengan menunggangi kuda.
Sehingga akan dibangun suatu tempat atau stand untuk menaiki Becak Air, menyewa alat dayung untuk berlatih olahraga dayung, dan menyewa kuda untuk berkeliling waduk.
6.      Pembangunan Losmen atau Penginapan
Losmen di area Waduk Tempuran terlihat sepi dan kurang menarik. Pembangunan losmen atau penginapan yang unik dapat meningkatkan minat para pengunjung untuk menginap, terutama pengunjung yang berasal dari luar kota. Penginapan tersebut terletak tepat di depan Waterbom, sehingga sangat cocok untuk para pengunjung yang mengajak anak – anak yang ingin bermain air menginap di losmen tersebut.


Daftar Pustaka
Mukono, H.J. 2002. Epidemiologi Lingkungan. Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair : Surabaya
Noor, Djauhari. 2011. Geologi untuk Perencanaan. Graha Ilmu : Yogyakarta

Triatmojo, Bambang. 2008. Hidrologi Terapan. Beta Offset : Yogyakarta.