KENALKAH JENIS KONSERVASI ?

Kamis, 02 Januari 2014

Revitalisasi Wilayah Tugu Api Mabuun, Kab. Tabalong, Kalimantan Selatan


Nama   : Gita Prima Marswari Ch. A
NIM    : 114100017
Kelas   : A



Gambar 1. Tugu Api Mabuun
Bagi mereka yang tinggal di kawasan Banua Enam (Enam Kabupaten ) Utara Provinsi Kalimantan Selatan, mungkin begitu mudah menentukan arah Kota Tanjung, ibukota Kabupaten Tabalong. Pasalnya bila malam hari kota Tanjung mudah dikenali arahnya karena di kota ini ada obor api menjulang tinggi memancarkan cahaya memerah yang berasal dari gas yang keluar dari tambang minyak bumi, sehingga menjadi ciri khas kota Tanjung sebagai Kota Bersinar.
Tugu Api ini terletak di pertigaan yang biasa disebut sebagai segitiga emas, karena merupakan persimpangan yang merupakan akses yang menghubungkan tiga provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Dalam rangka penataan kota di Kabupaten Tabalong, maka dilakukan pengembangan wilayah ke daerah Tugu Api Mabuun ini. Pusat pemerintahan yang awalnya berada di Kecamatan Tanjung akan dipindahkan ke daerah ini. Pembenahan infrastruktur salah satu yang sudah dikerjakan adalah pembangunan Islamic Center dengan konsep pembangunan persembahan oleh PT Adaro Indonesia. Proyek dibangun di atas lahan milik Pemkab Tabalong seluas 8 hektare.
Gambar 2. Kondisi Kota Tanjung
Description: D:\Kampus\TL GHita\SEMESTER 7\revitalisasi\GE.jpg
Gambar 3. Daerah Tugu Api dan sekitarnya
Description: D:\revitalisasi\islamic.jpg
Gambar 4. Islamic Center yang telah selesai di bangun
Pembangunan berikutnya adalah relokasi Rumah Sakit Umum Daerah H Badarudin yang akan dilakukan di Maburai. Dimana sudah dalam tahap awal alokasi dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) sebesar Rp 30 miliar.
Pelebaran jalan dari Tugu Api Mabuun sampai tugu batas kota Maburai menambah daftar pembangunan lainnya. Karena semua bangunan tersebut membutuhkan daya listrik yang lumayan besar, pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan kapasitas 2 x 30 megawatt yang dikerjakan PT Makmur Sejahtera Wisesa (MSW) diusahan dapat menyalurkan bantuannya.
Perbaikan infrastruktur lain yang juga sedang dilakukan adalah pelebaran jalan dari tugu mabuun ke arah simpang pengajian Guru Danau yang sudah pada tahap pemasangan tiang listrik dan lampu jalan.
Description: D:\revitalisasi\dscn0196.jpg
Gambar 5. Pelebaran jalan yang sedang dilakukan
Karena adanya pengembangan wilayah di daerah ini maka pembangunan bangunan-bangunan milik warga juga mula bermunculan. Ruko-ruko mulai menjamur, tidak ketinggalan juga warung-warung kecil serta para pedagang kaki lima (PKL) yang membuka lapaknya ditempat-tempat strategis yang kadang tidak tepat untuk berjualan dan bahkan dapat membahayakan keselamatan mereka. Sudah berbagai upaya yang dilakukan seperti dilakukan penertiban, tetapi mereka masih saja berjualan ditempat itu.
Description: D:\Kampus\TL GHita\SEMESTER 7\revitalisasi\GE2.jpg
Gambar 6. Denah Lokasi Rencana Revitalisasi
Melihat fenomena seperti ini maka menurut saya pemerintah diharapkan perlu menyediakan tempat kuliner atau memberi arahan untuk mereka berjualan yang tentunya tepat dan strategis, yang tentunya sesuai dengan nilai estetikanya. Karena di sana sebagian besar mereka mendirikan bangunan semi permanen di atas tanah milik mereka sendiri, hanya saja kurang tertata baik sehingga terlihat berantakan dan kumuh.
Description: D:\Kampus\TL GHita\SEMESTER 7\revitalisasi\422-bandung-kini-lautan-kuliner-2.jpeg
Description: D:\Kampus\TL GHita\SEMESTER 7\revitalisasi\Segernya Yoghurt Cisangkuy Bandung.jpg
Gambar 7. Contoh konsep tempat kuliner yang dapat diterapkan


Daftar Pustaka

VISI :MISI :


VISI :

•Memanfaatkan Warisan Kekuatan Masa Lalu Untuk Masa Sekarang Dan Masa Depan


MISI :

1.Memelihara Warisan Kekuatan Masa Lalu

2.Meletakan Konsep Konservasi Warisan Kekuatan Masa Lalu Dalam Perspektip 

   Kebutuhan Masa Sekarang Dan Masa Depan

3.Merajut Warisan Kekuatan Lama, Sekarang Dan Masa Depan

“Revitalisasi Kebun Teh Kajoe Aro, Salah Satu Pesona Alam Kerinci Jambi”

                                                                                                                                   Nama  : FEBRIANI
NIM    : 114100043
Kelas   : A
 

Kabupaten Kerinci adalah salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jambi dengan ibukota berada di Sungai Penuh. Kabupaten Kerinci layaknya kabupaten lain di Sumatera Barat yang dikelilingi oleh gugusan bukit barisan. Sepanjang mata memandang, bukit-bukit yang menjulang tinggi akan memanjakan mata kita, banyak istilah untuk menyebutkan keindahan Kerinci ini, diantaranya Bumi Sakti Alam Kerinci dan Sepenggal Tanah dari Surga. Kerinci kaya dengan keanekaragaman hayati, flora, dan fauna. Namun, bukan itu saja yang membuat kerinci patut dikunjungi oleh para wisatawan. Kabupaten ini memiliki keindahan budaya dan tradisi yang melembaga, peninggalan sejarah, seni tari, lagu, dan barang kerajinan. Membicarakan keindahan panorama alam di kabupaten paling barat di provinsi Jambi ini seakan tidak akan pernah habis. Kerinci dengan luas wilayah 420.000 hektar, sekitar 51,2 persen atau 215.000 hektar diantaranya merupakan kawasan konservasi Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Sisanya 205.000 hektar (48,8 persen) merupakan kawasan peruntukan.
Keindahan alam Kerinci dengan TNKS ibarat sekeping mata uang dengan dua sisi, tidak bisa dipisahkan. Kabupaten Kerinci merupakan dataran tinggi terbesar di dunia, dikelilingi oleh TNKS. Udaranya sejuk, rata-rata per tahun minimum 17 derajat celcius, dan maksimum 27 derajat celcius. Berada pada ketinggian 700-2.000 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan titik tertinggi puncak Gunung Kerinci 3.805 meter dpl. Pemerintah Kabupaten Kerinci sejak lama terus bergiat mempromosikan keindahan alamnya sebagai obyek wisata ke tingkat nasional maupun internasional. Di daerah ini tersedia wisata alam, agrowisata wisata budaya, dan sejarah. Sekitar 70 persen obyek wisata di Provinsi Jambi berada di Kabupaten Kerinci dan relatif berdekatan sehingga mudah dikunjungi.
Perkebunan Teh Kayu Aro yang terletak di Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi merupakan perkebunan teh satu-satunya yang diusahakan secara terpadu di bawah pengawasan PTPN VI serta perkebunan ini merupakan unit perkebunan yang terluas di dunia dengan luas sekitar 3.020 hektar berada pada ketinggian 1.400-1.600 meter dpl. Perkebunan teh ini adalah perkebunan tertua di Indonesia, dibuka antara tahun 1925 dan tahun 1928 oleh perusahaan Belanda, Namblodse Handle Vereniging Amsterdam (NV HVA) . Teh di tempat ini mulai ditanam pada tahun 1929 dengan varietas spesifik, ditanam asli dari biji teh. Empat tahun kemudian, 1932, perusahaan Belanda membangun pabrik teh di Bedeng VIII Kayu Aro dengan kapasitas produksi 90 ton pucuk teh per hari, dan kapasitas terpasang 100 ton.
Pabrik Teh Kayu Aro hingga kini merupakan pabrik teh terbesar di dunia yang masih aktif dan merupakan pabrik teh tertua di Indonesia. Teh produksi Perkebunan Teh Kayu Aro hingga kini merupakan teh hitam terbaik di dunia. Hasil dari produksi Teh Kayu Aro telah di ekspor ke berbagai daerah dan telah menembus pasar internasional. Saat ini, Perkebunan teh ini menjadi salah satu objek wisata utama di Kabupaten Kerinci tapi baru sebatas pemanfaatan view dan bersantai belum ada pengembangan fungsi kearah agrowisata yang akan menambah daya tarik wisatawan mengingat tempat ini sangat berpotensi walaupun sudah ada wacana dari pemerintah setempat. Sesuai dengan kondisi Kabupaten Kerinci yang merupakan daerah tropis dan bercurah hujan tinggi, membuat daerah ini menjadi andalan pertama di Provinsi Jambi dalam sektor pertanian. Di daerah ini banyak lahan-lahan pertanian yang produktif dan kebanyakan masyarakat sekitar mengandalkan lahan pertanian sebagai sumber mata pencaharian. Selain itu Kabupaten Kerinci juga berada cukup straegis yang bisa menghubungkan tiga provinsi sekaligus yaitu Provinsi Jambi, Sumatera Barat dan Bengkulu.
Konsep dasar dari perencanaan Kebun Teh Kajoe Aro adalah menjadikan kawasan perkebunan teh Kayu Aro sebagai kawasan kebun produksi dan kawasan wisata pertanian sehingga perekebunan teh Kayu Aro dapat menjadi alternatif tempat berwisata dan rekreasi. Konsep agrowisata akan dikembangkan berdasarkan konsep dasar yang sudah ada sehingga direncanakan tujuh konsep pengembangan: konsep wisata, ruang, sirkulasi, vegetasi, konservasi, fasilitas penunjang, dan pengelolaan pengunjung. Agrowisata perkebunan teh diharapkan mampu mengembangkan potensi serta meningkatkan aktivitas wisata yang berbasis pertanian.
Menurut Arifin (1992) agrowisata adalah salah satu bentuk aktivitas wisata yang dilakukan di kawasan pertanian dan aktivitas didalamnya seperti persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan hasil panen sampai dalam bentuk siap dipasarkan, dan wisatawan dapat membeli produk pertanian tersebut sebagai oleh-oleh. Agrowisata juga ikut melibatkan wisatawan dalam aktivitas-aktivitas pertanian. Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam sebuah perencanaan agrowisata menurut Tirtawinata dan Fachruddin (1996) adalah sesuai dengan rencana pengembangan wilayah tempat agrowisata itu berada, dibuat secara lengkap dan sesederhana mungkin, mempertimbangkan tata lingkungan dan kondisi sosial masyarakat disekitarnya, selaras dengan sumberdaya alam, sumber tenaga kerja, sumber dana dan teknik-teknik yang ada serta perlu evaluasi sesuai dengan perkembangan yang ada. Menurut Gunn (1994) perencanaan yang baik dapat membuat kehidupan masyarakat yang lebih baik, meningkat perekonomian, melindungi dan sensitif terhadap lingkungan, dan dapat diintegrasikan dengan komunitas dan memiliki dampak negatif yang rendah. Hal tersebut dapat dilakukan dengan perencanaan yang lebih baik dan terintegrasi pada semua aspek pengembangan wisata.
Agrowisata diartikan sebagai rangkaian aktivitas wisata yang memanfaatkan lokasi atau kawasan dan sektor pertanian. Dalam kasus ini kawasan yang dimanfaatkan adalah kawasan perkebunan teh, mulai dari kegiatan awal sampai dengan produk yang dihasilkan dalam berbagai sistem, skala, dan bentuk dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pemahaman, pengalaman, dan rekreasi di bidang pertanian.
Agrowisata tersebut terkait juga dengan kondisi objek-objek wisata di Kabupaten Kerinci yang pemanfaatannya kurang optimal. Padahal, di kabupaten ini terdapat banyak objek wisata yang dapat dijual dan akan menambah pendapatan pemerintah daerah. Selain itu sirkulasi dan sajian objek pertanian, kegiatan agrowisata dapat menjadi alternatif kegiatan wisata yang menyenangkan serta meningkatkan nilai edukasi, di samping memberikan alternatif tambahan pendapatan bagi masyartakat.



Agrowisata memiliki beberapa manfaat, di antaranya sebagai berikut:
l  meningkatkan nilai estetika dan keindahan alam.
l  meningkatkan konservasi lingkungan; Nilai-nilai konservasi yang ditekankan lebih kepada keseimbangan ekosistem dan pemeliharaan berbagai jenis tanaman yang berguna untuk melestarikan sumber plasma nutfah dan memiliki fungsi hidrologis untuk menahan cadangan air. 
l  memberikan nilai rekreasi; Sebagai obyek pariwisata, agrowisata tidak dapat dipisahkan dengan aktivitas rekreasi. 
l  mendapatkan keuntungan ekonomi; Keuntungan tersebut tidak hanya bagi pengelola agrowisata tapi bagi daerah dan masyrakat sekitar lokasi. 
l  meningkatkan kegiatan ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan; Kekayaan flora, fauna dan seluruh ekosistem yang ada di dalam kawasan agrowisata dapat mengundang rasa ingin tahu dari para peneliti, ilmuan maupun kalangan pelajar. 
Perencanaan lanskap kebun teh Kajoe Aro sebagai tempat agrowisata perlu dilakukan mengingat potensi yang dimiliki kawasan ini cukup besar, tetapi belum ada pemanfaatan lebih lanjut. Perencanaan dilakukan agar potensi yang dimiliki dapat dikembangkan secara maksimal dengan tahap-tahap yang sistematis dalam proses perencanaan sehingga tujuan dari perencanaan dapat tercapai. Akan tetapi, dalam proses perencanaannya tetap merujuk pada pemenuhan produksi teh yang berkualitas baik, kondisi ekologis yang alami, serta pemenuhan kebutuhan wisata dari masyarakat lokal dan masyarakat sekitar kawasan. Hamparan di sekeliling kebun Teh Kajoe Aro, terdapat tempat wisata yang juga bisa dinikmati.
Sayangnya, berbagai potensi alam  itu tak didukung infrastruktur yang memadai, sarana pendukung seperti jalan raya, angkutan umum, dan penginapan, kurang menunjang. Kerinci, saat ini bisa diakses dari tiga lokasi, yaitu dari Tapan dan Solok Selatan, Sumatera Barat, serta Bangko, Jambi. Di antara ketiga akses itu, hanya jalan dari Solok Selatan menuju Sungai Penuh yang kondisinya baik, walaupun berkelok-kelok. Sementara dari Tapan dan Bangko, jalannya hancur-hancuran.
Jalan dari kota Bangko menuju Kerinci sepanjang 60-an kilometer sudah lama rusak. Begitu pula ruas dari Tapan menuju Sungai Penuh. Lubang besar, aspal terkelupas, dan retak-retak sangat mengganggu perjalanan. Beberapa titik di jalanan berkelok-kelok di atas bukit itu longsor. Saat hujan deras, longsoran kerap menyelimuti badan jalan. Kendaraan sulit melintas, bahkan jika melintas bisa tertimbun reruntuhan tanah merah.
Sebenarnya ada juga transportasi udara, dari bandara Depati Parbo di Sungai Penuh. Setelah hamper tiga tahun ditutup, bandara itu belakangan ini beroperasi kembali. Namun frekuensi penerbangan rendah. Transportasi umum lainnya juga minim. Untuk menempuh perjalanan darat selama 10-12 jam dari Jambi ke Kerinci hanya tersedia sejumlah minibus dan bus ekonomi. Tingkat kenyamanan jauh dari memadai. Hotel yang berfasilitas baik masih terbatas. Tapi di Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, ada sejumlah rumah warga yang dijadikan homestay.
Lemahnya infrastruktur membuat pesona alam Kerinci menjadi terabaikan, bahkan seperti terisolasi. Akibatnya, Kerinci belum menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan domestic, apalagi mancanegara. Kendala-kendala seperti infrastruktur diperlukan penanganan yang cepat. Peran pemerintah dan masyarakat setempat sangat dibutuhkan agar kendala dapat teratasi.
Revitalisasi kawasan Kerinci khususnya di perkebunan Teh Kajoe Aro sangat berdampak positif untuk kemajuan perekonomian masyarakat sekitar dan sekaligus menjadi akses wisata lainnya disekitar. Revitalisasi dimulai dari akses infrastruktur jalan dari kota Jambi menuju ke Kerinci dan akses jalan alternatif untuk perjalanan dari Sumatera Barat dan sekitarnya. Pemasangan lampu jalan di setiap beberapa meter untuk penerangan di malam hari, pembatas jalan untuk keselamatan pengguna jalan, jalan yang berlubang dan tidak diaspal, segera diperbaiki, serta dibuat jalur evakuasi, jika terjadi bencana alam, karena wilayah ini merupakan wisata alam, yang memiliki dampak yang tak terduga. Akses jalan selain digunakan untuk masyarakat umum, juga digunakan untuk transportasi pengangkut hasil kebun teh dan tanaman holtikultura yang setiap harinya di antarkan ke agen-agen dan pasar di seluruh wilayah provinsi Jambi dan Sekitarnya, bahkan di ekspor ke mancanaegara. 
. Aktivitas wisata yang dapat dilakukan terdiri dari wisata pertanian yaitu yang dilakukan di ruang budi daya, antara lain, wisatawan dapat langsung mengetahui cara pembudidayaan tanaman teh sampai pada proses pengolahannya serta aktivitas wisata umum, antara lain, outbound, camping, bersampan, play ground, tea walk, cycle riding track, horse riding track, picnic, viewing, memancing, duduk-duduk sambil minum teh, photo hunting, interpretasi alam, dan melukis. 
Rencana sirkulasi dan perubahan yang dikembangkan pada tapak terdiri dari sirkulasi interpretasi, yaitu sirkulasi yang akan mengarahkan wisatawan untuk dapat menyaksikan atraksi-atraksi yang tersebar di dalam kawasan perkebunan, dan sirkulasi pelayanan, yaitu sirkulasi untuk menghubungkan ruang wisata dan ruang pelayanan. Rencana fasilitas yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan ruang. Pada ruang wisata akan disediakan fasilitas, antara lain, jalan setapak, signboard, papan penunjuk arah, gapura, bangku, meja taman, lampu jalan, pagar, dek kayu, gazebo, shelter, perahu kecil, tempat sampah, permainan playground, museum teh, dan menara pandang. Pada ruang pelayanan akan disediakan fasilitas berupa pintu masuk (main gate), pos jaga, loket penjualan karcis, tempat parkir, mesjid/musholla, toilet, tempat makan, penginapan, kios penjualan cendera mata, kios penyewaan alat, dan gedung pusat informasi. Rencana vegetasi pada wilayah ini akan disesuaikan dengan fungsi yang ingin dicapai, yaitu fungsi produksi, fungsi estetis, fungsi pengarah, dan fungsi pembatas.
Pengajuan revitalisasi ini bekerjasama dengan PTPN VI persero yang ada di wilayah kerinci dan pemerintah provinsi Jambi dalam peningkatan nilai ekonomi dan nilai jual wisata.

Sumber Pustaka:
-PTP Nusantara VI (PERSERO). 2008. Profil Perusahaan PTPN VI (PERSERO) Unit Usaha Kayu Aro. Kerinci.
-Bonanza, Occy. 2008. Perencanaan Lanskap Kebun Teh Kayu Aro Kerinci (Skripsi) IPB. Bogor.
-Tirtawinata, M.K. dan L. Fachrudin. 1996. Daya Tarik Pengelolaan Agrowisata. Bogor: Penebar Swadaya.

-Bappeda Kabupaten Kerinci. 2008. Profil Investasi dan Produk Unggulan Kabupaten Kerinci, Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi. 

Minggu, 29 Desember 2013

PENATAAN DAN REVITALISASI KAWASAN WISATA AIR TERJUN BERSUSUN SALODIK DI KECAMATAN LUWUK KABUPATEN BANGGAI PROPINSI SULAWESI TENGAH


Oleh; Rizki Rachmad Tamagola

·         PENDAHULUAN
Secara historis wilayah Kabupaten Banggai mulanya adalah bagian dari Kerajaan Banggai yang sudah dikenal sejak abad 13 Masehi sebagaimana termuat dalam buku Negara Kertagama yang di tulis oleh Pujangga Besar Empu Prapanca pada tahun Saka 1478 atau 1365 Masehi. Kabupaten Banggai merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi tengah yang terletak di bagian pantai timur Pulau Sulawesi. Kabupaten Banggai dengan ibukota Luwuk secara geografis terletak pada posisi 0° 30'-02° 20' LS dan 122° 10' - 124° 20' BT.

-          Potensi
Kawasan wisata ini sangat berpotensi untuk menarik wisatawan baik itu wisatawan asing maupun wisatawan lokal, selain itu kawasan wisata ini berpotensi untuk membantu mensejahterakan masyarakat sekitar, dapat membuat daerah yang terdapat tempat wisata tersebut menjadi lebih di kenal, dan dapat meningkatkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
-          Masalah
Adapun masalah atau kendala yang di hadapi dalam tujuan untuk membuat tempat wisata ini menjadi di kenal yaitu sebagai berikut :
Tempat wisata ini atau daerah yang terdapat tempat wisata ini belum banyak diketahui oleh wisatawan, masih kurangnya infrastruktur yang mendukung tempat wisata ini seperti banyaknya toilet dan kamar ganti yang rusak, tidak adanya home stay atau tempat menginap, tidak adanya warung-warung makan atau restoran, dan ditambah lagi dengan banyaknya jalan yang rusak sehingga mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung ke tempat wisata ini.

·         PROSES REVITALISASI

-          Teori & Konsep
Dengan melihat permasalahan diatas perlu di lakukannya suatu perencanaan yang mana dapat sedini mungkin menentapkan suatu tujuan dan memilih langkah-langkah yang di perlukan untuk mencapai suatu tujuan tersebut (Tarigan,2005). Akan tetapi, sangat diperlukannya suatu perencanaan ruang wilayah karena sangat berhubungan erat dengan penggunaan lahan sekitrar (land use planning) yang intinya suatu proses pemanfaatan seuatu yang dapat memberikan kemakmuran yang sebesar-besarnya kepada masyarakat baik jangka pendejk maupun jangka panjang termasuk menunjang daya pertahanan dan terciptanya keamanan.
Prinsip yang digunakan kali ini yaitu tentang konsep dalam menyatu padukan suatu “Prinsip Dasar Kebijakan dengan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan” karena suatu pembangunan masyarakat yang berkelanjutan merupakan prose pembangunan yang menjamin maa depan suatu masyarakat (Asmarty sen,2003).

foto bagian lain dari air terjun salodik

·         REKOMENDASI

-          Apa Saja Yang Direvitalisasi
Adapun hal-hal yang perlu di lakukan revitalisasi antara lain, perbaikan toilet dan penambahan toilet, perbaikan kamar ganti dan penambahan kamar ganti, pembangunan home stay atau tempat menginap, pembangunan warung-warung makan atau restoran bagi para wisatawan, pembangunan hal-hal baru seperti tempat out bond dan tempat bermain paintball, pembuatan iklan agar para wisatawan dapat mengetahui tempat wisata tersebut, dan perbaikan jalan agar mudah di jangkau bagi para wisatawan, baik itu wisatawan lokal maupun wisatawan asing.

Gambar 1.1 Contoh konsep pembangunan tempat out bond dan tempat bermain paintball


Gambar 1.2
Foto air terjun salodik dan foto bagian lain dari air terjun salodik



-          Bagaimana Caranya
Caranya yaitu dengan dengan melakukan pengajuan laporan rencana Revitalisasi Air Terjun Salodik ini kepada pemerintah daerah, melakukan persentasi tentang laporan rencana Revitalisasi Air Terjun Salodik ini, dan pemberitahuan dampak negativnya kepada  pemerintah daerah setempat agar rencana revitalisasi ini dapat terwujud.





DAFTAR PUSTAKA
-         Jayadinata Johara, 1999. Tata guna Lhan Dalam Perencanaan Pedesaan, Perkotaan Dan Wilayah, ITB, Bandung.
-         Asmarty Sen, 2003. Institution for Sustainable Development, World Development Report, World Bank
-         Dr.Msc.Ir. Sugandhy.Aca dan Hakim.R. 2007.Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan. Bumi Aksara, Jakarta





Senin, 23 Desember 2013

KEBIJAKAN & STRATEGI Revitalisasi Kawasan



Kebijakan 1:
Revitalisasi kawasan dilakukan pada kawasan-kawasan strategis/potensial yang menurun produktivitas ekonominya dan terdegradasi lingkungan fisiknya, serta sudah menjadi komitmen Pemda untuk menangani

Kebijakan 2:
Peningkatan kualitas penataan bangunan dan lingkungan yang mampu memberdayakan aktivitas ekonomi, sosial dan budaya kawasan.

Kebijakan 3:
Pengelolaan kawasan revitalisasi yang berkelanjutan.

Kebijakan 1:
Revitalisasi kawasan dilakukan pada kawasan-kawasan strategis/potensial yang menurun produktivitas ekonominya dan terdegradasi lingkungan fisiknya, serta sudah menjadi komitmen Pemda untuk menangani kawasan tersebut secara optimal.

Strategi:
Kawasan yang direvitalisasi diarahkan pada:

a)Kawasan yang menurun produktivitas ekonominya, terjadi degradasi lingkungan dan/atau penurunan kerusakan urban heritage.
b)Lokasi yang  memiliki nilai investasi/potensi peningkatan nilai properti yang tinggi.

c)Kawasan strategis yang berpotensi di sektor pariwisata, perdagangan, permukiman, industri, pasar, budaya, pendidikan, ekologi dan warisan budaya.

d)Kota-kota yang strategis menurut UU Tata Ruang    (PKN, PKW, PKK).

e)Komitmen Pemda yang tinggi.

f)Kepemilikan tanah (land tenure) yang tidak bermasalah.

 Kebijakan 2:
a)Meningkatkan aksesibilitas, keterkaitan serta fasilitas kawasan untuk mengintegrasikan kawasan dengan sistem kota.

b)Menciptakan kualitas lingkungan yang kreatif dan inovatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

c)Memenuhi standart minimal pelayanan prasarana sarana kawasan.

d)Mengkonservasi ruang dan bentuk (morfologi dan tipologi ruang dan bangunan) yg signifikan secara kultural dan sejarah.

e)Memperbesar delineasi (batas) luas kawasan PRK agar dampak revitalisasi lebih optimal.

Strategi:

a)Mengembangkan kapasitas Pemda (Local Government Capacity)  untuk mengelola PRK dan Pemda sebagai   pengembang (Local Government as Public Developer).

b)Mendorong konsistensi Pemda dalam merencanakan, memprogramkan, melaksanakan, memonitoring dan  mengevaluasi, serta mempromosikan dan memasarkan   revitalisasi.

c)Menciptakan skema kerjasama pemerintah, swasta dan masyarakat yang menguntungkan setiap pihak (Public Private Community Partnership).
Peningkatan kualitas penataan bangunan dan lingkungan yang mampu memberdayakan aktivitas ekonomi, sosial dan budaya kawasan.

Kebijakan 3:
Pengelolaan kawasan revitalisasi yang berkelanjutan.

(Lihat Diagram: Delineasi Kawasan)



Kebijakan 3:

Pengelolaan kawasan revitalisasi yang berkelanjutan.

Strategi:
a)Mengembangkan kapasitas Pemda (Local Government Capacity)  untuk mengelola PRK dan Pemda sebagai   pengembang (Local Government as Public Developer).

b)Mendorong konsistensi Pemda dalam merencanakan, memprogramkan, melaksanakan, memonitoring dan  mengevaluasi, serta mempromosikan dan memasarkan   revitalisasi.


c)Menciptakan skema kerjasama pemerintah, swasta dan masyarakat yang menguntungkan setiap pihak (Public Private Community Partnership).

  (Lihat Diagram: Peran Pemangku Kepentingan)


Pemerintah

A.  Rencana & pedoman revitalisasi kota/kawasan
B.   Konservasi kota/kawasan (bila diperlukan)
C.  Perbaikan & peningkatan infrastruktur
D.  Manajemen revitalisasi kota/kawasan:
−Promosi
−Insentif
−Leveraging the private sector (partnership)
−Land security
−Percontohan
−Relokasi kantor-kantor pemerintah
E.  Pengembangan perumahan pemerintah
F.  Menetapkan kawasan revitalisasi sebagai kawasan strategis

G.  Regulasi rencana pembangunan kawasan (Perda/SK Kepala Daerah)

Masyarakat/Swasta

A.  Manajemen revitalisasi kota/kawasan:
•Promosi
•Adaptive re-use Perbaikan & perawatan
B.  Lingkungan, bangunan & perumahan:
−Menciptakan lapangan kerja/ usaha
−Pembangunan    perumahan & sarana

−Peningkatan kualitas lingkungan