KENALKAH JENIS KONSERVASI ?

Selasa, 05 Januari 2016

REVITALISASI TAMAN KOTA SINGA APOR SEBAGAI TAMAN REKREASI KAWASAN BELITANG OKU TIMUR SUMATERA SELATAN

Starpa Voreta
 114120035


Entrance Taman Singa Apor



















Belitang adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu  Timur, Provinsi 
Sumatera Selatan. Belitang berjarak sekitar 185 km dari Ibu Kota Provinsi, Kota Palembang.

Kecamatan Belitang beribu kota di Gumawang. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur terbentuk berdasarkan UU Nomor 37 tahun 2003 merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ulu, dengan ibukota Martapura. Luas wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur seluas 3370 Km2 terdiri dari 16 kecamatan dengan jumlah penduduk 575.410 jiwa dengan kepadatan rata-rata 107 jiwa/km2.


Taman Singa Apor merupakan taman yang berada di kecamatan Belitang kabupaten Oku Timur. Taman ini berada di pusat kota Gumawang yang berada di simpang 6 kota Gumawang Belitang. Ke arah jalan Tulus Ayu - Rasuan - Palembang. Terdapat tugu Singa yang menyerupai patung singa di Singapore. Patung singa tersebut berada di tengah irigasi di tengah taman ini. Masyatakat setempat biasa menyebut irigasi dengan Apor, oleh sebab itu mengapa taman ini di beri nama Taman Singa Apor. Taman Singa Apor belitang memiliki fasilitas yang cukup lengkap seperti wahana permainan anak. Oleh sebab itu Taman Singa Apor patut anda kunjungi ketika tengah bersantai bersama keluarga di Belitang Oku Timur.
Penyelenggaraan pariwisata taman rekreasi ini membutuhkan sumber daya manusia yang
dapat menjalankan usaha secara etis dan professional. Dalam rangka menjaga sumber daya manusia terus meningkat kualitasnya, diperlukan pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan, agar dapat menyelenggarakan kegiatan pariwisata sesuai dengan prinsip dan etika bisnis dan internasional serta memiliki inovasi dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dan dapat menjaga keseimbangan alam.
KOTA SINGA APOR SEBAGAI TAMAN REKREASI
KAWASAN  BELITANG OKU TIMUR SUMATERA SELATAN
Revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan yang dulu pernah hidup, akan tetapi kemudian mengalami kemunduran atau degradasi. Dengan teori diatas maka merevitalisasi Taman Kota merupakan suatu upaya untuk memfungsikan kembali Taman yang telah lama terdegradasi. Proses revitalisasi melalui beberapa aspek, yaitu

Aspek fisik
Meliputi perbaikan dan peningkatan kualitas dan kondisi fisik bangunan, tata hijau, sistem penghubung, reklame dan ruang terbuka area (urban realm).
Aspek Ekonomi
Revitalisasi yang diawali dengan proses peremajaan artefak urban harus mendukung proses rehabilitasi kegiatan ekonomi formal maupun informal (local economic development) sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi daerah yang bersangkutan
Aspek sosial atau institusional
Revitalisasi tidak hanya sekedar fisik tetapi juga harus memberi dampak positif bagi dinamika dan kehidupan sosial masyarakat yang harus didukung dengan pengembangan institusi yang baik.
Dengan merevitalisasi Taman Rekreasi yang sesuai akan dapat menciptakan Taman Rekreasi dengan berbagai fungsi, seperti tempat bersantai, berekreasi, bahkan untuk berolah raga dan seni.
Adapun cara-cara atau strategi dalam merevitalisasi Taman Rekreasi sebagai berikut:
1.      Perbaikan bangunan serta peningkatan fasilitas
Tidak terurusnya taman ini membuat mata tidak enak untuk dilihat, sehingga kurangnya minat pengunjung. Untuk tahapan awal pembetulan bangunan seperti pengecatan ulang, pembersihan lahan, dan ditanami rumput gajah untuk memperindah Taman Rekreasi.
2.      Pembuatan kotak sampah dan penutupan saluran irigasi
Ini adalah hal yang mendasar dalam menjaga kebersihan suatu taman rekreasi. Etika dalam suatu lingkungan adalah kita harus bias menjaga kebersihan. Jadi hal awal yang harus dilakukan adalah meletakkan kotak sampah di beberapa titik lokasi. Pada lokasi taman terdapat saluran irigasi dan para pengunjung sering membuang sampah di aliran irigasi, jadi dari hal ini membiarkan saluran irigasi tertutup, agar bisa dimanfaatkan untuk sarana olahraga/jogging
3.      Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.  Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan, dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi:  kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis; kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi; area pengembangan keanekaragaman hayati; area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan; tempat rekreasi dan olahraga masyarakat; tempat pemakaman umum;  pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan; pengamanan sumber daya baik alam, buatan maupun historis; penyediaan RTH yang bersifat privat, melalui pembatasan kepadatan serta kriteria pemanfaatannya; area mitigasi/evakuasi bencana; dan ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut.
4.      Pembuatan arena olahraga
Selain berfungsi sebagai Taman Rekreasi bias dimanfaatkan sebagai arena olahraga. Yang biasanya mereka harus ke gedung olahraga ataupun ke sekolah anak-anak yang hobby dengan olahraga bisa berkunjung ke taman untuk bersantai dan berolahraga, dan untuk meningkatakan pengunjung.
5.      Pengisian ruko
Di daerah taman ini sudah tersedia fasilitas untuk penjual makanan dan minuman, tetapi kendalanya bahwa penjual lebih memilih berjualan diluar dan terkadang menyebabkan kemacetan.
6.      Peningkatan promosi untuk Taman Rekreasi
Kurangnya promosi atau informasi merupakan salah satu menurunnya tingkat pengunjung, dalam hal ini mengadaan promosi harus sering dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
BAPPEDA Pemeritah Kota Surakarta. 2008. Laporan Akhir Revitalisasi Taman
Balekambang.Surakarta : Astha Bawana.

Revitalisasi Kawasan Pulau Kemaro Dalam Meningkatkan Kembali Fungsi Lahan Sebagai Kawasan Wisata


Kota Palembang adalah ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Palembang merupakan kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Sejarah kota palembang pernah menjadi ibu kota kerajaan bahari budha terbesar di asia tenggara pada saat itu, kerajaan Kerajaan Sriwijaya, yang mendominasi Nusantara dan Semenanjung Malaya pada abad ke-9 juga membuat kota ini dikenal dengan julukan “Bumi Sriwijaya”.kota Palembang juga dijuluki Venice of the East (“Venesia dari Timur”). Jembatan AMPERA merupakan ikon dari kota Palembang dimana  memiliki panjang 1.177 meter yang melintasi diatas sungai musi sebagai penghubung seberang ulu dan seberang ilir. Sungai Musi merupakan urat nadi perekonomian masyarakat kota Palembang hingga sekarang.
                          


     Gambar 1. Kondisi Sungai Musi Tampak Atas

                
Sungai Musi berada di pusat kota Palembang, salah satu landmark Sumatera Selatan ini banyak menyajikan keindahan baik dari segi sejarah hingga dapat mengenal kehidupan masyarakat asli Palembang. Di tepi sungai Musi sekitaran Jembatan AMPERA terdapat pasar 16 ilir yang merupakan induk pasar di kota Palembang,  terdapat pula plaza benteng kuto besak (BKB) dan Restoran terapung dimana merupakan tempat anak muda nongkrong.
Ketika menyusuri sungai musi lebih jauh kearah barat menuju pulau kemaro dengan menggunakan perahu atau biasa disebut dengan “getek”, sepanjang perjalanan kita akan menjumpai pemandangan yang tidak akan membosankan. Seperti adanya kampung kapitan, rumah rakit, kampung arab, komplek makam bagus kuning, mesjid gunung kidul, dan mesjid ki merogan yang memiliki cerita unik tersendiri. Disamping itu, terdapat pula pusat industri seperti  kilang minyak PT.Pertamina, PT Pupuk Sriwijaya, PT.Semen Baturaja hingga sampai akhir tujuan yaitu pulau kemaro.
Pulau Kemaro merupakan delta sungai musi yang menjadi salah satu simbol kota Palembang yang memiliki luas 1.263 m. Daya tarik dari pulau ini adalah bangunannya yang unik dan legenda cerita yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini. Di pulau ini terdapat klenteng yang telah didirikan sejak tahun 1962 dan pagoda yang berlantai 9 yang baru selesai dibangun pada tahun 2006 yang dapat dinaiki hingga puncak untuk melihat keindahan kota Palembang dari atas. Disamping itu, terdapat sebuah pohon yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai pohon cinta. Pulau ini dapat ditempuh 6 km dari jembatan AMPERA. Wisatawan biasanya ramai berkunjung saat hari besar keturunan Tionghoa, seperti Cap Go Meh.



Gambar 2. Pulau Kemaro
Seiring berjalannya waktu, eksistensi pulau kemaro semakin menurun. Masyarakat mulai menghadapi titik jenuh. Hal ini terlihat dari semakin berkurangnya pengunjung dan getek yang dulunya selalu ada di dermaga sungai Musi sekarang semakin berkurang karena beralih fungsi menjadi kapal pengangkut dagangan, hanya beberapa getek saja yang terlihat masih setia menunggu wisatawan untuk disewa. Disamping itu, kurangnya fasilitas wisata yang mendukung daya tarik di pulau Kemaro sendiri menjadi salah satu faktor wisatawan menjadi malas untuk berkunjung kembali. Karena dengan membayar sewa kapal yang cukup mahal dan waktu tempuh yang cukup lama sekitar 6 km, serta keadaan lingkungan sepanjang menyusuri sungai yang tergolong kotor, dan ketika sampai di pulau Kemaro hanya dapat melihat kelenteng, pagoda, dan pohon cinta saja. Hal tersebut membuat para wisatawan lokal maupun luar palembang kebingungan dan tidak ingin kembali berkunjung karena seperti pulau tak berpenghuni.
            Dalam upaya peningkatan fungsi lahan sebagai daerah wisata sehingga tidak menimbulkan kejenuhan bagi para wisatawan,, maka diperlukan adanya revitalisasi kawasan. Menurut Martokusumo (2006) revitalisasi kawasan merupakan sebuah upaya untuk mendaur ulang (Re-cycle) aset perkotaan dengan tujuan untuk memberikan vitalitas baru, meningkatkan vitalitas yang ada, atau bahkan menghidupkan kembali vitalitas yang pernah ada. Namun, dapat dipastikan tujuannya adalah untuk menciptakan kehidupan baru yang produktif serta mampu memberikan kontribusi positif pada kehidupan sosial-budaya dan terutama kehidupan ekonomi kawasan kota..
            Proses merevitalisasi di wilayah pulau Kemaro ini meliputi tahapan revitalisasi sebagai berikut:
1.      Intervensi Fisik
Intervensi fisik mengawali kegiatan fisik revitalisasi dan dilakukan secara bertahap, dimana kawasan ini merupakan kawasan bersejarah. Tahapan yang dilakukan yaitu adanya pembangunan dermaga dan gapura berfungsi sebagai pendukung fasilitas wisata pulau kemaro ini, adanya dermaga yang layak di pulau kemaro akan memudahkan para wisatawan menyeberangi dari getek ke daratan, serta adanya pembangunan gapura/plang di setiap lokasi wisata lainnya selama menyusuri sungai musi menuju pulau kemaro. Pembangunan gapura/plang ini sendiri  dapat dibuat dengan adanya penambahan warna atau ukiran tangan dari kreativitas anak muda disekitar pulau Kemaro yang unik yang menunjukan identitas wisata tersebut, sehingga dapat menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung. Aksesbilitas  transportasi dari dermaga sungai musi menuju pulau kemaro berupa persewaaan kapal kecil atau biasa disebut dengan getek dengan kisaran biaya persewaan sebesar Rp 100.000-200.000/getek dan waktu tempuh selama 30 menit dapat membuat wisatawan menjadi bosan selama perjalanan ditambah lagi masih banyaknya sampah di tepi sungai sepanjang menyusuri sungai, maka apabila adanya penambahan plang peringatan menjaga selalu kebersihan dengan latar belakang plang yang dibuat lebih menarik seperti contohnya penambahan latar belakang dampak yang ditimbulkan dari membuang sampah disungai tersebut di sepanjang menyusuri sungai serta di dermaga Musi dan Pulau kemaro, serta adanya penambahan tempat sampah besar dengan warna yang cerah di setiap sudut pulau Kemaro agar dapat lebih menarik perhatian wisatawan untuk membuang sampah pada tempatnya. Disamping itu, adanya perbanyak pembangunan rumah rakit khusus yang merupakan ciri khas rumah penduduk asli Palembang, dimana didalam rumah tersebut dapat ditata layaknya seperti keadaan rumah pada umumnya, namun dapat diberi tambahan seperti adanya barang-barang ciri khas kota Palembang.
            Pembangunan kios, arena permainan air atau olahraga air dan toilet umum di kawasan pulau Kemaro sangat dibutuhkan dimana dapat di manfaatkan untuk melakukan kegiatan ekonomi masyarakat. Pembangunan kios ini dapat dibuat dengan desain yang unik serta lebih banyak bermain pada warna agar tidak terlihat monoton dengan adanya penambahan goresan kreatif dari tangan anak muda. Penambahan arena permainan air atau olahraga air dengan memanfaatkan sungai musi sebagai lahannya seperti adanya jetski, bebek air, bola air dan sebagainya dapat menjadi daya tarik tersendiri sehingga wisatawan sendiri tidak merasa jenuh.
2.       Rehabilitasi Ekonomi
Adanya perubahan fisik kawasan yang bersifat jangka pendek diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi di kawasan pulau Kemaro. Terdapat banyak bidang yang dapat melibatkan masyarakat sekitar sungai Musi maupun pulau Kemaro dalam pengelolaan wisata, seperti masyarakat dapat menjadi tourguide  yang dapat mendampingi wisatawan menjelaskan mengenai tempat atau hal penting disepanjang menyusuri sungai Musi maupun mengenai legenda pulau Kemaro, dimana pemandu wisata dapat memberikan paket wisata, sehingga wisatawan dapat singgah terlebih dahulu sebelum menuju ke pulau Kemaro seperti rumah rakit, kampung kapitan, kampung arab, komplek makam bagus kuning, serta pelabuhan bom baru. Pemandu wisata khusus menyusuri Sungai menuju pulau Kemaro sendiri sampai sekarang belum ada. Dalam mewujudkannya juga perlu adanya peran pemerintah dengan mengadakan pelatihan khusus bagi masyarakat sekitar. Selain itu, kios-kios dan arena permainan air dapat dikelola oleh masyarakat yang tinggal disekitar pulau Kemaro. Kios-kios sendiri dapat diisi sebagai kios makanan, kios barang-barang khas Palembang, dan sebagainya.
3.      Revitalisasi Sosial/Institusional
Dalam kegiatan perancangan dan pembangunan kawasan pulau Kemaro diperlukan pula adanya suatu pengembangan lingkungan sosial  yang mencerminkan karakter pulau Kemaro. Pulau Kemaro sendiri terkenal dengan legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah dimana terdapat kelenteng dan pagoda disekitar daerah tersebut. Sehingga diharapkan adanya pembuatan web khusus pulau kemaro yang tersambung langsung pada web pemerintah kota Palembang. Serta adanya kerjasama dengan media informasi ataupun televisi lokal, agar dapat selalu di promosikan mengenai keistimewaan pulau Kemaro sebagai salah satu Wisata di kota Palembang.

DAFTAR PUSTAKA
Ngini, Giris. 2011. Permasalahan Pembangunan Revitalisasi Kawasan Wisata Istana Kuning (RKWIK). Dalam (http://www.jurnalperspektifarsitektur.com/download/%28Jurnal%20PA%20Vol.06%20No.02%202011%29-PERMASALAHAN-PEMBANGUNAN-REVITALITALISASI-KAWASAN-WISATA-ISTANA-KUNING.pdf). Diakses Pada 30 Oktober 2015
Nugroho, Iwan. 2011 Ekowisata dan              Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Zeth, RA Rahman. 2015. Revitalisasi Dalam Rangka Konservasi Warisan Budaya Kota Palembang. Dalam (http://arkeologi.palembang.go.id/?nmodul=halaman&kat&judul=revitalisasi-dalam-rangka-konservasi-warisan-budaya-kota-palembang) Diakses pada 30 Oktober 2015.


Rabu, 23 Desember 2015

Mengeksplor Keindahan Pantai Dato Majene Sulawesi Barat dengan Revitalisasi

ARDIN
114120044

         
Provinsi Sulawesi Barat adalah salah satu provinsi dengan ibukotanya  Mamuju , dan mempunyai banyak sekali obyek wisata antara lain Wisata Alam, Wisata Sejarah, Wisata Budaya, Wisata Minat Khusus, Wisata Kuliner, Wisata Olah Raga, Wisata Belanja , dari sekian banyak Obyek wisata Sulawesi Barat yang sangat terkenal yaitu  Wisata Alam Pantai Dato Majene. Pantai Dato Majene ini adalah salah satu wisata bahari yang jarang tersentuh oleh wisatawan. Pantai Dato Majene sendiri berjarak kurang lebih 7 km dari pusat kota Majene. Untuk menuju ke lokasi Pantai Dato Majene dapat ditempuh dengan  menggunakan kendaraan darat pribadi atau carteran , kira 15 menit dari kota Majene.


Pantai Dato Majene ini mempunyai ciri yang khas dan keindahan tersendiri dimana keindahan Pantai Dato Majene ini terbagi 2 bagian yaitu pantai yang berpasir putih halus dan pantai beralaskan karang.Selain itu di Pantai ini juga terdapat karang yang menjorok kelaut atau karang yang berlubang karena hantaran ombak menambah keunikan dan keindahan pantai dato Majene. Diatas karang yang menjorok kelaut sangat indah duduk santai menikmati hembusan angin laut, tempat memancing atau menikmati liukan ikan kecil berwarna warni melalui air laut yang jernih dari atas batu karang.
Pantai Dato Majene ini memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri berbeda dengan pantai-pantai lain di wilayah Pulau Sulawesi. Selain memiliki panorama alam pantai tropis yang sangat indah, pantai ini juga tergolong masih alami dan terjaga dengan baik. Oleh karena itu, Pantai Dato Majene ini menjadi salah satu lokasi berwisata keluarga yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan terutama pada saat akhir pekan dan hari libur. Bagi wisatawan yang menginginkan untuk tinggal beberapa hari lagi di dekat kawasan wisata ini, terdapat tempat menginap di hotel yang tidak jauh dari kawasan wisata Pantai Dato Majene ini.


 Selain dari potensi wisata, Pantai Dato Majene  juga kaya akan budaya masyarakatnya salah satunya adalah Saiyyang Pattu’duq. Saiyyang Pattu’duq adalah tradisi mengarak menggunakan kuda yang dimiliki masyarakat Majene. Biasanya tradisi ritual ini dijumpai pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, anak-anak yang telah khatam Al-Qur;an akan diarak keliling kampung dengan tunggangan kuda tersebut. Selain itu, tunggangan Saiyyang Pattu’duq juga akan dijumpai pada saat penjemputan tamu kehormatan, karena adanya nadzar yang terkabulkan dari masyarakat dan pertunjukan untuk hiburan. Sehingga dengan adanya kekayaan budaya ini para wisatawan tidak hanya bisa menikmati pemandangan yang indah di Kabupaten Majene tetapi juga dapat sekalian berwisata budaya.

Begitulah sekilas tentang gambaran Pantai Dato Majene beserta potensi-potensi wisata alam khususnya wisata pantainya yang bagus dan kebudayaan yang ada. Namun sangat disayangkan wisata bahari ini seperti Pantai Dato Majene kurang mendapat perhatian oleh pemerintah Kabupaten Majene. Rencana revitalisasi kawasan wisata Pantai Dato Majene dengan membuat kawasan wisata ini lebih terpadu dan lebih menarik lagi untuk menjadi kawasan yang vital akan membuka akses jalan menuju tempat wisata tersebut. 

Menurut Joyosuharto (2000) bahwa pengembangan pariwisata memiliki tiga fungsi, yaitu: 1) menggalakkan ekonomi, 2) memelihara kepribadian bangsa dan kelestarian fungsi dan mutu lingkungan hidup, 3) memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa. Untuk menjalankan ketiga fungsi tersebut maka diperlukan pengembangan obyek wisata dan daya tarik wisata, meningkatkan dan mengembangan promosi dan pemasaran, serta meningkatkan pendidikan dan pelatihan kepariwisataan. Harus diakui kawasan wisata ini kurang berkembang disebabkan informasi yang masih sangat miim serta kurang tereksplornya keindahan wisata pantai Dato Majene ini Selain itu, hal lain yang menyebabkan kurang berkembangnya wisata Pantai Dato Majene ini adalah sangat terbatasnya fasilitas yang disediakan di tempat wisata ini sehingga tidak dapat memenuhi apa yang diinginkan para pengunjung. Menurut (Pendit, 1999) unsur-unsur yang terlibat dalam industri pariwisata meliputi hal-hal sebagai berikut akomodasi tempat tinggal, jasa boga dan restoran, transportasi dan jasa angkutan, atraksi wisata, cinderamata (souvenir).
            Sementara itu yang terjadi di Pantai Dato Majene sangat terbatas baik dari segi akomodasi  tempat tinggal, jasa boga dan restoran, transportasi dan jasa angkutan, atraksi wisata, cinderamata (souvenir). Untuk sekarang ini di kawasan wisata Pantai Dato Majene masih sedikit tempat penginapan bagi para wisatawan yang ingin bermalam di Pantai Dato Majene.. Selama ini para wisatawan hanya bermalam di rumah bapak kepala desa Teluk tamiang. Selain itu, di Teluk tamiang juga tidak ada petunjuk jalan ke arah wisata. Untuk mendukung kemajuan kawasan suatu wisata diperlukan fasilitas-fasilitas pendukung untuk menunjang kawasan wisata tersebut sehingga diperlukan sebuah revitalisasi kawasan Teluk Tamiang dan pulau di sekitarnya yang kurang berkembang dan sangat kurang mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten Majene.
            Sangat disayangkan ditengah banyaknya potensi yang ada di seperti Terumbu karang, pasir pantai yang putih dan halus, batu-batu yang berukuran besar, karang-karang besar yang indah dan perkampungan nelayan tidak dilengkapi dengan sarana pendukung untuk menikmati fasilitas yang ada di sana. Sudah seharusnya pemerintah Kabupaten Majene memperhatikan potensi besar yang dimiliki kawasan Pantai Dato Majene  ini dan menjadikan tempat ini sebagai tujuan wisata yang menarik. Untuk membuat kawasan Pantai Dato Majene ini menjadi kawasan wisata yang menarik maka diperlukan suatu rencana untuk merevitalisasi kawasan Teluk Tamiang ini. Rencana revitalisasi tersebut adalah menyediakan dan membangun unsur-unsur pendukung dalam sebuah pariwisata. Hal pertama yang dilakukan dalam merevitalisasi kawasan pantai Dato Majene ini adalah dengan membuat sebuah konsep wisata yang menarik dan melengkapi fasilitas- fasilitas yang dibutuhkan wisatawan serta giat membuat film-film documenter mengenai keindahan dan potensi yang dimiliki Pantai Dato Majene ini.
            Untuk mengatasi masalah akomodasi tempat tinggal disana akan dibangun penginapan-penginapan bagi wisatawan yang ingin bermalam. Pembangunan penginapan-penginapan ini menjadi potensi yang besar dan dapat menambah pendapatan serta membuka peluang bekerja bagi masyarakat sekitar Pantai Dato Majene sehinggadiharapkan dengan penginapan yang bagus para wisatawan akan betah berlama-lama berwisata di Pantai Dato Majene ini. Selama ini para wisatawan yang datang dan ingin bermalam hanya terdapat penginapan yang sederhana dan belum dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang dapat memanjakan wisatawan.     
Untuk lebih mengembangkan kawasan wisata Teluk tamiang ini akan disediakan juga peralatan untuk snorkling bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan terumbu karang Pantai Dato Majene. Selain paket wisata snorkling di Teluk tamiang juga akan dibuat paket wisata wahana permainan air seperti banana boot, jetski dan lain-lain. Selain wahana permainan air juga akan dibuat wahan permainan untuk anak-anak seperi ATV dan Motor Trail kecil sehingga anak-anak dapat berkeliling mengitari pantai. Untuk ibu-ibu di Pantai Di Pantai Dato Majene sendiri akan dibina dan dibuatkan sebuah pelatihan untuk menambah pendapatan keluarga mereka. Ibu-ibu disana akan dibina untuk membuka warung makanan di sekitar pantai yang menyediakan makanan dan minuman yang khas daerah setempat. Selain membuat warung makanan ibu-ibu disana juga akan diajarkan bagaimana caranya membuat souvenir atau cinderamata untuk dijual kepada para wisatawan.
            Begitulah rencana-rencana proses revitalisasi kawasan Pantai Dato Majene yang akan dilaksanakan. Tujuan dari revitalisasi kawasan Pantai Dato Majene ini adalah mengenalkan kepada orang-orang bahwa Pulau Sulawesi terutama di Kabupaten Majene juga memiliki pantai pasir putih yang indah serta terumbu karang yang indah dan berukuran raksasa yang memiliki potensi sangat besar menjadi wisata Pantai yang menarik dank has di Sulawesi Barat. Selain itu, tujuan dari revitalisasi kawasan ini adalah untuk menambah pendapatan daerah di sektor pariwisata dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar serta menambah pendapatan ibu-ibu di Pantai Dato Majene. Untuk masalah pengelolaan kawasan Pantai Dato Majene ini sepenuhnya akan diserahkan kepada masyarakat sekitar untuk mengelolanya dengan terlebih dahulu, masyarakat sekitar Pantai Dato Majene terlebih dahulu diberikan pelatihan-pelatihan oleh dinas terkait terutama dinas Pariwisata. Sehingga dengan adanya Revitalisasi ini memberikan dampak positif bagi mereka baik dari segi ekonomi, sosial maupun budaya dan masyarakat dapat terlibat langsung dalam pengelolaannya dan tidak menjadi penonton di tempat mereka sendiri.

Referensi
Pendit, Nyoman. (1999). Ilmu Parawisata. Jakarta: Akademi Pariwisata Trisakti

Joyosuharto, S., 2000. Aspek Ketersediaan dan Tuntutan Kebutuhan Dalam Pariwisata, dalam Dasar-dasar Manajemen Kepari-wisataan Alam, (Editor: CH. Fandeli), Yogyakarta: Liberty

Senin, 21 Desember 2015

Revitalisasi Pasar Tradisional Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka Induk Provinsi Bangka Belitung



Agfiyogi Patrianusa

                114120058 

          
Kondisi Pasar Tradisional Pangkalpinang
 
Dengan adanya globalisasi, persaingan antara pasar tradisional dan retail modern tidak bisa dihindari. Membanjirnya retail modern di kota-kota tampaknya tidak bisa dibendung. Kondisi ini tentunya dapat menjadi ancaman bagi keberadaan pasar tradisional. Dalam hal ini kebijakan pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan jalannya perekonomian. Pemerintah harus peka dan peduli untuk melindungi pasar tradisional yang memang masih dibutuhkan masyarakat, terutama masyarakat kelas menengah ke bawah dan juga masyarakat di daerah pinggiran atau pedesaan. Keberadaan pasar tradisional juga harus mendapatkan perhatian lebih serius dari pemerintah. Keberpihakan pemerintah dalam hal ini menjadi penting, mengingat aset pasar adalah milik pemerintah dan pedagang hanya memegang hak pakai. Pemerintah wajib melindungi pasar sebagai upaya terpadu guna membangun ketahanan pasar yang berkelanjutan dan mampu memberdayakan pasar sebagai ruang kegiatan ekonomi dalam rangka mencapai kesejahteraan masyarakat.
Kepadatan Pasar Pangkalpinang lama
Salah satu pasar tradisional yang kondisinya sangat perlu perhatian khusus yaitu pasar tradisional yang berada di Kota Pangkalpinang. Pasar tradisional yang besar selama ini menjadi perdebatan dikarenakan kondisi pasar yang sangat menyedihkan. Hal tersebut dikarenakan kondisi pasar tradisional tersebut sangatlah kotor, letak kios pedagangnya tidak teratur dan sampah dimana - mana. Selain hal tersebut pasar tradisional di kota Pangkalpinang ini kejahatan sosial merajalela, seperti pencopetan, atau penodongan. Perlunya perbaikan atau proses revitalisasi pasar tradisional ini sangatlah penting untuk masyarakat dan pastinya pedagang yang ada didalamnya. Revitalisasi ini sangat berguna untuk menata ulang pasar tradisional dalam aspek social, fisik dan ekonomi dari pasar ini. Kondisi yang baik juga akan meningkatkan kualitas dari pasar, selain itu pasar tradisional ini memiliki peran penting bagi masyarakat serta pemerintah setempat. 
Konsep Revitalisasi Pasar Tradisional Pangkalpinang
            Revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulu pernah vital atau hidup, akan tetapi kemudian mengalami kemunduran atau degradasi. Dengan demikian revitalisasi pasar adalah merupakan suatu usaha untuk mencoba memvitalkan kembali fungsi pasar tradisional yang semakin mundur karena persaingan dengan pasar modern. Skala revitalisasi bisa terjadi pada tingkatan mikro maupun makro. Proses revitalisasi melalui beberapa tahapan, yaitu
a.        Aspek fisik
Meliputi perbaikan dan peningkatan kualitas dan kondisi fisik bangunan, tata hijau, sistem penghubung, reklame dan ruang terbuka area (urban realm). Dalam hal ini isu lingkungan menjadi penting dan perlu diperhatikan. Perencanaan fisik tetap harus dilandasi pemikiran jangka panjang.
b.       Aspek Ekonomi
Revitalisasi yang diawali dengan proses peremajaan artefak urban harus mendukung proses rehabilitasi kegiatan ekonomi formal maupun informal (local economic development) sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi daerah yang bersangkutan.
Sketsa Pasar Pangkalpinang Terevitalisasi
c.        Aspek sosial atau institusional
Revitalisasi tidak hanya sekedar fisik tetapi juga harus memberi dampak positif bagi dinamika dan kehidupan sosial masyarakat yang harus didukung dengan pengembangan institusi yang baik. Dalam hal ini unsur budaya juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan revitalisasi sebuah daerah. Dengan merevitalisasi pasar tradisional yang sesuai sasaran akan dapat menciptakan pasar tradisional dengan berbagai fungsi, seperti tempat bersantai, berekreasi, bahkan untuk berolah seni dan raga. Hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan adalah mensinergikan pasar tradisional dan tempat perbelanjaan modern sebagai satu kesatuan fungsional, tetapi tidak dalam satu bangunan fisik, apalagi barang yang diperjual belikan hampir sama. Dengan demikian maka pasar tradisional tidak kalah bersaing dengan pasar modern dan tetap eksis, bahkan menjadi "icon" bagi daerah yang bersangkutan. Hal ini konsisten dengan penelitian Rokhmat Slamet (2012) yang berjudul "Analisis Daya Tarik dan Strategi Manajemen Pasar Tradisional" dengan menggunakan analisis matriks, hasilnya menunjukkan:
a.        keberadaaan pasar tradisional masih di butuhkan
b.       Pasar tradisional bersifat statis. Kondisi inilah yang membuat orang banyak meninggalkan pasar tradisional
c.        Upaya revitalisasi pasar harus memperhatikan faktor manajemen pasar dan distribusi yang berdampak pada berbagai aspek tata kelola
d.       Pemerintah harus lebih responsif untuk menjaga kelangsungan hidup pasar tradisional
e.        Pasar tradisional dengan konsep manajemen modern merupakan solusi untuk mensejajarkan diri dengan pasar modern
Adapun strategi yang dapat digunakan dalam merevitalisasikan pasar tradisional kota kota ini yaitu:
1. Strategi pertama
a. Fasilitasi dana dan birokrasi dalam pengembangan
b. Pelestarian nilai sejarah sebagai objek wisata
c. Perpaduan dengan paket wisata lainnya
d. Peningkatan promosi dan informasi wisata belanja
2. Strategi kedua
a. Memberikan nilai tambah bagi pasar tradisional dengan pengendalian harga
b. Fasilitas fasilitas ekspor-impor
c. Optimalisasi pemanfaatan lahan
3. Strategi ketiga
a. Pemberdayaan komunitas pasar
b. Optimalisasi pengelolaan sebagai obyek wisata belanja
c. Peningkatan kualitas bangunan atau lingkungan sebagai koridor wisata
d. Menjamin keamanan bagi wisatawan
4. Strategi keempat
a. Pengembangan model pengelolaan dan pemasaran
b. Pengendalian harga dan pengembangan bangunan atau lingkungan
c. Peningkatan ketertiban pedagang guna optimalisasi lahan
Daftar pustaka
-           Slamet, Tradisional. Jurnal Ilmiah Ekonomi Rokhmad. 2012. Analisis Daya Tarik dan Strategi Manajemen Pasar Akuntansi Manajemen Pelita Ilmu
-           Cristina Whidya Utami. 2006. Manajemen Ritel: Strategi dan Implementasi Ritel Modern. Jakarta: Salemba Empat.
-           Fatimah dan Sujadi (2013) yang berjudul "Analisis Dampak Sosial Ekonomi Revitalisasi Pasar Tradisional: Studi pada Pasar Nusukan dan Sidodadi. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UMS: Penelitian Reguler Kompetitif.