KENALKAH JENIS KONSERVASI ?

Selasa, 11 Oktober 2016

Gedung B.A.T Jadi Musium Rokok di Kota Cirebon

Adam Nurcahya Priyandwiky
114130029




BAT gedung bersejarah 

BAT Cirebon atau (PT British American Tobacco) merupakan gedung bersejarah yang terletak di Jl.Pasuketan,Desa Kebumen,Kecamatan Lemahwungkuk,Kota Cirebon. Gedung ini di bangun pada tahun 1917 dan di kenal sebagai pusat perekonomian di zamannya. Gedung BAT ini di miliki oleh perusahaan produksi rokok SS Michael yang sebelumnya pada 1925 telah di beli dan di kembangkan dari desain gedung.
Desain BAT gedung bersejarah yang berdiri di tanah seluas 1,6 hektar ini, di perbarui dengan desain gedung gaya art Deco oleh arsitek F.D Cuypers dan Hulswit, dengan warna gedung putih dan biru. Gaya desain gedung tersebut di nilai modern,serbaguna dan elegan pada zamannya. Desain gedung tersebut di rancang setelah perang dunia ke 2 pada tahun 1920. Sarana yang terdapat di gedung ini antara lain lobi, ruang kantor, sarana produksi rokok, mushola dan kantin.BAT gedung bersejarah.

Saat itu, lantai gedung masih menggunakan kayu, kemudian di ganti menggunakan bahan marmer. Penggunaan kerangka gedung ini menggunakan material besi,bata merah, pasir, marmer, sabes, keramik, genteng, tegel, kayu, dan semen. Gedung tersebut berdiri tinggi dan memanjang, namun tidak memiliki area lahan yang luas untuk pekarangannya, dan hanya di tanami beberapa pohon palm dan di bangun pos polisi serta jalur pejalan kaki.
Gedung BAT memiliki 2 lantai, dan pada bagian depan gedung di hiasi lubang-lubang kecil untuk udara berbentuk simetris. Dan terdapat tulisan dan angka pembuatan gedung tersebut yang bertuliskan ‘ANNO 1924’. Pada bagian tengara dari kedinasan kota cirebon tampak sudah usang, di mana lokasi di pasang tengara tersebut merupakan status kondisi gedung yang di mulai tahun 1917 yang telah tertulis di tengara tersebut.

Sekilas kondisi gedung BAT ini tampak kumuh dan tak terawat, karna beberapza sisi gedung di gunakan sebagai tempat mangkal becak dan pemulung sampah. Tentunya hal tersebut dapat menurunkan nilai kelestarian gedung BAT sebagai gedung bersejarah nomor 1 di Cirebon ini. Namun, lokasi gedung ini di nilai strategis dan memilki nilai sejarah yang penting sehingga nilai harga gedung ini bernilai tinggi, dan kabarnya ada yang ingin membeli gedung ini dengan harga yang sudah di tentukan.

Sebagai ikon penting dari kota Cirebon ini, di mana kepedulian dan pemeliharaan gedung bersejarah perlu di perbaiki, demi melindungi nilai kelestarian dan sejarah gedung BAT, dan semoga untuk kedepannnya gedung ini dapat lebih di pelihara dan dirawat secara berkala.
Menurut Freeman (1974), kota mempunyai 4 (empat) kecirian meliputi: penyediaan fasilitas untuk seluruh warga, penyedia jasa (tenaga), penyedia jasa profesional (bank, kesehatan, dll) serta memiliki pabrik atau industri (Koestoer, 2011). Diharapkan dengan merevitalisasi bangunan ini dapat meningkatkan kesejahteraan warga sekitar, karena arah revitalisasi ini akan mengembangkan bisnis warga lokakl yang telah ada.
Beberapa nilai historis dari fungsi awal gedung ini akan dikembalikan dan lebih dikembangkan kembali, karena awal pembangunan gedung ini difungsikan sebagai pabrik rokok oleh Amerika maka gedung ini akan di revitalisasi menjadi gedung musium koleksi berbagai macam rokok dari seluruh penjuru nusantara bahkan dari seluruh dunia. Koleksi berbagai kemasan rokok, hingga jenis-jenis tembakau yang digunakan oleh pabrik rokok di seluruh dunia, alat-alat yang digunakan untuk membuat rokok hingga memperkenalkan banyak penemu tembakau rokok, serta nilai-nilai sejarah yang terdapat di dalam rokok dari beberapa abad tahun silam diperjelaskan di dalamnya.
Disediakan juga kafe khusus “ahli hisap” yang menjual berbagai macam tambakau dari seluruh daerah di Indonesia, dapat dinikmati di tempat ataupun dibawa pulang, namun untuk mendapatkannya tetap dengan aturan khusus yang hanya diperuntukan untuk orang diatas umur 20 tahun dan memiliki KTP asli yang terbaru. Kafe tersebut akan ditempatkan dengan perhitungan jarak agar tetap dapat menjaga kenyamanan pengunjung lain dengan pintu masuk yang berbeda dengan pintu utama musium yang akan dibentuk pada suatu ruangan kecil disalah satu sudut musium dengan kondisi tertutup rapat, dilengkapi dengan sirkulasi udara yang telah diperhitungkan dan hanya di salurkan menuju lubang udara langsung keluar. Fasilitas lain yang paling utama yaitu berupa area foodcourt yang dilokasikan diseberang musium, demi menjaga kenyamanan dan ketertiban pengguna jalan lain foodcourt tidak diperkenankan menggunakan bangunan permanen/non-permanen, untuk itu bagi para penjual diwajibkan menggunakan konsep “juling” yaitu “jualan keliling” yang berarti para penjual diharuskan hanya dapat berjualan menggunakan “food truck” ataupun alat transportasi lain seperti motor bak roda tiga, mobil pick up dan lain-lain yang dapat dipindahkan dan sudah tertata sesuai penjadwalan yang telah dibuat.
Adanya jalan besar di depan gedung B.A.T dapat mempermudah para pengunjung untuk sekedar makan di food court yang telah disediakan sambil mengambil foto tiap sudut gedung, atau hanya sekedar mampir membeli rokok/tembakau pada kafe “ahli hisap” yang ada di dalam musium. Sesuai pendapat ahli di dalam studinya (Lee, 1979) mengemukakan bahwa terdapat 6 faktor yang mempunyai pengaruh kuat proses perkembangan ruang, keenam factor tersebut ialah (a) factor aksesibilitas (accessibility); (b) factor pelayanan umum (public services); (c) karakteristik lahan (land characteristics); (d) karakteristik pemilik lahan (land owner characteristics); (e) kberadaan peraturan-peraturan yang mengatur tata guna lahan (regulatory measures) dan (f) prakarsa pengembang (developers’ initiative). Dalam penjelasannya, Lee (1979) lebih menekankan pada aksesibilitas fisikal, pengukuran aksesibilitas fisikal dapat dilaksanakan dengan menilai prasarana transportasi yang ada bersama-sama dengan sarana transportasinya. Keunggulan dari  gedung BAT ini adalah berada dekat dengan pusat kota dan aksesnyapun sangat mudah untuk menemukan gedung tersebut. Kekurangannya adalah pada penataan lahan parkir untuk kendaraan pengunjung. Penghijauanpun kembali diperhatikan untuk menjaga kestabilan kualitas udara, khususnya disekitar kawasan musium dengan menambahkan tanaman-tanaman di dalam pot di sekitar gedung dan di seberang gedung serta di belakang. Diharapkan setelah diadakan revitalisasi pada gedung BAT warga kota Cirebon pada khususnya kembali mendapat tempat bersantai pada akhir pecan serta dapat menambah wawasan pada bidang tembakau.

Daftar Pustaka
Heryanto, Bambang. 2011. Roh dan Citra Kota. Brilian Internasional: Surabaya

Yunus, Sabari Hadi. 2005. Manajemen Kota Prespektif Kota. Pustaka Pelajar: Yogyakarta

REVITALISASI KAWASAN BENTENG KUTO BESAK SEBAGAI SALAH SATU TUJUAN WISATA KOTA PALEMBANG UNTUK MENYAMBUT ASIANGAMES 2018

By : SURYO WIBOWO
14130164



PENDAHULUAN


  
Gambar 1. Lokasi Kawasan Benteng Kuto Besak  Palembang 
Palembang sebagai kota yang dibelah oleh sungai Musi memiliki potensi wisata air yang sangat besar. Mengembangkan bidang Pariwisata merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh untuk memberdayakan masyarakat sekitar lokasi objek wisata menuju kehidupan yang lebih baik. Daerah dengan luas wilayah Palembang 369,2 km2 memiliki potensi pengembangan wisata yang harus lebih dimaksimalkan, pengembangan parisiwata tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya eksostisme dari suatu lokasi, misalnya situs yang dijadikan sebagai objek wisata. Palembang memiliki banyak potensi eksotisme yang dapat dikembangkan menjadi bidang pariwisata yang menonjol. Salah satu kawasan yang memiliki eksotisme wisata adalah Sungai Musi dan Jembatan Ampera. Keberadaan Jembatan Ampera menjadi sentral daya tarik kota hingga saat ini. (Widya, 2007)


Gambar 2. Peta Benteng Kuto Besak
Banyak kawasan tepi air yang memiliki keunikan tersendiri dengan tampilan detail spesifiknya termasuk kondisi fisik, geografi, ekonomi dan karakteristik kependudukan. Pendekatan perencanaan dan perancangan kawasan tepi air tidak terlepas dari perhatian dan pemahaman terhadap konteks lokal dan lokasi. Untuk itu perlu adanya pendekatan perspektif yang luas dengan mengkombinasikan antara ide-ide baru dan lama dengan inisiatif lokal dan finasial (Breen, 1981). Kawasan tepi air yang paling menonjol adalah kawasan yang telah menemukan dan memiliki identitasnya yang spesifik (Fisher, 2004). Perencanaan kawasan tepi air memerlukan perhatian terhadap isu-isu yang meliputi pemahaman terhadap konteks, penekanan eksisting dan elemenelemen perancangan. Elemen-elemen ini secara tipikal mempengaruhi dalam penciptaan sebuah desain yang baik, seperti pembentukan makna dan identitas, kemampuan untuk memperluas pengunaan-penggunaan untuk dan dari kawasan tepi air, pengaruh arsitektur, transportasi dan pergerakan dan menciptakan makna tempat (sense of place).

Gambar 3. Benteng Kuto besak sebelum dibangun café
Menurut rencana tata ruang wilayah kota Palembang benteng kuto besak merupakan salah satu kawasan peruntukan pariwisata. Benteng Kuto Besak berdiri kokoh dengan panjang 288,75 meter dan lebar 183,75 meter. Adapun ketinggian dari benteng tersebut adalah 9,99 meter (30 kaki) dengan ketebalan 1,99 meter (6 kaki). Di setiap sudut benteng terdapat bastion (benteng pertahanan), Lokasi Benteng Kuto Besak terletak di pusat Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, tepatnya terletak di sebelah utara Sungai Musi. Areal ini dibatasi dengan Sungai Sekanak yang terletak di sebelah barat, Sungai Tengkuruk yang terletak di sebelah timur, dan Sungai Kapuran di sebelah utara.


Gambar 4 Proses pembangunan café di benteng kuto besak
Benteng kuto besak kondisi yang sebelum dilakukan pembangunan café-café hanya di penuhi oleh pedagang-pedagang kaki 5, namun kondisi tersebut tiak membuat setiap orang yang datang berkunjung menjadi tidak nyaman atau menjadi bosan ada hal menarik lain yang menjadi salah satu pusat perhatian dari benteng kuto besak ini, pusat perhatian tersebut adalah jembatan ampera yang dapat di abadikan dalam gambar dari benteng kuto besak atau ada juga yang hanya ingin mencari ketenangan di benteng kuto besak, karena kondisi sekitar dari benteng kuto besak ini yang dapat membuat tenang.



Gambar 5. Hasil pembangunan café
Kawasan tersebut dilihat sebagai potesi yang dapat di kembangkan di benteng kuto besak dei untuk menarik perhatian pengunjung yang sebagian besar adalah warga palembang, namun terdapat juga beberapa wisatawan yang berkunjung kesana. Pengembangan ini juga dilakukan untuk menarik perhatian para atlet asiangames. Palembang merupakan tuan rumah dari perhelatan yang berkelas internasional.


Gambar 6. Patung ikan belida
Hasil dari pembangunan yang dilakukan tampak pada gambar 5 yang pada saat malam hati menambah daya tarik dari wisatawan local maupun yang berada di luar Palembang. Pengunjung dapat berssntai di café-café yang telah di bangun atau dapat juga bersantai di tepian sungai musi, atau bagi yang menyukai foto dapat mengambil gambar salah satu daya tarik kota Palembang yaitu jembatan ampera.



Gambar 7. Patung belida (tampak samping)
Bagian sebelah barat akan segera di bangun sebuah patung yang ikan belida yang diharapkan akan menambah daya tarik dari Palembang selain adanya jembatan ampera yang telah menjadi ikon Palembang selama bertahun-tahun, patung ini dapat mengeluarkan air seperti yang berada di Singapura, namun patung yang berada di Singapura berbentuk singa, yang akan di bangun di Sumatera Selatan ini berbentuk ikan belida yang merupakan ikan khas di sumatera selatan, nama ikan ini diambil dari salah satu nama sungai di Sumatera Selatan.



DAFTAR PUSTAKA
Febrianti, Widya Fransiska. 2007. “Analisis pariwiata pada kampong kapiten di Palembang”. FT universitas Sriwidjaya ; Palembang.
Republik Indonesia. 2012. Peraturan daerah kota Palembang No. 15 tahun 2012 tentang Rencaa Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palembang tahun 2012-2032. Sekretariat daerah. Palembang

Sesunan, Muhammad Hizbullah. 2014. “evaluasi perwujudan place attachment pada revitalisasi kawasan tepi air benteng kuto besak”. E-journal graduate unpar. 1. Magister arsitektur, pasca sarjana universitas katolik parahyangan; bandung

Rabu, 05 Oktober 2016

Sawahlunto: Kawasan Saringan dan Lobang Mbah Soero

Kawasan Saringan Sawahlunto
Kami sudah bangun sejak pukul lima pagi. Ini hari terakhir kami di Sumatera Barat. Rencana kami untuk hari ini adalah berkeliling di Sawahlunto dan juga di Kota Padang. Tak perlu berlama-lama hanya tersisa lima jam di Sawahlunto, kami langsung ke luar hotel untuk jalan-jalan pagi. Tujuan pertama kami adalah sebuah bangunan yang mirip cerobong dengan ukuran sangat raksasa. Terletak sedikit memisah dengan kota kami ke sana, ke Silotepatnya. Silo adalah tempat penyimpanan batu bara yang sudah dibersihkan. Silo di Sawahlunto ini berjumlah tiga dengan ukuran yang sama besar. Letaknya berada di Kawasan Saringan.
Silo
Sizing Plant
Tak sampai sepuluh menit berjalan kaki, kami sudah berada di Kawasan Saringan. Ukuran ketiga silo memang luar biasa besar seakan mempertontonkan kejayaan masa lalu tambang batubara Sawahlunto. Di samping silo terdapat sizing plant berukuran raksasa juga. Juga terdapat rel yang terhubung ke Kawasan Saringan ini. Bisa dibayangkan betapa sibuk dan megahnya Sawahlunto saat itu. Hijaunya rumput menambah keindahan dan kekokohan Kawasan Saringan ini.
Kami beranjak melewati jembatan menuju stasiun kereta api. Museumnya belum buka kami hanya melewatinya. Kami melanjutkan perjalanan dan melintas menuju Masjid Agung Nurul Islam. Setitik bulan masih terlihat di atas langit masjid. Menara masjid masih berdiri dengan kokoh. Kemudian kami kembali masuk ke kawasan Pasar dan Terminal Sawahlunto. Tujuan kami selanjutnya adalah Lobang Tambang Mbah Soero.
Galeri Tambang Batubara Kota Sawahlunto
Kota Sawahlunto mengingatkan saya dengan Kota Ubud di Bali yang damai dan sangat terawat. Tak lama kami tiba di lingkungan Lobang Tambang Mbah Soero. Kami masuk ke Galeri Tambang Batubara Kota Sawahlunto (disebut juga Gedung Info Box) yang terletak tepat di depan Lobang Mbah Soero. Masuk ke galeri ini tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun alias gratis. Galeri ini cukup modern dengan warna bangunan yang cerah dan menarik. Benda-benda yang ditampilkan dipajang dengan tepat sehingga dapat membuat orang yang mengunjungi senang membaca sejarahnya.
Lobang Mbah Soero
Di galeri ini ditampilkan gambar-gambar dari masa ke masa tentang Kota Sawahlunto. Ada pula gambar Bung Karno dan Bung Hatta saat mengunjungi Kota Sawahlunto. Kemudian bangunan-bangunan Sawahlunto zaman dulu. Selain itu ada juga sejarah ditemukannya pertama kali batubara di Sawahlunto ini. Kemudian dibagun infrastruktur penunjang kegiatan pertambangan. Semuanya lengkap ada di info box ini. Dipajang pula perlengkapan yang diperlukan untuk menambang dari masa ke masa dan juga sejarah Lobang Mbah Soero ini.
Selesai menambah ilmu dan pengetahuan di galeri batubara ini, kami ke luar dan menuju Lobang Mbah Soero. Pintunya masih dikerangkeng, belum dibuka. Ada pak penjaga di situ yang menawarkan untuk masuk ke dalam. Kami melihat-lihat dulu sekeliling. Kami belum berniat untuk turun ke bawah, mungkin nanti siang ada waktu untuk masuk ke lobang itu. Kemudian kami pamit ke bapaknya dan kembali ke hotel untuk sarapan dan mandi.

Tambang Batu Bara Sawahlunto

sawahluntoKota Sawahlunto, Sumatera Barat, dikenal sebagai daerah tambang batu bara sejak zaman Belanda sehingga banyak peninggalan bersejarah di kota ini. Salah satunya Lobang Tambang Mbah Soero, yang terpaksa dihentikan oleh Belanda pada 1930 karena merembes di bawah pemukiman warga. Diperkirakan lubang ini memiliki 40.000 juta ton batu bara dengan panjang 186 meter. Sebelum menjadi objek wisata, Lobang Tambang Mbah Soero merupakan tempat tumbal manusia. Kini, daerah Sawahlunto merupakan lokasi pembukaan Tour de Singkarak yang dibuka pada Senin, 4 Juni 2012, yang tentunya akan menambah geliat wisata di daerah yang masih menyimpan banyak lokasi wisata ini.
Kiplik memandu kami masuk ke terowongan bawah tanah itu. Kami, saya dan seorang teman, mengikuti Kiplik menuruni anak tangga semen yang berair, menukik pada kedalaman 16 meter dari permukaan tanah kota.
Ini adalah Lubang Tambang Batubara Mbak Soero (Mbah Soero Tunnel), sebuah objek wisata andalan di Kota Sawahlunto. Sebuah lubang tambang yang terkenal karena terkait dengan nasib “orang rantai”, para tahanan dari Jawa, Sulawesi, dan Bali yang dipekerjakan dengan kaki terantai di zaman Kolonial Belanda.
Terletak di jantung kota, Lubang Tambang Mbah Soero baru dibuka untuk umum 23 April 2008. Itu setelah digali dan direstorasi lebih setengah tahun. Masuk ke dalamnya mirip Lubang Jepang di Bukittinggi. Bedanya, air merembes di sejumlah titik di dinding dan menetes dari atap. Juga udara yang lembab dan oksigen yang terbatas.
Lubang Tambang Mbah Soero adalah bekas terowongan tambang tua batubara sejak “emas hitam” Sawahlunto ditemukan W. H. Van Greve, seorang geolog Belanda pada 1868 dengan perkiraan deposit 200 juta ton.
Ini bukan lubang pertama sejak lahan Sawahlunto dibebaskan Belanda untuk areal tambang batubara sejak 1886. Lubang pertama di Sungai Durian, kira-kira 7 km dari sini. Lubang Mbah Soero yang dulu juga terkenal dengan nama lubang Lembang Soegar dibuka kira-kira 1898. Namun inilah lubang yang terletak di jantung kota.
Lubang ini terkenal sebagai “Lubang Mbah Soero” karena diawasi mandor dari Jawa bernama Soerono. Ia orang yang disegani dan dipercayai memiliki ilmu kebatinan. Lubang ini ditutup pada 1932, ketika Belanda masih berkuasa. Tak ada catatan sejarah kenapa ditutup, namun diduga karena rembesan air yang tidak terkendali hingga memenuhi lubang.
“Mitos lain, lubang ini konon meminta tumbal nyawa manusia, tujuh orang hitam (pribumi) dan tujuh orang putih (Belanda), orang Belanda tidak mau, makanya mereka tutup,” kata Kiplik.
Seberapa luas lubang ini sesungguhnya adalah sebuah misteri. Menurut Kiplik (nama aslinya Sudarsono), pegawai pemandu Lubang Mbah Soero, karena peta lubang ini tak pernah ditemukan. Ia menduga hilangnya peta bisa karena upaya Belanda merahasiakan deposit batubara yang luar biasa.
Pemerintah Kota Sawahlunto baru membersihkan lubang tua ini sekitar 80 meter, menurun ke perut bumi. Seluruh dinding terdiri dari batu bara berkualitas bagus, hitam legam. Di ujung terlihat genangan air, seperti danau bawah tanah. Tapi bangunan tembok dan beton asli masih terawat.
Aslinya tidak ada tangga, hanya jalan untuk gerobak dorong dari besi dengan rel. Tangga semen dibuat setelah dibuka untuk kemudahan wisatawan.
Tapi terowongan ini tidak hanya satu, mirip jaring yang saling terhubung. Dua jalur masuk sudah dibersihkan dan satu jalur sejajar yang tidak memiliki pintu keluar. Lalu ditambah dua jalur melintang yang datar dengan jarak 30 meter setiap pertemuan.
Beberapa lubang sengaja ditutup dengan semen beton karena ditemukan banyak tengkorak saat penggalian. Tengkorak-tengkorak itu diduga bekas mayat para “orang rantai” dan dikuburkan dipemakaman khusus “Orang Rantai” Sawahlunto di sebuah bukit.
“Pemandu kebatinan (paranormal-red) yang menemani renovasi menyarankan untuk menutupnya agar tidak bermasalah kepada pengunjung,” kata Kiplik.
Kami dibawa menuju ujung lubang mendatar dengan tour sejauh 186 meter. Di sini kami merasakan nikmatnya oksigen yang dihembuskan pipa blower berdiameter 30 cm dari atas. Tanpa blower oksigen di ujung ini hanya tinggal 15 persen.
“Ada informasi lubang ini dulunya tembus ke sentra listrik (central electrice-red) tenaga uap, para pekerja langsung memasok batubara ke sana lewat lubang,” kata Kiplik.
Saya pernah mendengar dari saksi mata, seorang mantan pejuang 45 di kota ini yang menggunakan terowongan bekas sentra listrik tersebut sebagai perakitan granat ketika melawan pendudukan Jepang pada 1940-an dan lubangnya tembus di sekitar Lubang Mbah Soero. Tapi terowongan itu sudah tertutup jika masuk dari ruang bawah tanah sentra listrik.
Jika itu benar, sangat mengagumkan. Jaraknya dari tempat kami sekitar 160 meter dan bersisian dengan sungai Batang Lunto yang membelah kota. Sentra listrik bertenaga uap itu dibangun pada 1894 di lokasi yang jauh lebih tinggi dekat stasiun kereta api. Tapi tutup pada 1924 setelah sentra listrik yang baru dibangun di Salak, sekitar 5 km dari sana.
Kini di atas bekas sentra listrik itu dibangun Mesjid Agung Nurul Islam sejak 1952 dan menaranya yang tinggi dijadikan menara mesjid.
“Ada rencana penggalian Mbah Soero Tunnel akan dilanjutkan,” kata Kiplik.
Di luar pintu lubang, patung seorang Belanda penjaga sedang mengawasi dua pekerja tambang mendorong gerobang besi rel penuh “emas hitam” yang berkilat diterpa sinar matahari. Rantai bekas para pekerja, yang asli, dipajang di gedung “Info Box” di dalam kotak kaca.
Sebelum pergi, penjaga menyerahkan Certificate Mbah Soero Tunnel sembari memberikan kelebihan uang tiket masuk Rp8.000. Saya tercatat sebagai pengunjung wisata menelusuri terowongan Mbah Soero yang ke-11.972.
tempat wisata sawahlunto
Dapur Ribuan Pekerja
Berjarak 190 meter dari Mbah Soero Tunnel, ada Museum Goedang Ransoem. Ini bekas dapur umum yang dibangun Kolonial Belanda pada 1918 untuk menyuplai makanan bagi ribuan buruh tambang, termasuk “orang rantai” dan pasien rumah sakit.
Periuk-periuk,  kuali-kuali raksasa, dan tungku raksasa bermerek “Rohrendampfkesselfabrik” tahun 1894 berbahan bakar batubara membuktikan dapur umum ini sudah menggunakan peralatan memasak missal berteknologi modern pada zamannya.
Di sini Anda bisa menonton film dokumenter wisata tambang Sawahlunto berdurasi 15 menit di Ruang Audio-Visual. Ada tiga judul film yang ditawarkan.
Lebih setengah kilometer dari Museum Goedang Ransoem kita bisa mengunjungi Museum Kereta Api yang terletak di Stasiun Sawahlunto. Di sini bisa disaksikan peninggalan kejayaan perkeretaapian Sumatra Barat yang dibangun akhir abad 19.
Ini museum kereta api kedua di Indonesia setelah Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah. Anda bisa menyaksikan sejumlah peralatan kereta api zaman Kolonial. Juga bisa merasakan suasana kereta api tempo dulu dengan naik kereta api wisata dengan lokouap yang di Sumatra Barat disebut “Mak Itam” (Paman Hitam).
Kereta api lokouap jenis ini adalah transportasi utama ekspor batubara dari Sawahlunto melewati Pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur) di Padang sepanjang 155,5 km sejak dibangun 1894.
Kini untuk tujuan wisata, Mak Itam berbahan bakar batubara ini membawa dua gerbong ala kereta api cowboy setiap Minggu ke daerah sentra tenun di Silungkang pada pukul 11.30 WIB. Dengan tiket Rp15 ribu bisa menikmati perjalanan pergi-pulang.
Jika berombongan, Mak Itam bisa dicarter kapan pun dengan tarif Rp4 juta hingga Rp5 juta. Hanya saja, perlu menunggu sedikitnya 3 jam untuk proses pemanasan mesinnya yang  mengepulkan asap tebal itu.
Saya benar-benar kagum dengan Kota Sawahlunto. Ia menjadi ancaman serius bagi kota wisata Bukittinggi yang sudah lama digelari “kota wisata” di Sumatra Barat. Sawahlunto adalah kota tambang batubara yang mati setelah aktivitas penambangan menurun setelah dieksploitasi lebih satu abad.
Wali Kota Amran Nur bertekad menjadikannya sebagai kota wisata tambang. Ini pilihan terbaik daripada terus mengandalkan batubara yang tinggal untuk tambang dalam yang sulit dieksploitasi.
Saya kagum karena impian Amran menjadikan Sawahlunto sebagai kota wisata terwujud. Tiga lokasi objek wisata sejarah yang baru saya lihat masih direncanakan ketika saya berkunjung dan menulis pada 2005. Kini semuanya terwujud dan dikelola dengan sangat bagus.
Ada selusin bangunan bersejarah peninggalan Kolonial Belanda di kota, semuanya sudah enak dipandang karena terawat. Gedung ruang pertemuan di masa lalu yang dibangun pada 1910 dengan nama “Gluck Auf”, tempat para pejabat Kolonial menari dan menanyi, kini menjadi Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto. Ada kafe di sampingnya yang setiap hari melayani aneka makanan khas setempat.
Setiap tahun pada Desember di gedung ini digelar Festival Kesenian Multicultural Mancanegara. Desember lalu bertajuk “Sawahlunto Internasional Music Festival (Simfes)” tampil musisi dari 7 negara dan 5 benua. Di antaranya Australia, Meksiko, Korea Selatan, Belgia, Uzbekhistan, Kamerun, dan Taiwan.
Di sudut-sudut jalan raya terdapat bangku taman yang cantik mengarah ke panorama objek wisata. Saya tak bisa membayangkan bangku-bangku dari besi ini akan bertahan lama di Kota Padang atau Jakarta. Seseorang pasti sudah menggergaji atau mencurinya. Juga ada toilet umum yang indah di pinggir jalan.
Kini Pemko Sawahlunto sedang memproses usulan agar kota itu masuk World Heritage Cities Programme UNESCO sebagai kota tambang batubara bersejarah. Mereka siap menghadapi proses yang panjang penjurian.
Pembangunan Sawahlunto menjadi kota wisata tak hanya membenahi objek sejarah tambang, tapi juga objek wisata family gathering yang terutama ditujukan untuk lokal. Sebuah kawasan bekas tambang di Kandi, 11,6 km dari kota, dijadikan kebun binatang dengan maskot gajah. Di sana juga ada Taman Kupu-kupu.
Anda juga bisa menikmati paint ball dan naik perahu di danau. Di sini juga ada arena pacuan kuda. Di lokasi lain di Muara Kalaban  ada Water Boom yang selalu ramai pengunjung. Ini water boom pertama di Sumatera Barat.
Sawahlunto juga memiliki objek wisata sejarah lain, makam Mr. Muhammad Yamin di Talawi, 16,6 km dari pusat kota. M. Yamin adalah konseptor Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan pencipta lambang Polisi Militer, wajah Gadjah Mada. (Syofiardi Bachyul Jb/ PadangKini.com)
Sumber: padangkini.com/index.php/index.php?mod=wisata&id=7101

Tambang Batu bara di Ombilin Sawahlunto

Tambang batu bara ombilin di Sawahlunto, akan kembali beroperasi maksimal bulan depan. Tambang itu hidup kembali setelah PT Bukit Asam Tbk menggandeng PT Time Surya Energy dengan investasi US$361,7 juta  atau Rp3,1 triliun.
"Kita bersyukur lokasi tambang dalam yang masih mengandung sekitar 87 juta ton batu bara kembali beroperasi, ini akan menguntungkan kita juga," ujar Walikota Sawahlunto Amran Nur saat dihubungi VIVAnews.
Peresmian beroperasinya kembali tambang ombilin seluas 2.950 hektare dilakukan dua hari lalu. Sementara kesepakatan antara dua perusahaan tersebut dilakukan sekitar tiga bulan lalu.
Menurutnya PT Time Surya Energy juga menggandeng kontraktor asal China untuk mengerjakan proyek yang ditaksir mencapai 21 tahun. Pada Ombilin tahap I, investasi yang ditanamkan mencapai US$361,7 juta. Pada tahap I, target produksi diperkirakan jauh dari volume maksimal yang akan dicapai pada 2014.
"Mereka menargetkan mampu memproduksi maksimal sekitar 1 juta hingga 2 juta ton per tahun pada 2014," kata Amran.
Batubara produksi tambang Omblin, Sawahlunto, Sumatera Barat, sudah tidak beroperasi maksimal sejak 2002 lalu. Batubara ini nantinya ditargetkan memenuhi kebutuhan batu bara PT Semen Padang dan PLTU Sijantang, Sawahlunto sebesar 1,5 juta ton per tahun. Selain cadangan batu bara di tambang dalam, walikota mengklaim, kandungan batu bara di atas permukaan masih menyisakan sekitar 27 juta ton. (Laporan: Eri Naldi | Padang, umi)
• VIVAnews



Revitalisasi Lahan Bekas Tambang Sawahlunto




 (Andricko K W).docx4/ 5

Inisiatif
Selamat Datang di Sawahlunto

Namun   di   sisi   lain   Sawahlunto   memiliki   pemandangan   alam   yang   cukup  indah   danbanyak   bangunan   historis   peninggalan   Belanda   sejak   pertambangan   batu   bara   pertama kali dibuka. Potensi ini   dilihat   oleh  Walikota Subari Sukardi pada tahun   2001   dengan   keluarnyaPerda Visi dan Misi nomor 2 tahun 2001 yang berupaya untuk “Mewujudkan Sawahlunto tahun2020 menjadi kota Wisata Tambang yang Berbudaya”. Seiring dengan keluarnya Perda tersebut,dilakukan   penyusunan   

Buku   Rencana   Induk   Pengembangan   Pariwisata   (RIPP)   bekerjasamadengan Lembaga Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPM-ITB) pada tahunyang sama. 

Hasilnya dijabarkan dalam strategi dan agenda 2002-2020 serta program pelaksanaan2002-2006.  Kemudian Walikota terpilih 2003, Amran Nur,  hasil kajian tersebut dikonkritkandalam serangkaian program revitalisasi fasilitas dan gedung-gedung tua peninggalan Belanda.

Kota Sawahlunto memiliki peninggalan sejarah pembangunan Belanda, yang memilikipotensi untuk dikembangkan, oleh karena itu dilakukan pengelolaan lanskap kota, agar dapatmeningkatkan perekonomian penduduk kota Sawahlunto. 

Harris dan Dines (1988) menjelaskanbahwa lanskap sejarah merupakan lanskap yang berasal dari masa lampau,  yang didalamnyaterdapat   bukti   fisik   tentang   keberadaan   manusia   di   dalamnya.   Goodchild   (1990)   jugamenjelaskan bahwa suatu lanskap dikatakan memiliki nilai kesejarahan sejarah jika di dalamnyamemuat satu atau beberapa kondisi lanskap berikut ini:
1. Merupakan contoh yang menarik dari sebuah tipe lanskap sejarah.
2. Memuat bukti yang menarik untuk dipelajari.
3. Memiliki keterkaitan dengan seseorang, masyarakat atau peristiwa penting dalam sejarah.
4. Memiliki nilai-nilai penting dalam sejarah terkait dengan bangunan atau monumen sejarahnya.

Strategi yang DijalankanPada awal pelaksanaan program, Pemerintah kota Sawahlunto membuat sebuah kajianguna mewujudkan revitalisasi bangunan bersejarah kota. Mereka mengundang Peter Van Dun,seorang   ahli     dalam  bidang  perencanaan   konservasi   terpadu   dan   merupakan   pensiunan   dariDepartemen Konservasi Belanda melalui program PUM. 

Kemudian pemerintah kota Sawahluntojuga menjalin kerjasama dengan Badan Warisan Sumatera Barat (BWSB). BWSB merupakanLSM yang mempunyai kepedulian terhadap bangunan dan benda-benda bersejarah di wilayahSumatera Barat. BWSB telah melakukan inventori khusus terhadap bangunan-bangunan tua diKota   Sawahlunto  pada  tahun   2002,  yang  bermanfaat   untuk dipergunakan   sebagai  titik  awalproyek   tersebut.   
Museum Kereta Api

Kedua   pihak tersebut  merupakan  mitra   pemerintah   kota   Sawahlunto dalampembuatan kajian pemetaan dan revitalisasi bangunan cagar budaya. Kemudian   pemerintah   kota   Sawahlunto  membentuk tim revitalisasi bangunan cagarbudaya dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto   yang berperan   sebagaileading sector atau dinas yang bertanggung jawab. Dinas ini dibantu oleh SKPD lain, seperti Dinas PU, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan, Koperasi dan Tenaga Kerja; DinasPendidikan, Pemuda dan Olahraga; Dinas Kesehatan dan Sosial; Dinas Pendapatan, Pengelolaan
Keuangan dan Aset Daerah; Dinas Pertanian dan Kehutanan; Bappeda; BLH; Badan Kesbangpoldan Penanggulangan Bencana; kecamatan dan kelurahan. Segera setelah m tersebut bekerja, Pemerintah Sawahlunto menetapkan beberapa kebijakan terkait seperti :
1. Menetapkan dan memantapkan fungsi kawasan cagar budaya melalui Perwal maupun Perda.
2. Mengkonservasi dan merehabilitasi kawasan cagar budaya.
3. Memberikan insentif pada bangunan tua, bangunan bernilai sejarah dan/atau bernilai tinggi.
4. Meningkatkan fungsi bangunan tua, bangunan bernilai sejarah dan/atau bernilai tinggi, serta potensi sosial budaya masyarakat yang memiliki nilai sejarah sebagai obyek wisata budaya.
Museum Goedang Ransoem

Secara garis besar, beberapa kegiatan yang dilakukan pemerintah kota Swahlunto gunamewujudkan upaya Revitalisasi Cagar Budaya tersebut, antara lain :
1. Melakukan   kajian   tentang   upaya   peningkatan   dan   perbaikan   kawasan   kota   lama.Kegiatan ini bekerjasama dengan BWSB dan PUM Belanda pada tahun 2003, Universityof  Malaka Malaysia pada tahun  2004 sekaligus  mengirimkan   para  tokoh masyarakatuntuk belajar ke University of Malaka, dan Dirjen Cipta Karya Kementerian PekerjaanUmum pada tahun 2004,
2. Melakukan sosialisasi program ke  masyarakat secara terus menerus  melalui  berbagaimedia yang ada di Sawahlunto, 
3. Melakukan   pelatihan,lokakarya   dan   workshop   mengenai   pentingnya   revitalisasi   kotakepada jajaran aparat pemkot.
4. Melakukan   studi  banding  tentang   revitalisasi  bagi   pegawai  pemkot khususnyabidangperencanaan dan teknis ke kota-kota di Indonesia maupun di luar negeri.
5. Berdasarkan   inventaris   yang   telah   dilakukan   sejak   tahun   2001   dan   2002,   maka pemerintah   kota   mulai   melakukan   peningkatan     kawasan   pedestrian,   pembangunan kawasan   bermain   dan   RTH,   mulai   merenovasi   bangunan-bangunan   bersejarah,   sertamembangun tempat-tempat penunjang kegiatan wisata, seperti gedung info box, IPTEKcenter, water boom dan kebun binatang Program-program pelestarian atau revitalisasi yang dapat membantu meningkatkan  danmenjaga karakteristik kota: 
(1) meningkatkan keindahan fisik kawasan dengan  mengembalikanlanskap kota pada bentuk kolonial; 
(2) menerapkan  kegiatan baru dalam  kawasan  yang  terkait
erat dengan keterlibatan masyarakat; dan 
(3) memberikan masukan mengenai arahan kebijakan kepada   Pemerintah   Daerah   untuk   mendukung   perencanaan   serta   mengawasi   kegiatanpelaksanaannya. Rencana lanskap revitalisasi 

Kota Tuo Sawahlunto terdiri dari:rencana ruangyang terbagi menjadi ruang inti (46.48%) yang berupa ruang sejarah dan ruang publik yang berfungsi   untuk   aktivitas  napak  tilas  sejarah  dan bersantai  atau sosialisasi,   ruang  penunjang(2.04%), ruang pengembangan (1.71%), dan ruang penyangga (49.77%). 
Lubang Mbah Soero

Rencana sirkulasinya terdiri dari sirkulasi primer (mobil), sekunder (pejalan kaki dan sepeda), dan kereta tambang. Keindahan Bangunan Sejarah di Sawahlunto: Museum   kereta   api   ini   dulunya   adalah   stasiun kereta   api   yang   dibangun   oleh   pemerintah   Belanda   pada tahun 1918.

Hotel Ombilin
Inilah salah satu saksi bisu kejayaan Sawahlunto di masa lalu, Hotel Ombilin.

DAFTAR PUSTAKA :
Goodchild PH. 1990. Some Principle For the Conservation of Historic Landscapes. University of New York. 58p.

Harris CW, Dines NT. 1988. Time Saver Standard for Landscape Architecture.New York: Mc Graw-Hill Inc

Revitalisasi lahan bekas tambang batubara di kota sawahlunto, sebagai tempat wisata sejarah Power Point



BY: Andricko Kristian Wibowo

Selamat Datang di Sawahlunto

     Sawahlunto merupakan wilayah perbukitan yang dikenal sebagai kota tambang  dengan luas wilayah 27.345 Ha atau 273.45 Km2. Secara administrasi terdiri dari 4 Kecamatan, 10 Kelurahan dan 27 desa. Jarak dari kota Sawahlunto ke Kota Padang (Ibu Kota Provinsi) adalah 95 Km yang dapat dicapai melalui jalan darat dengan kondisi baik dalam waktu 2 jam dengan kendaraan roda empat.
Profil Kota
     Sejarah kota Sawahlunto tidak dapat dipisahkan dari aktivitas penambangan batu bara. Daerah terpencil ini menjadi berpenghuni dan berkembang sebagai kota kecil ketika pemerintah Hindia Belanda menginvestasikan 5,5 juta gulden untuk menggarap tambang batu bara Ombilin, Sawahlunto.  Selama puluhan tahun lamanya, perekonomian Sawahlunto sangat bergantung pada aktivitas penambangan batu bara. Banyak pendudukan Sawahlunto yang berprofesi sebagai penambang batu bara. Namun sikap ketergantungan ini berdampak kurang baik pada perekonomian Sawahlunto pada beberapa tahun terakhir ini. Harga batu bara di pasaran internasional di tahun 2012 turunhingga 25%. Hal ini menyebabkan  PT Bukit Asam Unit Penambangan Ombilin sebagai perusahaan tambang batu bara satu-satunya di Sawahlunto mengalami kerugian belasan hingga puluhan miliar rupiah pertahun. PT Bukit Asam bahkan memutuskan untuk menutup tambang dan akan mengurangi jumlah tenaga kerjanya secara bertahap. Akibatnya, Kota Sawahlunto menjadi seperti kota mati yang pada siang harinya sepi, dan malam harinya sunyi.

Situasi Sebelum Inisatif
     Namun di sisi lain Sawahlunto memiliki pemandangan alam yang cukup indah dan banyak bangunan historis peninggalan Belanda sejak pertambangan batu bara pertama kali dibuka. Potensi ini dilihat oleh Walikota Subari Sukardi pada tahun 2001 dengan keluarnya Perda Visi dan Misi nomor 2 tahun 2001 yang berupaya untuk “Mewujudkan Sawahlunto tahun 2020 menjadi kota Wisata Tambang yang Berbudaya”. Seiring dengan keluarnya Perda tersebut, dilakukan penyusunan Buku Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) bekerjasama dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPM-ITB) pada tahun yang sama. Hasilnya dijabarkan dalam strategi dan agenda 2002-2020 serta program pelaksanaan 2002-2006. Kemudian Walikota terpilih 2003, Amran Nur, hasil kajian tersebut dikonkritkan dalam serangkaian program revitalisasi fasilitas dan gedung-gedung tua peninggalan Belanda.

Inisiatif
  Menurut Nurisjah dan Pramukanto (2001) pelestarian lanskap sejarah dapat didefinisikan sebagai usaha manusia untuk memproteksi atau melindungi peninggalan atau sisa-sisa budaya dan sejarah terdahulu yang bernilai dari berbagai perubahan yang negatif  atau merusak keberadaan atau nilai yang dimilikinya.
    Revitalisasi adalah upaya untuk mengembalikan serta menghidupkan kembali vitalitas yang pernah ada pada kawasan kota yang mengalami degradasi, melalui intervensi fisik dan nonfisik (rehabilitasi ekonomi, rekayasa sosial-budaya serta pengembangan institusional).(Anonim, 2011) .

Landasan Teori
     Menurut Goodchild (1990), lanskap sejarah perlu dilestarikan karena memiliki arti penting, yaitu:
1. Menjadi bagian penting dan bagian integral dari warisan budaya.
2. Menjadi bukti fisik dan arkeologis dari warisan sejarah.
3.Memberi kontribusi bagi keberlanjutan pembangunan kehidupan berbudaya.
4. Memberi kenyamanan publik (public amenity).
5.Memberikan nilai ekonomis dan dapat mendukung pariwisata.

Strategi yang dijalankan
   Pada awal pelaksanaan program, Pemerintah kota Sawahlunto membuat sebuah kajian guna mewujudkan revitalisasi bangunan bersejarah kota. Mereka mengundang Peter Van Dun, seorang ahli  dalam bidang perencanaan konservasi terpadu dan merupakan pensiunan dari Departemen Konservasi Belanda melalui program PUM. Kemudian pemerintah kota Sawahlunto juga menjalin kerjasama dengan Badan Warisan Sumatera Barat (BWSB). BWSB merupakan LSM yang mempunyai kepedulian terhadap bangunan dan benda-benda bersejarah di wilayah Sumatera Barat. BWSB telah melakukan inventori khusus terhadap bangunan-bangunan tua di Kota Sawahlunto pada tahun 2002, yang bermanfaat untuk dipergunakan sebagai titik awal proyek tersebut. Kedua pihak tersebut merupakan mitra pemerintah kota Sawahlunto dalam pembuatan kajian pemetaan dan revitalisasi bangunan cagar budaya.

   Kemudian  pemerintah  kota  Sawahlunto  membentuk tim revitalisasi bangunan cagar budaya dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto  yang berperan  sebagai leading sector atau dinas yang bertanggung jawab. Dinas ini dibantu oleh SKPD lain, seperti Dinas PU, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan, Koperasi dan Tenaga Kerja; Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga; Dinas Kesehatan dan Sosial; Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah; Dinas Pertanian dan Kehutanan; Bappeda; BLH; Badan Kesbangpol dan Penanggulangan Bencana; kecamatan dan kelurahan.

Segera setelah tim tersebut bekerja, Pemerintah Sawahlunto menetapkan beberapa kebijakan terkait seperti :
1.     Menetapkan dan memantapkan fungsi kawasan cagar budaya melalui Perwal maupun Perda.
2.     Mengkonservasi dan merehabilitasi kawasan cagar budaya.
3.     Memberikan insentif pada bangunan tua, bangunan bernilai sejarah dan/atau bernilai tinggi.
4.     Meningkatkan fungsi bangunan tua, bangunan bernilai sejarah dan/atau bernilai tinggi, serta potensi sosial budaya masyarakat yang memiliki nilai sejarah sebagai obyek wisata budaya.

Secara garis besar, beberapa kegiatan yang dilakukan pemerintah kota Swahlunto guna
mewujudkan upaya Revitalisasi Cagar Budaya tersebut, antara lain :
1. Melakukan kajian tentang upaya peningkatan dan perbaikan kawasan kota lama.
Kegiatan ini bekerjasama dengan BWSB dan PUM Belanda pada tahun 2003,
University of Malaka Malaysia pada tahun 2004 sekaligus mengirimkan para tokoh
masyarakat untuk belajar ke University of Malaka, dan Dirjen Cipta KaryaKementerian Pekerjaan Umum pada tahun 2004,
2. Melakukan sosialisasi program ke masyarakatsecara terus menerusmelalui
berbagai media yang ada di Sawahlunto,
3. Melakukan pelatihan,lokakarya dan workshop mengenai pentingnya revitalisasi
kota kepada jajaran aparat pemkot.
4. Melakukan studi banding tentang revitalisasi bagi pegawai pemkot khususnya
bidang perencanaan dan teknis ke kota-kota di Indonesia maupun di luar negeri.
5. Berdasarkan inventaris yang telah dilakukan sejak tahun 2001 dan 2002, maka
pemerintah kota mulai melakukan peningkatan  kawasan pedestrian,
pembangunan kawasan bermain dan RTH, mulai merenovasi bangunan-bangunan
bersejarah, serta membangun tempat-tempat penunjang kegiatan wisata, seperti
gedung info box, IPTEK center, water boom dan kebun binatang .

1. Lubang Mbah Soero
Lubang Mbah Soero

Lubang Mbah Soero merupakan sebuah tunnel panjang yang digunakan untuk proses penggalian dan pengangkutan batubara pada jaman pemerintahan Belanda.

2. Museum Goedang Ransoem
Museum Goedang Ransoem
Di museum ini dapat dilihat perlengkapan masak yang digunakan pada jaman dulu. Kita pasti akan terheran-heran melihat ukuran tempat masak yang tidak biasa .

3.Museum Kereta Api
Museum Kereta Api
Museum kereta api ini dulunya adalah stasuin kereta api yang dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1918. Lokasi museum ini berada di Jl Kampung Teleng dan beroperasi mulai pukul 08.00 s/d 17.00. Kecuali hari Senin, museum ini siap menerima kunjungan para traveler yang ingin merasakan naik kereta api jaman dulu.

4.Hotel Ombilin
 
Hotel Ombilin
 
Inilah salah satu saksi bisu kejayaan Sawahlunto di masa lalu, Hotel Ombilin. Hotel ini pada jaman dulu sering digunakan sebagai tempat menginap tamu-tamu Belanda. Hotel ini dibangun pada tahun 1918. Tentu saja dengan arsitektur khas Belanda.

DAFTAR PUSTAKA :

Goodchild PH. 1990. Some Principle For the Conservation of Historic Landscapes. University of New York. 58p.


Harris CW, Dines NT. 1988. Time Saver Standard for Landscape Architecture.New York: Mc Graw-Hill Inc