KENALKAH JENIS KONSERVASI ?

Senin, 08 September 2014

PELESTARIAN KAWASAN PUSAKA

A.PELESTARIAN KAWASAN PUSAKA
1.Pusaka dan Pelestarian (Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003)

  -  Pusaka Indonesia adalah pusaka alam, pusaka budaya, dan   pusaka saujana.
  -  Pusaka alam adalah bentukan alam yang istimewa.
  -  Pusaka budaya adalah  hasil cipta, rasa, karsa, dan karya   yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di Tanah Air   Indonesia, secara sendiri-sendiri, sebagai kesatuan bangsa   Indonesia, dan dalam interaksinya dengan budaya lain   sepanjang sejarah keberadaannya. Pusaka budaya mencakup   pusaka tangible (bendawi) dan pusaka intangible (non   bendawi);
  -  Pusaka saujana adalah gabungan pusaka alam dan pusaka   budaya dalam kesatuan ruang dan waktu.
  -  Pelestarian adalah upaya pengelolaan pusaka melalui kegiatan   penelitian, perencanaan, perlindungan, pemeliharaan,   pemanfaatan, pengawasan, dan/atau pengembangan secara   selektif untuk menjaga kesinambungan, keserasian, dan daya   dukungnya dalam menjawab dinamika jaman untuk   membangun kehidupan bangsa yang lebih berkualitas

2.   PRINSIP PENGELOLAAN KOTA PUSAKA DUNIA (2003):

1)Perlu identifikasi kualitas tertentu yang menyebabkan suatu situs bersejarah perkotaan dianggap penting;
2)Perlu proses sistematik untuk inventarisasi, penelitian, dan penilaian aset pelestarian;
3)Perlu menggunakan hasil evaluasi situs dalam perencanaan pelestarian;
4)Perlu tujuan pelestarian terpadu dengan tujuan  pembangunan sosial dan ekonomi;
5)Perlu melibatkan masyarakat dalam perencanaan pelestarian;
6)Perlu meyakinkan bahwa penilaian terhadap keuangan pembangunan baru tidak merusak perkotaan pusaka;
7)Perlu mendorong pemerintah pusat dan daerah menggunakan kewenangannya dalam menata dan menyusun peraturan dan pendanaan yang tepat;
8)Perlu memahami bahwa setiap persoalan pelestarian adalah unik.

3.  Prinsip Keterpaduan Upaya Pelestarian Pusaka

1) Masyarakat sebagai pusat pengelolaan (people-centered management

2) Kerjasama/kolaborasi antar disiplin ilmu maupun sektor

3)  Mekanisme kelembagaan yang mampu mengakomodasi apresiasi dan aksi masyarakat

4)  Perlu dukungan dan penegakan aspek legal

5)  Perlu diwujudkan pasar pelestarian untuk menunjang kesinambungan pengelolaan.


4. Model Program Pelestarian Kawasan Pusaka
1) Organisasi & Pengelolaan
2) Dokumentasi & Presentasi
3) Promosi
4) Perencanaan Kegiatan
5) Disain
6) Restrukturisasi Ekonomi


Senin, 01 September 2014

Membangun Kekuatan dengan kedamaian, membangun kekuatan dengan kerendahan hati

Segala puji hanya milik Allah, kami memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya, tempatku berlindung dari kejelekan jiwa dan keburukan amal kami.
Barangsiapa yang mendapatkan petunjuk Allah, tidak ada yang dapat
menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, tidak ada yang dapat menunjukinya. Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja itu dapat segera terwujud. Peringatan-Nya agar kita terus bekerja keras dan “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS Az-Zumar. [39] : 53).
Dengan seruan ini, Allah berfirman kepada mereka dan menyuruh mereka
agar tidak berputus asa dari rahmat Allah dan bahwa mereka harus kembali kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, karena Dia mengampuni semua dosa, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
“Bila ingin jaya Indoesia-ku, kita harus mampu membangun kekuatan dengan kedamaian, membangun kekuatan dengan kerendahan hati dan siapa pun yang tinggal di wilayah ini tidak berlaku serakah karena hanya akan mengakibatkan celaka dan kehancuran”
Untuk mencapai Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja, kita perlu bertekad dengan “Teteg, tatag, meneng ngadhepi aniaya sadrema nggayuh adiling tatanan”.
Sebab kalau bukan Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja yang diraih, maka kehancuran yang menghadang, kemaksiatan penuhi bumi pertiwi, dan jika Allah hendak menghancurkan dan membinasakan suatu negeri, Allah akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang menyebabkan kerusakan dan kefasikan.
Siapakah orang yang mau membawa dirinya menuju kepada kehancuran? Mereka adalah orang-orang melakukan maksiat yang berdosa, yang melanggar dan durhaka. Penyebab kehancuran sesungguhnya adalah banyak menghabiskan waktu untuk perbuatan dosa, menghabiskan waktu untuk selain ketaatan kepada Allah, menghabiskan harta pada hal-hal yang tidak disukai Allah. Allah berfirman setelah menyebutkan para Nabi:
“Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di
antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan keburukan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar.” (QS An-Nahl [16] : 94)
Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Anbiyaa [21] : 9)
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta'ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Isra [17] : 16)
Sebab kehancuran adalah apa yang Allah telah sebutkan yaitu kezaliman, kedurhakaan, dosa-dosa, kerusakan, menyia-nyiakan waktu, menyia-nyiakan harta dan berputus asa dari rahmat Allah. “Sapa sing salah bakal sèlèh”.

“Eco-Efisiensi”.

Terjadilah perpaduan antara “ekonomi” dan “ekologi” dan tidak ada konflik antara keduanya. Bahkan keduanya “saling memperkuat”.
Usahawan untung dan lingkungan juga untung. Masyarakat pun untung karena lingkungan hidupnya tidak tercemar dan harga barang yang dibelinya juga turun.
Business Council for Sustainable Development menyebut konsep ini “eco-efisiensi”.
Bersamaan dengan itu, jumlah limbah per unit produk berkurang, menurunkan potensi dampak terhadap lingkungan hidup.
Karena efek ganda ini, praktik itu disebut “eko-efisiensi” yang mengandung arti: efisiensi ekonomi maupun efisiensi ekologi (Schmidheiny, 1992).
Hal ini menunjukkan: ekonomi dan ekologi dapat digabung, keduanya dapat saling bersinergi.
“Efisiensi” menggunakan sumber daya ekonomi seefektif mungkin untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia sehingga tidak ada sumber daya yang terbuang (limbah).
Dari segi bisnis, naiknya efisiensi mengakibatkan lebih sedikit bahan dan energi yang terbuang sehingga lebih sedikit bahan dan energi yang dibutuhkan per unit produk. Dengan ini biaya produksi turun dan potensi profit naik.
Dari segi lingkungan hidup berkurangnya limbah berarti menurunnya potensi dampak terhadap lingkungan hidup.
Dengan meningkatkan efisiensi, lebih sedikit bahan dan energi diperlukan per unit titik lampu, sehingga akan menurunkan biaya energi per unit retribusi untuk meningkatkan potensi kas bendahara.
Pemborosan berarti tidak berterima kasih kepada Tuhan (Bani Isra’il 26-27)

Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja


Segala puji hanya milik Allah, kami memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya, 
tempatku berlindung dari kejelekan jiwa dan keburukan amal kami.
Barangsiapa yang mendapatkan petunjuk Allah, tidak ada yang dapat
menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, 
tidak ada yang dapat menunjukinya. Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja 
itu dapat segera terwujud. Peringatan-Nya agar kita terus bekerja keras dan 
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS Az-Zumar. [39] : 53).
Dengan seruan ini, Allah berfirman kepada mereka dan menyuruh mereka agar 
tidak berputus asa dari rahmat Allah dan bahwa mereka harus kembali kepada-Nya, 
bertaubat kepada-Nya, karena Dia mengampuni semua dosa, 
Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
“Bila ingin jaya Indoesia-ku, kita harus mampu membangun kekuatan dengan kedamaian, 
membangun kekuatan dengan kerendahan hati dan siapa pun yang tinggal di wilayah ini 
tidak berlaku serakah karena hanya akan mengakibatkan celaka dan kehancuran”
Untuk mencapai Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja, 
kita perlu bertekad dengan “Teteg, tatag, meneng ngadhepi aniaya 
sadrema nggayuh adiling tatanan”.
Sebab kalau bukan Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja yang diraih, 
maka kehancuran yang menghadang, kemaksiatan penuhi bumi pertiwi, 
dan jika Allah hendak menghancurkan dan membinasakan suatu negeri, 
Allah akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang menyebabkan kerusakan 
dan kefasikan.
Siapakah orang yang mau membawa dirinya menuju kepada kehancuran? 
Mereka adalah orang-orang melakukan maksiat yang berdosa, yang melanggar dan durhaka. 
Penyebab kehancuran sesungguhnya adalah banyak menghabiskan waktu untuk perbuatan 
dosa, menghabiskan waktu untuk selain ketaatan kepada Allah, menghabiskan harta pada 
hal-hal yang tidak disukai Allah. Allah berfirman setelah menyebutkan para Nabi:
“Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di
antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, 
dan kamu rasakan keburukan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; 
dan bagimu azab yang besar.” (QS An-Nahl [16] : 94)
Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. 
Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki dan 
Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Anbiyaa [21] : 9)
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada 
orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta'ati Allah) tetapi mereka
melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya 
perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan
negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Isra [17] : 16)
Sebab kehancuran adalah apa yang Allah telah sebutkan yaitu kezaliman, 
kedurhakaan, dosa-dosa, kerusakan, menyia-nyiakan waktu, menyia-nyiakan harta 
dan berputus asa dari rahmat Allah. “Sapa sing salah bakal sèlèh”.


Minggu, 05 Januari 2014

REVITALISASI KAWASAN SUNGAI GAJAH WONG MENJADI DAERAH PARIWISATA DI YOGYAKARTA

                                                                               Oleh; Arthur Pradinata

Saat ini  pembangunan terjadi sangat pesat dan  telah menjamur di mana-mana dari kota kecil hingga kota besar, masuk nya pasar global di Indonesia memicu daerah-daerah tersebut untuk berlomba-lomba memajukan daerahnya masing-masing dengan mengupayakan pembangunan semaksimal mungkin dengan lahan yang sangat terbatas. Oleh sebab itu tidak jarang juga pembangunan tersebut memicu pro dan kontra dari masyarakat sekitar.  Tentu saja pembangunan yang menguntungkan masyarakat akan menimbulkan pro dan sebaliknya jika pembangunan ini merugikan atau membuat masyarakat tidak nyaman maka pembangunan tersebut pasti menimbulkan kontra di masyarakat. Banyak pembangunan yang dibuat dan  dimaksudkan untuk memajukan daerahnya  dan memajukan masyarakat malah justru menimbulkan paradigma berbeda di masyarakat itu sendiri. ini terjadi karena sudah banyak hal semacam itu terjadi di Indonesia, maka tugas untuk pemerintah setempat adalah memberlakukan sebagai mana pembangunan itu dibuat sesuai dengan fungsi dan tujuan yang telah direncanakan sesuai dengan rancangan awal . Dan sekarang sudah banyak sekali pembangunan yang dibuat tetapi malah terbengkalai begitu saja, bangunan yang dulu ditujukan untuk difungsikan kembali  malah menjadi bangunan tua yang tak terawat, kumuh dah terkesan menyeramkan. Oleh karena itu untuk mencegah hal tersebut terjadi sudah selayaknya bagian dari pembanguan tersebut di manfaatkan sebaik-baiknya sehingga nantinya dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Bagi pemerintah seharusnya bersama-sama  mengajak masyarakat untuk merancang pemberdayaan desa wisata Giwang Elok dengan bentuk membudidayakan potensi daerah yang telah ada. Potensial yang terdapat pada kawasan Giwang Elok yaitu adanya kawasan peninggalan dari sejarah Mataran Kuno dibentaran sungai Gajah Wong, kebudayaan yang berada di daerah tersebut, serta kawasan sungai Gajah Wong. Melihat banyaknya kawasan yang tidak dirawat oleh pemerintah, maka warga disepanjang bantaran sungai Gajah Wong ingin menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat wisata, karena daerah tersebut memilik potensi untuk membuat suatu wisata ekoturisme. Lahan yang ada disekitar kawasan Giwang Elok seperti peninggalan kerajaan Mataran Kuno akan dijadikan sebagai cagar budaya, karena pada daerah tersebut terdapat umbul lanang, umbul wadon, umbul rojo, dan umbel nogo (kepala naga) yang dulunya digunakan sebagai pintu gerbang kerajaan Mataram Kuno. Sungai Gajah Wong memiliki arus yang deras dan tidak deras, yang bermula dari mata air yang kecil. Dari situlah kawasan sungai tersebut dapat dijadikan tempat wiasata permainan air. Dalam penataan kawasan desa wisata Giwang Elok pada sungai Gajah Wong ini berpotensi untuk dibuatnya suatu wahana permainan air, contohnya seperti adanya tempat pemancinga,, rafting, kolam renang atau waterpark untuk anak-anak kecil dan wahana-wahana air lainnya. Kawasan sungai Gajah Wong juga rencananya akan dijadikan sebagai pusat kuliner di daerah Giwangan, dengan konsep yang memunculkan makanan tradisional khas dari daerah tersebut. Selain itu untuk memajukan ekonomi warga di kawasan sungai Gajah Wong, tata tempat pada kawasan sungai Gajah Wong  akan dijadikan seperti kawasan tempo dulu. Salah satunya seperti  dengan membuat penginapan yang difasilitasi oleh rumah-rumah warga di sekitar kawasan tersebut bagi pengunjung yang ingin menginap. Selain itu pengunjung juga dapat menyaksikan sejarah dari sungai Gajah Wong melalui pemutaran video yang akan diputar di pendopo Gajah Wong. Desa wisata Giwang Elok juga mempunyai terminal Giwangan sebagai penunjang alat transportasi untuk masyarakat dan juga pasar Giwangan yang merupakan pasar induk yang menjual berbagai kebutuhan dari sayuran hingga buah-buahan  dengan target audiens yaitu semua kalangan, dari kalangan bawah maupun kalangan menengah atas. Jarak dari kedua lokasi tersebut juga cukup dekat dengan kawasan yang akan di revitalisasi, sehingga menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan yang sangatlah strategis. 

Dari penjelasan di atsa maka dapat ditarik kesimpulan bahwasannya Penataan lokasi  di desa wisata Giwang Elok dapat lebih diperhatikan lagi oleh pemerintah daerah, selain itu juga dapat membantu mengupayakan kawasan desa wisata menjadi lebih bermanfaat lagi bagi masyarakat setempat, sehingga penataan lokasi dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan pemerintah. Serta untuk kawasan sungai Gajah Wong ini nantinya dapat dijadikan sebagai daerah wisata untuk membantu dan  memajukan perekonomian di masyarakat sekitar.



DAFTAR PUSTAKA

Asdak, Chay., 1995. Hidrologi & Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada Univ Press,
Yogyakarta.  
Kodoatie, Robert J. Dan Sjarief, Roestam., 2010. Tata Ruang Air. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Rachmawati, Rini. 2009. Dasar-dasar Tata Ruang



Revitalisasi Kawasan Dan Penataan Lingkungan Wisata Pantai Srau Kabupaten Pacitan


Oleh : Rudi Wibowo
Nim : 114090043
Kelas : A
PENDAHULUAN
v  Potensi
            Pantai Srau merupakan pantai yang jarang dikunjungi dan terbilang masih asli. Oleh karena itu, keasriannya masih benar-benar alami. Terdapat tebing-tebing yang tinggi dan banyak tanaman liar khas pantai yang masih terlihat lebat dan alami. Selain itu, banyak sekali pulau-pulau kecil yang tak berpenghuni yang setiap kali dihujam oleh kerasnya ombak, akan menambah keelokan panorama pantai tersebut. Pantai Srau menyimpan pesona alam yang luar biasa dengan pasir putih dan deburan ombak yang sangat menawan. Keindahan pantainya semakin indah dengan banyaknya pulau kecil serta batu yang mengelilinginya.
Foto 1 : Pantai Srau Dengan Pulau pulau Kecilnya
Foto 2 : Di lihat dari samping atas
Foto 3 : Di lihat dari sisi atas

                Pada lokasi wisata ini, yang paling menonjol dan merupakan keunikannya dibandingkan tempat lain adalah bebatuan karang yang mencuat dan banyak membentuk bukit di sekeliling bibir pantai. Untuk masalah perairannya, sangat jernih dengan dominasi warna biru artinya tidak banyak alga dan kedalamannya cukup mengerikan. Untuk kondisi wilayah pasang surutnya berpasir bukan berbatu, serta ombaknya cukup ganas walau kadang tidak terlalu tinggi. Sekitar pantai ini disediakan tempat duduk yang terbuat dari beton dengan posisi menghadap ke pantai dan di lokasi tempat wisata, bisa kita temui beberapa pedagang-pedagang minuman maupun makanan menggelar dagangannya.
v  Masalah
            Keadaan Pantai Srau yang masih alami dan tidak kalah menarik dengan pantai-pantai lainnya dapat dinikmati oleh pengunjung, akan tetapi masih kurangnya fasilitas penunjang yang tidak lengkap seperti area parkir yang kurang tertata untuk kendaraan para pengunjung, toilet yang kurang dan tempat area khusus pelelangan ikan. Serta jalan yang kurang lebar untuk di lewati.
PROSES REVITALISASI
v  Konsep
            Untuk merevitalisasi yang pertama dengan perbaikan dan pelebaran jalan di daerah pantai maupun sepanjang jalan masuk ke tempat wisata pantai. Sebab jalan menuju Pantai Srau sangat sempit dan kurang bagus keadaan aspalnya serta  penerangan yang sedikit pada malam hari, harus menambah lampu-lampu untuk penerangan. Ini dilakukan karena agar para pengunjung khususnya dari luar daerah bisa nyaman dalam perjalanan masuk ke jalan tempat wisata Pantai Srau. Karena dengan adanya pola jalan yang baik maka penataan bidang tanah dan bangunan akan mengikuti menjadi baik. Selain itu, pada permukiman nelayan harus dilakukan upaya penataan dan perbaikan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kawasan, serta mencerminkan kerapian sehingga dapat dimanfaatkan secara komersial untuk menarik pengunjung. Kemudian dalam penataan parkir, harus di buat yang lebih baik dan tertata rapi mengingat untuk saat ini tempat yang ada masih kurang bagus, kurang lebar dan kurang rapi. Dengan area parkir di yang di perlebar, di tata dengan baik dan rapi dan juga di modifikasi  dengan ditambahi atau ditanami beberapa pohon atau tanaman yang bisa memperindah dan mempercantik area parkir tersebut. Memperbaikin dan menambah fasilitas sangat perlu dilakukan, seperti merenovasi masjid, menyediakan tempat sampah, menambah jumlah toilet, dan lain-lain. Dengan demikian kawasan Pantai Srau ini dapat menjadi kawasan yang lebih menarik. Untuk mencapai semua itu, perlu adanya kerjasama antara masyarakat dan pemerintah. Penataan yang terakir untuk tetap menambah kelestarian Pantai Srau dengan membuat Taman Hijau agar pantai kelihatan lebih indah dan sejuk. Taman hijaun ini bisa di gunakan pengunjung untuk tempat bersantai santai atau duduk berteduh sambil melihat pemandangan ombak pantai yang indah. Ditambah H  ditanami  jenis seperti tanaman bakau yang dapat berfungsi untuk mencegah abrasi (erosi pantai), serta menjadi pemandangan alami.
v  Teori
            Merubah dan memanfaatkan keindahan bentuk fisik kawasan pariwisata Pantai Srau  adalah upaya untuk menarik jumlah wisatawan agar lebih banyak dan menambah ekonomi warga sekitar. Akan tetapi dalam perkembangan suatu kawasan pariwisata seringkali mengabaikan kondisi fisik lingkungan sehingga pada akhirnya harus menanggung beban akibat perubahan kawasan itu sendiri. Padahal pariwisata sebagai kegiatan ekonomi dapat dikembangkan hanya dalam beberapa keterbatasan, sehingga memberikan keseimbangan yang harus tetap dipelihara di antara kenampakan alami. Maka dari itu perlu adanya cara yang di gunakan untuk merubah dan memanfaatkan dalam pengembangan kawasan Pantai Srau dilakukan dengan revitalisasi dan penataan kawasan, dengan cara pelestarian lingkungan maupun penataan kembali. Cara ini di pilih didasarkan pada kondisi kawasan dimana terdapat area yang bisa dimanfaatkan dan wilayah pantai merupakan daerah yang sangat intensif dimanfaatkan untuk kegiatan manusia, seperti sebagai kawasan pusat pemerintahan, permukiman, industri, pelabuhan, pertambakan, pertanian/perikanan, pariwisata, dan sebagainya. ( Buku Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan.Universitas Gajah Mada: Yogyakarta. Buku Perencanaan dan Pengembangan Wilayah ).
v  Pendekatan
            Proses pendekatan yang dilakukan adalah ke pemerintah yang pertama karena walau bagaimanapun pemerintahlah yang mengijinkan dalam kegiatan ini, karena tempat wisata tersebut adalah milik pemerintah daerah dengan menawarkan konsep dan cara cara yang dimiliki. Kemudian tentunya ke masyarakat setempat dan pengelola, dengan pendekatan secara sosial dan berkelanjutan sebab dalam pelebaran jalan perlu tanah warga yang harus di pakai untuk pelebaran di tentunya di berikan ganti rugi.

v  Strategi Penanganan
            Strategi penanganan yang di pakai adalah dengan terus menerus, berkelanjutan dan perlahan lahan terhadap pemerintah maupun masyarakat, apalagi terhadap masayarat karena perlu kesabaran untuk menghadapi masyarat yang tidak sedikit. Harus benar - benar paham dengan konsep yang di tawarkan dengan tujuan yang baik dan memang untuk mensejahterahkan masyarakat juga.
REKOMENDASI

            Yang harus di revitalisasi adalah perbaikan dan penambahan fasilitas, penerangan yang bagus, membuat dan merapikan/menata tempat parkir, membuat lahan untuk pedagang secara rapi, membuat taman hijau di daerah pantai serta perbaikan pelebaran jalan menuju tempat wisata. Dengan cara pendekatan terhadap pemerintah yang utama dan kepada masayarakat sekitar, secara berkelanjutan dan bertahap. Pengelolaan kawasan revitalisasi bertujuan merapikan, memperindah dan supaya tempat tersebut lebih banyak di datangi para pengunjung dan menambah tingkat ekonomi masyarakat setempat. Kemudian keberadaan budaya masyarakat juga harus diperhatikan dan dipadukan dengan pengelolaan lingkungan, didukung dengan kesadaran masyarakat untuk tetap melindungi/mempertahankan keutuhan fisik kawasan Pantai Srau.
           
DAFTAR PUSTAKA
Mitchell, Bruce. Setiawan, B. Rahmi, Hadi, Dwita. 2007. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan.Universitas Gajah Mada: Yogyakarta.
Rustiadi, Ernan, dkk. 2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Yayasan Pustaka Obor : Jakarta.



Kamis, 02 Januari 2014

Benteng Pendem Cilacap

M. Prasetya Adhi Pamungkas 114100015
Pada masa sekarang benteng-benteng merupakan sejarah yang harus di lestarikan. Keberadaan benteng ini merupakan buatan dari para penjajah yang mejajah indonesia. Banyak benteng yang berada di indonesia yang belum di temukan, seperti benteng pendem yang terletak di kota cilacap propinsi jawa tengah. Benteng Pendem dahulunya merupakan markas pertahanan tentara Belanda di Cilacap, Jawa Tengah yang didesain oleh arsitek Belanda. Benteng ini difungsikan untuk menahan serangan yang datang dari arah laut bersama dengan Benteng Karang Bolong, Benteng Klingker, dan Benteng Cepiring. Benteng Pendem difungsikan hingga tahun 1942. Ketika perang melawan Pasukan Jepang, benteng ini berhasil dikuasai Jepang. Tahun 1941, Jepang meninggalkan benteng ini karena kota Hiroshima dan Nagasaki di bom oleh sekutu; sehingga, benteng ini diambil alih oleh TNI Banteng Loreng Kesatuan Jawa Tengah. Dalam penguasaan TNI, benteng ini digunakan para pejuang kemerdekaan berlatih perang dan pendaratan laut.
Description: http://mantugaul.files.wordpress.com/2012/12/cilacapwp00064.jpg?w=700&h=394
gambar 1.1. Pintu masuk kawasan benteng pendem
Bangunan benteng pendem terdiri dari beberapa ruang yang masih kokoh hingga kini. Namun, sejak awal ditemukan, ruangan dalam benteng belum sepenuhnya diketahui. Ruangan dalam benteng yang umum diketahui terdiri dari barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, klinik pengobatan, gudang senjata, gudang mesiu, ruang penjara, dapur, ruang perwira, dan ruang peluru. Ada pula yang menyatakan bahwa dalam benteng tersebut terdapat terowongan menuju benteng-benteng lain dan sejumlah gua di pulau Nusakambangan. Namun, hingga kini hal itu belum sepenuhnya terbukti.
Benteng Pendem letaknya yang bersebelahan persis dengan Teluk Penyu, Benteng yang dibangun oleh Belanda antara tahun 1861-1879 M ini memilki luas asli 10.5 hektare. Namun ternyata sejumlah 4 hektare diambil oleh pertamina untuk pembangunan salah satu fasilitasnya didaerah tersebut. Benteng ini sempet terpendam tanah beberapa waktu lamanya, sebelum akhirnya ditemukan pada tahun 1986 dan mulai digali pada tahun 1987. Semenjak itu benteng ini dibuka untuk para pengunjung Description: H:\PESONA INDONESIA  PESONA WISATA BENTENG PENDEM CILACAP_files\benteng+pendem+cilacap.jpgdan para peneliti yang ingin berkunjung ke benteng ini.
Gambar 1.2. Ruang Barak
Mengembangkan dan memanfaatkan keindahan bentuk fisik kawasan pariwisata Benteng Pendem  adalah upaya untuk menarik jumlah jumlah pengujung. Akan tetapi dalam perkembangan suatu kawasan pariwisata seringkali mengabaikan kondisi fisik lingkungan, flora-fauna dan lainnya, sehingga pada akhirnya harus menanggung beban akibat perubahan kawasan itu sendiri. Padahal pariwisata sebagai kegiatan ekonomi dapat dikembangkan hanya dalam beberapa keterbatasan, sehingga memberikan keseimbangan yang harus tetap dipelihara di antara kenampakan alami lingkungan geografi (Jerzy Kozlowski, 1997:120).
Pemilihan strategi ini didasarkan pada kondisi kawasan dimana terdapat area yang kumuh (slum area). Dan wilayah pantai merupakan daerah yang sangat intensif dimanfaatkan untuk kegiatan manusia, seperti sebagai kawasan pusat pemerintahan, permukiman, industri, pelabuhan, pertambakan, pertanian/perikanan, pariwisata, dan sebagainya Karena dengan adanya pola jalan yang baik maka penataan bidang tanah dan bangunan akan mengikuti menjadi baik (Mulyono Sadyohutomo, 2009:141 (Bambang Triatmodjo, 2008:3)


DAFTAR PUSTAKA
Rustiadi, Ernan, dkk. 2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Yayasan Pustaka Obor : Jakarta.
Sadyohutomo, Mulyono. 2009. Manajemen Kota dan Wilayah.  Bumi Aksara : Jakarta.
Kozlowski, Jerzy. 1997. Pendekatan Ambang Batas dalam Perencanaan Kota, Wilayah dan Lingkungan. UI-Press : Jakarta.
http://www.humascilacap.info/v1/index.php di akses tanggal 20 september 2013

M. Prasetya Adhi Pamungkas 114100015